
Janus masih saja tak menyangka dengan ucapan kakeknya yang menyebut bahwa Janus adalah pewaris dari sekolah tempatnya mengajar. Ia pun menyimpulkan bahwa sekolah tempatnya mengajar itu berada di bawah naungan perusahaan yang di kelola keluarganya secara turun menurun, yaitu STAR.COP.
Sementara Astrid, ia tampak heran dengan ibunya yang tak hadir di sekolah, padahal ia sendiri sudah memberitahunya tadi pagi lewat pesan di ponselnya. Saat perjalanan pulangnya Astrid kembali menghubungi ibunya lewat pesan, mengenai ibunya yang tak hadir itu.
"Tring...
Dua menit ia mengirimkan pesan, suara dering pesan di ponselnya berbunyi. Astrid pun segera mengecek pesan tersebut. Saat ia mengecek pesan, Astrid kini tahu bahwa alasan ibunya tidak hadir itu karena di minta oleh kakek mertua untuk tak menghadiri sidang anak dan menantunya. Karena sudah tahu alasannya, Astrid pun tak lagi merasa penasaran.
Selama perjalanan pulangnya, baik Janus maupun Astrid keduanya tampak canggung. Karena kemarin, seharian Astrid yang tengah kesal terhadap masalahnya sudah mengacuhkan suaminya. Sementara Janus masih saja menyalahkan diri atas masalah yang tengah terjadi. Oleh sebab itu keduanya tampak merasa bersalah.
Bahkan setelah pulang pun keduanya masih diam membisu. Mereka tampak kebingungan untuk memulai suatu obrolan.
Tiap kali keduanya akan memulai berbicara, kata-kata yang akan keluar dari mulut malah tenggelam seketika akibat rasa canggung dari keduanya.
Seusai makan malam, Janus dan Astrid beranjak ke ruang tengah. Keduanya duduk bersebelahan di satu kursi yang sama. Televisi di nyalakan Astrid, keduanya menonton sebuah acara di televisi tersebut. Namun walaupun tv menyala, Astrid dan Janus tak bisa fokus menonton. Keduanya tampak terlihat gugup. Berulang kali Janus menghela nafasnya, ia sangat ingin berucap maaf kepada istrinya. Tapi kata maaf yang akan di lontarkannya selalu saja tenggelam.
Janus menarik panjang nafasnya lalu menghebuskanya dengan cepat. Ia pun mulai meyakinkan diri untuk segera meminta maaf kepada istrinya.
"Maaf," ucap Janus, namun tiba-tiba ucapan tersebut juga di ucapkan oleh Astrid. Oleh sebab itu mereka serentak mengucapkan kata maaf.
"Kenapa kamu meminta maaf. Aku rasa tidak ada yang perlu kamu sesali," ucap Janus menatap Astrid.
"Ada yang aku sesali. Aku sangat minta maaf karena kemarin aku kesal dan tak ingin berbicara denganmu. Tapi aku bukan kesal karena kamu, aku hanya kesal sama orang-orang yang sudah meledeku di sekolah." Astrid kemudian mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. "Suer deh, aku beneran kesal sama orang-orang yang sudah meledeku. Jadi kamu jangan marah sama aku ya."
__ADS_1
Janus meraih tangan Astrid lalu menggenggam erat tangan mungil milik istrinya itu. "Jika kamu kesal padaku, itu wajar. Karena jika saja waktu itu aku tidak memaksamu untuk menikah, masalah ini tidak akan pernah terjadi. Kamu mungkin akan hidup tenang tanpa cemoohan dari orang-orang," ucapnya menatap sendu wajah istrinya.
Astrid memegang pipi sebelah kanan Janus lalu mengelusnya dengan ibu jari. "Aku tak akan kesal kepadamu hanya karena masalah ini. Aku sangat bahagia karena kamu merupakan suamiku. Dan jika aku marah dan kesal, itu hanya tertuju kepada orang yang sudah menyebarkan foto pernikahan kita. Karena dialah yang menyebabkan aku di ledek oleh orang-orang di sekolah."
"Tapi, karena gara-gara aku menikahimu, kamu selamanya akan di cap sebagai murid yang sudah menikah sebelum lulus sekolah. Jika saja aku tak memaksamu untuk menikah denganku, atau jika saja aku meminta kakek untuk menikahimu setelah lulus sekolah. Masalah ini tidak akan pernah terjadi," ucap Janus menundukan kepalanya.
