
Astrid sangat gelisah sejak datangnya Vega dan Bintang ke gedung apartemen.Terlebih lagi mereka datang hanya untuk bertanya tentang status Astrid yang tinggal bersama Janus. Astrid khawatir bila pernikahan yang telah rapat di sembunyikan akan di ketahui Vega dan Bintang. Terlebih lagi Vega terkenal sebagai pembully di sekolah. Ia pasti akan mencari tahu secara detail tentang kelemahan Astrid, hanya untuk sekedar mengusiknya. Jika sampai Vega mengetahui tentang status Astrid sebagai murid yang telah menikah, Vega pasti akan menyebar luaskannya. Dan kemungkinan Astrid akan menjadi bahan tertawa satu sekolah. Vega dan Bintang sudah membuat Astrid gelisah setengah mati.
Astrid termenung sendiri di ruang tengah sembari menunggu Janus yang sudah pukul 22.30 belum juga pulang. Astrid tak bisa berhenti menghela nafasnya. Pikirannya kacau memikirkan tentang apa yang akan di hadapinya di sekolah. Tiap menit ia menatap Jam yang menempel dinding, menunggu suaminya yang juga belum pulang.
Tak henti-hentinya ia merasa gelisah, hingga membuatnya tak bisa keluar dari lamunannya. Sampai pukul 23.00 Janus pulang, Astrid masih saja termenung dalam lamunannya. Hingga mmbuatnya tak sadar, bahwa suami yang sedari tadi di tunggunya telah kembali ke apartemen.
"Trid kenapa belum tidur?" tanya Janus, namun Astrid yang masih berdiam diri dalam lamanunannya tak menyahut suaminya itu.
Mata Astrid tertuju ke arah depan dengan tatapan kosongnya. Ia berdiam mematung sembari mengigit kuku jarinya.
Kembali lagi Janus memanggil sembari menepuk pundak perempuan yang tengah di sibukan dengan lamunannya itu. "Astrid."
Sontak Astrid pun kaget saat pundaknya di tepuk oleh Janus. "Iya kak," sahutnya dengan mata yang melebar.
Janus pun tertawa kecil menatap istrinya yang kaget setelah di tepuknya. "Kamu melamun, sampai-sampai suamimu datang dan memanggil tidak kamu sadari. Seharusnya kamu tidur ini sudah hampir tengah malam."
"Aku belum tidur karena menunggumu pulang," ucap Astrid.
"Kamu tak perlu menungguku, seharusnya kamu tidur saja duluan."
"Mana bisa aku tidur kalau kamu belum pulang," ucap Astrid dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
Janus tersenyum menatap wajah istrinya yang tengah di tekuk kesal itu. Ia mendekatkan diri ke tempat istrinya duduk, lalu dengan perlahan ia mengecup kening istrinya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu. Soalnya tadi aku sudah lama tidak kumpul dengan teman-teman SMA, hingga membuatku lupa waktu. Jangan marah ya, mending kita tidur sekarang yu." Janus langsung saja memangku tubuh Astrid dan dengan langkah cepat ia membawanya ke kamar. Lalu segera membaringkannya di atas tempat tidur.
Janus menarik selimut lalu menyelimuti Astrid dan dirinya dalam satu selimut.
"Selamat tidur Astrid," ucap Janus memejamkan matanya sembari mendekap erat tubuh Astrid.
"Kenapa kamu tidur. Bukankah dari tadi pagi kamu belum mandi," ucap Astrid.
__ADS_1
"Besok pagi saja aku mandinya, aku sudah mengantuk," ucap Janus tanpa membuka matanya.
Janus tertidur lelap, sementara Astrid yang masih saja di landa gelisah, tak sedikit pun ia merasa mengantuk. Tubuhnya terus berpindah posisi dari sisi kanan dan sisi kiri. Ia sama sekali tak bisa terlelap tidur saat pikiran tengah kacau.
Sudah hampir jam satu pagi Astrid masih belum juga tertidur. Tiap kali ia berpindah posisi pasti akan menimbulkan suara gesekan dari selimut dan ranjangnya. Hingga tiba-tiba Janus terbangun akibat suara gesekan yang timbulkan oleh istrinya itu.
"Kenapa kamu belum tidur, apa ada hal yang kamu pikirkan hingga membuatmu tak bisa tidur?" tanya Janus dengan mata yang setengah terbuka.
"Aku sangat mencemaskan tentang hubungan kita," jawab Astrid.
"Mengapa kamu mencemaskan hubungan kita. Bukankah hubungan kita baik-baik saja," ucap Janus heran.
