Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
35. Aku Bukanlah Seorang Suami


__ADS_3

Astrid pergi ke kelasnya sembari menggandeng tangan Bintang. Siapa sangka dengan Astrid berbuat seperti itu, bisa membuat Janus cemburu dan kesal setengah mati. Tangan mengempal, menatapnya dengan penuh amarah, itu yang terjadi pada Janus saat ini.


"Apa ini yang di sebutnya perasaan sesaat. Dengan mudahnya dia melupakan perasaannya terhadapku," gerutu Janus.


Lalu tiba-tiba Titan datang, menghampiri Janus yang tengah berdiri dengan ekspresi kesalnya.


"Apa yang bapa perhatikan sampai kesal begitu?" tanya Titan.


"Bocah tengil itu memegangi tangan pria lain," jawab Janus dengan mata yang masih menatap lurus ke arah Astrid.


Titan kemudian melirik apa yang di tatap Janus dengan begitu serius. "Wah dia benar-benar gila, bisa-bisanya dia diam saja di saat Astrid memegangi tangannya," ucapnya yang juga tiba-tiba merasa kesal.


Janus yang sedari tadi tak mengalihkan padangannya, seketika di buat kaget dengan keberadaan Titan di sebelahnya.


"Sejak kapan kamu di sini?"


"Dari tadi. Kenapa baru sadar kalau aku ada di sini? tanya balik Titan yang keheranan menatap Janus yang nampak kaget itu.


Janus menghiraukan Titan, menggelengkan kepalanya lalu pergi begitu saja tanpa berucap sepatah katapun.


"Harusnya sebagai suami bapak menghentikannya. Apa perlu saya yang menghentikannya," ucap Titan meninggikan suaranya.


Janus panik seketika dengan suara lantang Titan. Ia berbalik menghampiri Titan, lalu segera menyumpal mulutnya dengan telapak tangannya.


"Dasar gila, kenapa kamu berbicara sekeras itu," bisik Janus.


Titan menyingkirkan tangan Janus dari mulutnya. "Maaf keceplosan. Tapi harusnya bapak melarangnya memegangi tangan pria brengsek seperti Bintang."


"Itu bukan urusanku untuk melarangnya. Di dalam kertas perjanjian, Astrid melarangku untuk tidak melarangnya dekat dengan pria manapun ataupun melarangnya berpacaran. Aku tak peduli dengannya, toh pernikahan kita hanya sebatas sandiwara."

__ADS_1


"Benarkah pak Janus tak peduli. Apa bapak benar-benar tidak menaruh hati pada Astrid?"


Janus menelan salivanya, di buat gugup dengan pertanyaan yang di lontarkan Titan padanya. "Tidak, aku tak akan pernah sedikit pun menaruh hati padanya."


"Kalau begitu, apa aku boleh mendekatinya," ucap Titan tersenyum.


"Maksud dari perkataanmu apa?" tanya Janus heran.


Titan tersenyum lalu melangkahkan kakinya. "Sudahlah, orang yang tak seharusnya menaruh hati. Tak perlu tahu dengan apa yang ku ucapkan barusan."


Janus di buat diam membisu dengan apa yang di ucapkan Titan padanya. Hubungan yang di bangun hanya sebatas kepalsuan, kini mulai terasa nyata bagi Janus. Janus tersadar, bahwa ia tak sanggup bila hanya mengangap Astrid hanya sebatas adik baginya. Hatinya bertolak belakang dengan apa yang di pegang teguh selama ini. Tak akan menaruh hati untuk wanita manapun. Itu hanya buaian belaka yang ia pegangnya selama bertahun-tahun.


Pria yang telah berstatus sebagai suami itu, terlalu gengsi untuk mengakui apa yang di rasanya saat ini. Siapa sangka, pria yang berpegang teguh untuk tak jantuh cinta pada wanita manapun, perlahan bisa membuat hatinya yang membeku di buat meleleh. Tembok yang susah payah ia ciptakan kini mulai runtuh.


Janus menarik nafas lalu menghembuskan nafas panjangnya, menyadarkan diri untuk tak terhasut lebih dalam mengenai perasaannya. Kemudian melangkahkan kakinya, berjalan lesu menuju kantor.


...****************...


"Aku dari tadi menunggumu di kantin, rupanya kamu kesini."


