Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
126. Akhir Dari segalanya


__ADS_3

Setelah terakhir kali Astrid dan Janus melihat Luna, mereka sudah tak lagi menemuinya. Luna menepati janjinya, ia pergi dari Indonesia ke perancis untuk tinggal bersama ibu dan pamanya. Kini Astrid dan Janus cukup tenang dengan perginya Luna, mereka tak perlu merasa khawatir akan adanya lagi penggangu di kehidupan rumah tangganya.


Astrid juga tak menyangka bahwa dirinya akan kembali bersama Janus. Awalnya Johan sempat menentang, tentang keputusan Astrid yang membatalkan gugatan cerainya. Namun pada akhirnya Johan luluh ketika Astrid terus-menerus membujuknya. Johan memberi restu kembali, tapi ia memberikan sejumlah syarat yang harus di lakukan Janus, bila anaknya itu ingin kembali bersama Janus.


Biarpun syarat terbilang cukup banyak, Janus menirimanya. Karena kembali bersama Astrid adalah hal yang paling penting, walaupun beberapa syarat sangat memberatkan Janus.


Astrid kembali pulang ke rumah setelah sekian lama ia pergi. Rumah tanpak sama tak ada yang berubah sama sekali. Tapi, ia sangat di kejutkan ketika melihat kamarnya yang tampak berantakan. Karena memang kedua pembantunya tak mungkin bisa membereskan kamar utama tanpa seizin Janus.


"Kak Janus," teriak Astrid memanggil.


Dengan cepatnya Janus datang menghampiri Astrid di kamar.


"Iya ada apa?"


Astrid melipat lengan sembari memicingkan mata menatap Janus.


"Apa kamu tak pernah membereskan kamar kita."


Janus menggaruk tengkuknya. " Mana ada waktu aku membereskannya, aku terlalu sibuk."


"Tida ada waktu. Padahal kamu kembali bekerja baru kemarin, tapi pakaian kotormu seperti sudah lama tergeletak. Apa jangan-jangan selama aku pergi, kamu tidak pernah membereskan kamar."


Janus tersenyum yang seakan memang benar apa yang di ucapkan Astrid tersebut.


Astrid menggeleng, lalu segera beranjak membereskannya.


"Kamu tidak perlu melakukannya, biar aku saja. Janus merebut pakaian yang tengah di ambil Astrid.


"Benarkah tak mau di bantu olehku."


"Tentu saja, kamu beristirahatlah di ruang tamu."


"Tapi aku tak berniat istirahat, karena aku akan memasak makan siang untukmu."


"Aku kan sudah bilang, kamu beristirahat saja. Kamu kan lagi hamil, biar bu Mira sama bu Eli yang memasak." Janus meraih tangan Astrid, lalu membawanya duduk di ruang tengah.


Astrid menghela, ia kembali berdiri. "Aku memang hamil, bukan berarti itu di jadikan alasan untukku bermalas-malasan. Lagi pula, jika aku banyak diam malah tidak baik untuk kandunganku."


"Tapi kan, memasak bisa membuatmu cape. Jika kamu terlalu cape, itu juga sama tidak baiknya."


"Kamu tak perlu khawatir berlebihan, memasak tidak akan membuatku kecapean."

__ADS_1


Janus menghela. "Iya terserah, tapi jika kamu cape langsung berhenti dan suruh bu Mira atau bu Eli untuk melakukannya.


Astrid tersenyum. "Hm, baiklah.


Astrid pun beranjak pergi ke dapur untuk memasak. Sementara Janus kembali membereskan kamar.


Setelah Astrid selesai memasak, ia pun segera memanggil Janus untuk datang ke meja makan.


"Kak Janus, aku sudah selesai memasaknya," teriak Astrid memanggil.


Janus datang ke meja makan, ia cukup syok ketika melihat meja makan penuh dengan masakan kesukaannya. Sudah lama Janus tidak makan masakan yang di buatkan Astrid, terlebih lagi semua masakannya merupakan makanan kesukaan Janus. Janus sampai lahap ketika menyantapnya. Bahkan ia pun sampai tak menyisakan sebutir nasi di piringnya.


"Terima kasih untuk makanannya, aku sangat menikmatinya," ucap Janus tersenyum.


"Iya sama-sama. Hm, apa perlu kubuatkan pencuci mulut?" Tanya Astrid.


"Tidak perlu, aku sudah sangat kenyang." Janus lalu meraih tangan Astrid. "Oh ya, aku ingin mengatakan sesuatu padamu."


"Mengatakan apa?"


"Aku ingin melanjutkan pendidikanku di korea. Sembari belajar di sana, aku juga akan mengurus cabang perusahaan yang ada di sana."


"Bulan depan, dan kemungkinan kita akan pindah kesana. Itupun jika kamu setuju kita pindah kesana. Jika kamu tidak mau, aku akan melanjutkan pendidikanku di Indonesia saja."


"Kemanapun kamu pergi aku akan ikut, karena kamu suamiku. Jadi, aku sangat mengijinkan bila kamu ingin kita pindah kesana," ucap Astrid tersenyum.


Dengan girangnya Janus mendekap Astrid. "Terima kasih, aku sangat senang mendengarnya."