"Kamu tidak perlu menyesal. Bukankah alasan kamu menikah denganku itu, untuk membahagiakan kakekmu yang umurnya sudah tidak akan lama lagi. Jika kamu menikahiku setelah aku lulus, apa kakek benar-benar akan melihat kita menikah. Kita tidak akan tahu seberapa lama ia akan bertahan. Jadi, kamu tidak perlu menyesalinya. Karena aku sangat bahagia dan bersyukur bisa menikah dengan suami sebaik dirimu."
"Bernakah kamu bahagia menikah denganku?" tanya Janus.
Astrid tersenyum menatap janus, lalu dengan cepat ia mengecup bibir suaminya tersebut.
"Iya aku bahagia dan sangat bersyukur bisa menikah dengan pria setampan dirimu." Astrid kemudian terburu-buru pergi ke kamar.
"Hei tunggu! sudah mengecupku tidak bertanggung jawab," ucap Janus tersenyum sembari tersipu malu.
"Kenapa menutupi wajahmu dengan selimut?" tanya Janus tersenyum.
"Aku sangat malu," jawab Astrid yang masih menutupi wajahnya dengan selimut.
"Kenapa harus malu, bukankah kita sudah sering melakukannya," ucap Janus yang seketika tertawa kecil atas sikap polos dari istrinya itu.
"Pokoknya aku malu. Jangan mengajakku berbicara! aku sangat malu."
__ADS_1
"Kamu sudah tiba-tiba mengecupku tidak bertanggung jawab. Jika kamu tidak membuka selimutnya, aku bakal marah dan akan tidur di luar," ancam Janus.
Spontan Astripun langsung saja membuka kain yang menutupi wajahnya tersebut. "Memangnya aku harus bertanggung jawab apa?" tanya Astrid panik.
Janus tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke arah wajah Astrid. Lalu dengan cepat ia menempelkan bibirnya di bibir mungil milik istrinya tersebut. Sontak Astrid pun terkejut, raut wajahnya memerah saat suaminya mulai melakukan pergerakan bibir. Astrid memang tersipu malu dengan Janus yang tiba-tiba menciumnya. Tapi ia sangat menikmati pergerakan dari bibir yang di lakukan suamianya itu. Hingga ia pun menutup kedua matanya dan mengikuti alur dari pergerakan bibir suaminya.
**
Janus hanya mampu bertahan empat puluh detik untuk mencium bibir mungil dari istrinya itu. Ia menatap wajah istrinya dengan nafas yang ngos-ngosan karena di tahannya selama berciuman. Begitu pun dengan Astrid yang sama ngos-ngosannya dengan Janus.
"Sepertinya aku merasa tidak cukup. Kita perlu melakukan lebih dari ini," ucap Janus tersenyum manis menatap Astrid.
"Maksud kamu, melakukan lebih dari ini itu apa?" tanya Astrid kebingungan.
Janus membelai wajah Astrid dari kening hingga ke pipi. "Bukankah kita belum sempat melakukan malam pertama."
Sontak Astrid syok atas ucapan suaminya tersebut. Spontan Astrid pun menyilangkan kedua lengannya di dada. "Aku tidak mau melakukannya. Aku belum lulus sekolah, bahkan aku juga belum menyelesaikan ujian. Bagaimana jika habis kita melakukannya aku hamil," ucapnya bergertar ketakutan.
"Hm, ujianmu kan tinggal dua hari lagi. Terus kita kan pernah di kasih mamah Maya alat kontrasepsi tuh. Bagaimana jika aku menggunakannya sekarang," ucap Janus tersenyum menggoda.
"Tidak...tidak. Aku pernah baca di internet kalau alat kontrasepsi itu tidak menjamin keamanan. Walau aku minum pil kb dan kamu memakai alat itu, bisa saja aku hamil."
"Setelah melakukannya, kamu tidak akan langsung hamil besok ko. Jadi gimana mau ga?" goda Janus.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau. Kita harus melakukannya setelah aku lulus dan harus di tempat spesial. Masa malam pertama kita di apartemen sih. Kita kan belum sempat bulan madu," tegas Astrid.
"Iya sih," Janus menghela nafas. "Aku akan bersabar menunggunya," lontar Janus yang kemudian ikut berbaring di samping Astrid.