
Setelah di usir Janus, Yeni dan pak Andy akhirnya pergi tak berkutik. Janus amat kesal atas tingkah keduanya yang tak tahu malu di depan para pekerja di restorannya.
Janus beranjak pergi ke dapur dengan raut wajah yang di tekuk kesal. Bukan hanya kesal saja yang di rasa Janus saat ini, ia juga sangat marah. Terutama kepada pak Andy yang masih saja bersi kukuh membujuk Janus untuk mau bekerja di perusahaan. Jika saja pak Andy tidak datang ke restorannya, mungkin Yeni tak akan membuat keributan yang membuat Janus hilang muka di depan pekerjanya.
Astrid sampai merasa khawatir terhadap Janus, setelah keributan yang di timbulkan pak Andy dan mertuanya itu. Ia pun beranjak pergi ke dapur untuk menemui suaminya.
Astrid menghampiri, lalu meraih tangan Janus. "Jangan terlalu di pikirkan, aku tahu kamu pasti masih kesal dengan mereka."
"Jika saja pak Andy tidak datang, mungkin saja ibu tidak akan membuat keributan yang membuatku malu di depan para pekerja," ucap Janus kesal.
Karena rasa kesal di diri Janus tidak mau mereda, Astrid langsung saja memeluk suaminya itu. Ia memeluk sembari mengusap-ngusap punggung suaminya.
"Bukankah mereka sudah pergi, kesalmu seharusnya sudah reda."
Pelukan Astrid mampu membuat Janus sedikit lebih tenang. Pelukannya memang terasa nyaman, tapi kenyamanan itu tak berselang lama, setelah mereka di kejutkan dengan kedatangan Deva di dapur. Karena kedatangan Deva, raut wajah Janus dan Astrid sampai di buat memerah.
"Maaf saya mengganggu, tapi restoran sudah di buka dan pengunjung sudah banyak yang berdatangan."
"Iya tidak apa-apa, memang sudah saatnya kita bekerja," ucap Astrid bernada gugup. Lalu terburu-buru beranjak pergi dari dapur.
***
Setelah beberapa jam restoran di buka, restoran pun tutup. Semua pekerja termasuk Janus dan Astrid beranjak pulang.
Namun, saat tiba di rumah, Janus dan Astrid di buat heran dengan mobil sedan hitam yang terpakir di depan rumahnya.
__ADS_1
"Bukankah itu mobil pak Andy ya kak," ucap Astrid sembari menatap plat nomer di mobil tersebut.
Janus pun bergegas memarkirkan mobilnya ke garasi, setelah itu ia pun terburu-buru memasuki rumah dengan langkah yang di ikuti oleh Astrid. Dan benar saja saat Janus memasuki rumah, pak Andy sedang duduk di ruang tamu.
"Bu Mira, bu Eli," teriak Janus memanggil dua pembantu yang beberapa hari lalu di pekerjakan Janus di rumahnya.
Dua pembantunya datang menghampiri.
"Ada apa tuan memanggil kami?" Tanya Eli.
"Siapa yang mengijinkan dia masuk ke rumah?" tanya Janus di tekuk kesal.
"Saya tuan, tadi bapak ini ingin menemui tuan Janus, jadi saya biarkan masuk untuk menunggu tuan Janus pulang," jawab Mira
Janus menghela nafasnya. "Ingat ya! jika saya tidak ada di rumah, jangan biarkan bapak ini masuk ke rumah," ucap Janus sembari menunjuk pak Andy. "Dan untuk pak Andy, saya sudah katakan dengan jelas, jika bapak menemui saya hanya ingin membujuk saya bekerja di perusahaan, lebih baik bapak pergi sekarang dari rumah saya."
"Saya sudah tahu tentang masalah Bayu yang mengonsumsi narkoba. Karena sekarang Bayu tidak lagi bekerja di perusahaan, bukan berarti saya tergiur untuk masuk perusaahan."
"Bukan itu yang saya maksud. Sebagai anak dari pak Adit dan cucu dari pak Baskara yang asli, anda harus mau bekerja di perusahaan, karena anda merupakan seorang penerus sah setelah pak Adit," tegas pak Andy.