"Kenapa kamu harus menunggu Astrid, bukankah hubunganmu dengan Astrid tak sedekat itu," lontar Hilda.


"Hubunganku dengannya baru-baru ini sudah mulai dekat. Dan kemungkinan akan berlanjut kehubungan yang selanjutnya," ucap Bintang memiringkan senyumannya.


Hilda kemudian berbisik ke telinga Astrid. "Trid, jangan pernah memiliki hubungan serius dengan pria manapun, sebelum hubunganmu dengan pak Janus berakhir."


"Sudahlah, bukankah kita kesini untuk membeli beberapa cemilan," ucap Astrid melangkah masuk ke dalam mini market.


Astrid dan kedua temannya memasukan beberapa cemilan ke dalam satu keranjang yang di bawa Alula. Namun, di saat Astrid akan hendak mengambil minuman di showcase, tiba-tiba saja Janus berdiri di sampingnya dan mengambil minuman yang sama dengannya. Astrid masih kesal terhadap Janus, terlebih lagi ucapan Janus tadi pagi terus terlintas di benaknya. Astrid pun meyelesaikan belanjanya, lalu terburu-buru pergi ke meja kasir.

__ADS_1


Bintang yang sedari tadi menunggu Astrid di depan meja kasir, tiba-tiba saja mengeluarkan dompetnya lalu memberikan kartu debit miliknya kepada kasir.


"Belanjaannya biar aku yang bayar."


"Tidak perlu, aku dan teman-temanku punya cukup uang untuk membayar ini semua," ucap Astrid.


"Tidak apa-apa, hari ini aku yang traktir kamu. Sebagai gantinya sepulang sekolah kamu temani aku jalan," ucap Bintang tersenyum.


Janus pun tak ingin kalah saing dari Bintang, ia juga meluarkan kartu debit miliknya.


"Jika ingin memberi seharusnya kamu tak meminta imbalan. Biar saya saja yang bayar."


Seketika Astrid mengambil kartu debit yang di simpan Janus di atas meja kasir, kemudian mengembalikannya kepada Janus. "Tidak perlu repot-repot pak, biar Bintang saja yang bayar."


Kemudian Astrid menatap ke arah Bintang. "Sepulang sekolah aku akan temani kamu jalan."


"Nah gitu dong. Maaf pak, saya bukan meminta imbalan. Walaupun saya tidak membayar belanjaan Astrid, saya akan tetap mengajaknya pergi," ucap Bintang dengan senyum palsunya.


"Oh begitu, semoga nanti sepulang sekolah kalian bisa bersenang-senang," ucap Janus yang juga memancarkan senyuman palsunya.


Astrid menghela nafasnya, ia di buat kesal setengah mati dengan apa yang di lontarkan Janus barusan. Saat semua belanjaannya di kemas, Astrid kemudian terburu-buru pergi keluar dari mini market.


Sembari berjalan Astrid mengeluarkan ponsel miliknya dari saku almamater. Lalu mengirimkan sebuah pesan singkat kepada pria yang jadi suaminya tersebut.


"Aku pasti akan pulang telat jika pergi dengannya, apa tidak apa-apa."


Ia berharap dengan alasan apapun suaminya akan melarangnya untuk pergi dengan Bintang. Namun, balasan Janus tak sesuai dengan apa yang di harapkan Astrid.


"Tidak apa-apa. Sepertinya dia menyukaimu, bukankah ini kesempatanmu untuk bisa menjalin hubungan dengan seorang pria. Hanya hari ini saja aku mengizinkanmu pulang telat, maka bersenang-senanglah dan nikmati masa remajamu."

__ADS_1


Astrid sangat kecewa dengan pesan singkat yang di balas Janus tersebut. Tak hentinya ia menatap layar ponsel, teramat kesal dengan Janus yang membiarkannya pergi dengan pria lain. Ia hanya berharap bahwa Janus akan memberikan sedikit alasan untuk melarangnya pergi, walaupun dengan alasan konyol sekalipun.


Bukannya Janus tak merasa kesal dan kecewa dengan keputusannya. Hanya saja ia merasa tak berhak untuk melarang Astrid pergi dengan Bintang, maupun dekat dengan pria lain. Terlebih lagi pernikahannya dengan Astrid hanyalah sebatas sandiwara.


__ADS_2