"Aku takut hubungan kita akan di sebar luaskan oleh Bintang dan Vega. Tadi saat di pantai Vega dan Bintang mencurigai kita. Soalnya mereka melihat mobil kamu keluar dari vila. Karena mereka tahu sebelumnya kita memasuki vila itu," ucap Astrid gelisah.
"Kenapa kamu bisa tahu kalau mereka mencurigai kita?" tanya kembali Janus.
"Mereka datang ke pos satpam dan bertanya tentang status kita yang tinggal bersama. Mereka bahkan juga bertanya pada Titan. Tapi baik Titan atau satpam keduanya menjawab alasan kita tinggal bersama karena aku sepupunya kamu," jawab Astrid.
"Iya sih... tapi," ucap Astrid yang seketika terpotong karena Janus menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Stttt, percaya saja bahwa hubungan kita tak akan pernah terungkap. Terlebih lagi orang-orang yang mengetahui hubungan kita tak akan mau menyebar luaskan tentang pernikahan kita." Janus kembali mendekap erat tubuh Astrid. "Lebih baik kamu tidur saja yang nyenyak. Jangan pikirkan tentang manusia-manusia laknat itu."
...****************...
Esok harinya saat Astrid tengah beristirahat di kantin, tiba-tiba Vega bersama teman-temannya datang sembari menumpahkan air di rok Astrid.
"Upss, basah ya." Di sekolah banyak sekali yang membicarakan perubahan penampilanmu. Oh ya, Jangan-jangan penampilanmu berubah karena hasil dari menggoda pak Janus. Soalnya aku ragu kalau kamu sepupunya pak Janus," ucap Vega dengan suara keras.
Sontak Hilda pun langsung saja mengebrak meja dengan keras.
"Brak...
__ADS_1
"Dasar tak tahu malu. Memangnya kamu tahu apa tentang Astrid. Kamu iri karena Astrid sekarang jauh lebih cantik di bandingkan ****** sepertimu," ucap Hilda dengan lantang.
Spontan Vega pun langsung saja mendorong Hilda. "Apa maksudmu, aku iri. Mana mungkin aku iri sama gadis kampungan seperti dia. Temanmu yang harusnya kamu sebut ****** karena dia sudah menggoda guru di sekolah ini."
Tiba-tiba saja Janus datang menghampiri tempat istrinya berada.
"Siapa yang kamu sebut ****** yang menggoda gurunya," ucap Janus meninggikan suaranya.
Vega menunjuk Astrid. "Dia."
"Dia tak mungkin menggoda saya karena dia adalah sepupu saya. Apa perlu saya membawa keluarga saya dan keluarga Astrid, untuk membuktikan bahwa saya dan Astrid saudara sepupu," ucap Janus bernada marah.
"Kemarin di pantai yang wajahnya di tutup dengan selimut pak Janus kan. Dan Astrid menyebut bahwa pria yang bersamanya adalah tunangannya," ucap Vega.
"Iya itu saya. Astrid terpaksa mengakui saya sebagai tunangannya, karena kalian terus menyebut Astrid tidak bisa melupakan Bintang. Dan perlu saya tegaskan Astrid tidak menyukai Bintang, karena Astrid sudah bertunangan," tegas Janus.
"Lalu kemarin bapak ngapain bersama Astrid di pantai?" tanya Vega.
"Kemarin saya membantu Astrid mencarikan tempat untuk pesta pertunagannya. Karena tunangannya tidak bisa menemaninya, jadi dia meminta saya untuk membantunya." Janus lalu menatap ke arah Astrid. "Benar kan Astrid."
Astrid mengangguk. "Iya benar. Karena pesta pertunanganku belum di gelar, jadi aku harus mencari tempat untuk pesta pertunangan yang akan di gelar setelah aku lulus sekolah," ucapnya bernada gugup.
"Oh ya, apa kamu ingin bukti bahwa saya dan Astrid sepupuan. Sepulang sekolah, kamu ikut saya ke rumah orang tua saya," ucap Janus.
Seketika Vega bersama teman-temannya pun gelisah. Kebohongan Janus mampu membuat Vega percaya. Vega yang sudah berbicara buruk terhadap guru matematikannya itu, merasa ketakutan atas tindakan yang di lakukannya tersebut.
"Tidak pak, saya sudah percaya," ucap Vega sembari menundukan kepalanya.
"Kalau begitu cepatlah minta maaf terhadap Astrid. Karena selain kamu berbicara buruk terhadapnya, kamu juga sudah menumpahi air ke roknya," ucap Janus dengan ekspresi datar.
"I...iya," ucap Vega gugup. Lalu melangkah mendekati Astrid. "Maaf," ucapnya dengan suara rendah.
__ADS_1