Janus mengerutkan kedua alisnya. "Bukankah Bayu juga merupakan anak ayah saya, lagi pula dari pada saya, dia jauh lebih berhak menjadi penerus."
Pak Andy menggelengkan kepalanya. "Anda salah, tuan Bayu tidak berhak menjadi penerus, karena dia bukanlah anak kandung dari pak Adit."
Janus dan Astrid pun di buat terkejut dengan pernyataan dari pak Andy tersebut. Saking terkejutnya, Astrid sampai menutup mulutnya dengan tangan.
__ADS_1
"Pantas saja bu Yeni sangat gelisah ketika kita memergoki dia dengan pak Bima di restoran, ternyata pak Bima ayahnya kak Bayu," lontar Astrid.
Pak Andy menatap Astrid sembari mengerutkan kedua alisnya. "Pak Bima bukanlah ayah dari tuan Bayu, dia melainkan adik dari mendiang pak Rendy, ayah tuan Bayu yang sebenarnya. Tapi mengapa dia bisa kembali, padahal sepuluh tahun yang lalu pak Baskara sudah memberi uang tiga miliyar untuk menyuruhnya pergi ke luar negeri."
"Mungkin karena kakek sudah meninggal, jadi dia kembali ke Indonesia. Dia bahkan rutin menemui bu Yeni di restoran. Dan setiap kali mereka bertemu, bu Yeni selalu memberinya amplop coklat tebal."
"Dia pasti memoroti bu Yeni untuk mengancamnya, karena dia tahu bahwa pak Adit belum mengetahui, bahwa Bayu bukanlah anaknya," ucap pak Andy.
"Tungu-tunggu, apa maksud dari ucapan pak Andy? kenapa ayah tidak mengetahuinya, sedangkan anda dan kakek tahu itu," potong Janus heran.
"Sebenarnya pak Baskara sengaja menyembunyikannya, karena pak Baskara sudah menganggap Bayu seperti cucunya sendiri. Bahkan bu Yeni pun tidak tahu bahwa pak Baskara sudah menyelidiki rahasianya, tentang dia yang dulu pernah berselingkuh dengan mendiang pak Rendy," terang Andy.
"Lalu mengapa kakek bisa mencurigai Bayu bukanlah anak dari ayahku?" tanya kembali Janus yang tidak merasa puas dengan keterangan pak Andy tersebut."
"Itu berawal dari bu Yeni yang sering kepergok menemui Pak Bima oleh pak Baskara. Oleh sebab itu, pak Baskara menyelidikinya, ia pun sampai melakukan tes DNA tuan Bayu dengan pak Adit. Ketika sudah mengetahuinya, pak Baskara tidak pernah menceritakannya kepada siapapun, terutama kepada tuan Bayu yang sudah ia anggap seperti cucunya sendiri."
Janus cukup syok setelah mendengar cerita dari pak Andy. Bahkan Janus sampai mengingat kembali ketika Bayu dan Yeni selalu mengatainya sebagai anak dari wanita simpanan, nyatanya mereka tak tahu malu yang memiliki status lebih rendahan dari dirinya. Biarpun Janus sudah mengetahui yang sebenarnya, namun, ia tetap saja tak berniat mau bekerja di perusahaan yang sudah turun-temurun di kelola oleh keluarganya.
"Biarpun sekarang saya sudah tahu status Bayu yang sebenarnya, saya tetap tidak mau bekerja di perusahaan," lontar Janus.
"Mengapa tuan Janus masih menolak, tuan Janus adalah orang yang paling berhak meneruskan perusahaan," ucap pak Andy heran.
"Penolakan saya adalah sebagai bentuk balasan untuk perlakuan ayah terhadap saya. Bertahun-tahun dia sudah mengabaikan dan tidak mau peduli terhadap saya. Walaupun saya tidak pernah menceritakan perlakuan jahat ibu dan Bayu, setidaknya dia tahu saat itu saya sedang terluka. Dia melihat saya terluka, tapi dia malah mengabaikan saya," terang Janus dengan raut wajahnya muram.
"Tapi bukan berarti anda menolak permintaan terakhir dari pak Baskara," lontar Andy.
__ADS_1
"Maaf, walau itu permintaan dari kakek, saya akan tetap menolak," ucap Janus sembari melangkahkan kakinya.