**


Bulan depan adalah kepindahan Astrid dan Janus ke negeri gingseng. Karena Astrid berada di Indonesia hanya sebentar lagi, Astrid terlebih dahulu memberitahu orang tuanya. Walaupun Astrid memberitahunya lewat telepon, karena beberapa hari yang lalu orang tua, adik, beserta kakeknya sudah pindah ke turki. Tak hanya itu saja, Astrid juga berniat menghabiskan waktunya bersama teman-temannya sebelum ia pergi ke korea.


Hilda dan Alula cukup syok setelah mendengar Astrid akan pindah ke korea. Mereka sangat bersedih mendengar kabar tersebut. Untuk mengobati kesedihan mereka, seminggu sebelum keberangkatan, Astrid pergi menginap di rumah Hilda bersama Alula. Mereka berbincang cukup menyenangkan, terlebih lagi setelah lulus SMA mereka sudah lama tak berkumpul karena kesibukan masing-masing. Sangat menyenangkan, hingga membuat Astrid merasa enggan bila nanti ia harus pindah ke korea.


"Hm, korea merupakan tempat yang sangat jauh. Bila ingin bertemu denganmu, aku harus mengeluarkan ongkos yang cukup banyak," ucap Hilda.


"Bila rindu kamu bisa menghubungiku lewat video call."


"Hanya lewat video call, itu tak kan cukup untuk mengobati rinduku. Aku sudah terbiasa bertemu denganmu."


"Jika ingin kita bertemu dengan Astrid, maka kita perlu mengumpulkan uang untuk pergi kesana. Dan kita perlu pergi kesana apabila nanti keponakan kita lahir," lontar Alula.

__ADS_1


"Tentu saja kalian harus mengumpulkan uang untuk menengokku bila nanti aku lahiran," ucap Astrid tersenyum.


Alula meraih selimut. "Lebih baik kamu segera tidur, tidak baik untuk kandunganmu bila tidur terlalu larut.


Astrid dan kedua temannya tidur dalam satu ranjang yang sama, walaupun harus berdesak-desakan.


Mereka tertidur sangat nyenyak, lain halnya dengan Astrid, ia sama sekali tak bisa tidur dengan nyenyak. Astrid terlalu memikirkan bagaimana ia nanti bertemu dengan kedua temannya bila ia sudah tinggal di sana. Astrid sama sedihnya dengan mereka.


...****************...


Seminggu setelahnya, Janus dan Astrid pun bersiap untuk pergi ke bandara. Astrid sangat bersedih ketika ia mulai beranjak pergi dari rumahnya. Ia masih tak menyangka bahwa ia akan pindah ke negeri tempat suaminya di lahirkan.


Astrid sangat bersedih karena akan meninggalkan negara tempatnya lahir, tempat di mana ia menaruh banyak kenangan. Dalam hati kecilnya, Astrid memang tak ingin pindah ke korea. Terlebih lagi letaknya cukup jauh dari Indonesia. Biarpun tak mau, Astrid tak bisa menolak bila itu hal terbaik untuk suaminya. Karena memang Janus merupakan penurus perusahaan, suaminya perlu menjenjang pendidikan di tempat yang bagus.


Keberangkatan Astrid dan Janus ke korea di antar oleh semua teman-temannya ke bandara. Sebagai perpisahan terakhir mereka untuk Astrid dan Janus.


Sebelum Astrid dan Janus pergi menaiki pesawat, semua teman-temannya, mengucapkan kata perpisahan. Mereka bersalaman bahkan sampai berpelukan.


Yang terakhir bersalaman adalah Titan, ia cukup bersedih ketika mulai menyentuh tangan Astrid.


"Hati-hati, semoga selamat sampai tujuan. Bila pak Janus menyakitimu, kamu langsung hubungi aku. Karena aku akan langsung pergi kesana untuk menghabisinya.


Janus melepaskan tangan Titan dari tangan Astrid.


"Tidak perlu berlama-lama menyentuh tangan istriku. Dari pada khawatirkan istri orang, lebih baik kamu khawatirkan dirimu sendiri yang sampai saat ini tidak memiliki pasangan. Bukankah Alula juga sama-sama sendiri, kenapa kamu tak mengajaknya berkencan."


Seketika pipi Alula pun memerah. "Mana mungkin aku mau dengannya, dia bukan tipeku."


"Memangnya kamu tipeku, kamu sangat tak pantas bila di jadikan teman kencan," lontar Titan kesal.


Sontak semuanya pun tertawa atas ucapan Titan dan Alula.


"Tidak pantas di jadikan teman kencan, lalu pantasnya dia bersanding di pelaminan bersamamu," sindir Janus.


"Sepertinya keberangkatanmu sebentar lagi, lebih baik kamu segera pergi. Dari pada harus menjodohkan-jodohkanku dengan wanita seperti Alula," ucap Titan yang semakin kesal.


Janus lalu meraih tangan Astrid. "Baiklah aku pergi sekarang.


Janus dan Astrid pun beranjak pergi untuk segera menaiki pesawat.


Astrid dan Janus tak hanya pergi berdua saja, mereka juga membawa kedua asisten rumah tangganya untuk pindah dan mengurus rumah di sana. Karena bila harus mencari asisten rumah tangga lagi, itu akan merepotkan. Karena sesampainya di sana Janus langsung di sibukan dengan pekerjaan dan mengurus pendaftaran di universitas. Tak ada waktu bila harus mencari lagi asisten rumah tangga, biarpun nanti Eli dan Mira di sana tidak bisa berbicara bahasa korea.

__ADS_1


__ADS_2