Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
59. Mencintaimu Adalah Hal Terindah


__ADS_3

Janus mengeluarkan selembar kertas di saku bajunya. "Karena kamu bersedia, maka kertas perjanjian ini akan aku robek," ucapnya menunjukan kertas yang berisi perjanjian yang di tulisnya bersama Astrid.


"Sejak kapan kamu membawanya?" tanya Astrid heran.


"Sejak kita pergi, aku sudah membawa kertas ini" jawab Janus sembari merobek selembar kertas yang di pegangnya.


Astrid meraih tangan Janus lalu menatapnya sembari tersenyum. "Jadi sejak kapan kamu jatuh cinta padaku?"


Seketika raut wajah Janus pun memerah. "Aku tak tahu pasti sejak kapan aku jatuh cinta kepadamu. Tapi, saat ini hatiku sangat berdebar dan apa perlu aku membutikannya bahwa aku sedang jatuh cinta kepada gadis kecil ini," ucapnya sembari mencubit pipi Astrid.


"Bagaimana cara membutikannya?" tanya Astrid.


"Aku akan berteriak di sini, bahwa aku mencintai perempuan yang bernama Astrid Githa Ardana. Lalu setelah itu aku akan mencium bibirmu."


"Jangan, nanti semua pegawai di restoran ini akan mendengarnya dan kamu akan membuatku malu."


Senyum Janus pudar ia pun menampilkan wajahnya masamnya. "Jadi maksudmu kamu malu mempunyai suami sepertiku."


Astrid melambaikan kedua tangannya. "Tidak... tidak, bukan begitu. Bagaimana bisa aku malu mempunyai suami setampan dirimu. Aku akan malu jika kamu berteriak dan menciumku di tempat umum seperti ini. Orang-orang akan menganggap kita aneh." Astrid beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan menghampiri Janus. Dan Dengan cepat ia pun mengecup pipinya. "Kita tidak perlu berciuman, karena aku menggantinya dengan kecupan."


Janus pun tersipu malu saat Astrid mengecup pipinya.


"Jika kamu malu, bagaimana kalau kita melakukannya di rumah," bisik Janus.


"Itu juga tidak boleh, jika kamu menciumku di rumah akan lebih berbahaya. Aku mengerti yang namanya nafsu laki-laki. Berawal dari ciuman kamu pasti menginginkan lebih dari itu."


"Memangnya kamu tahu dari mana yang begituan?" tanya Janus tersenyum.

__ADS_1


"Aku sering nonton drama korea. Jika laki-laki sudah mencium pasangannya di rumah pasti akan terjadi hal yang tak di inginkan."


Seketika Janus pun tertawa setelah mendengar apa yang di ceritakan istrinya itu. "Haha... memangnya hal apa yang kamu tonton itu. Jangan-jangan kamu menonton drama korea dewasa ya."


"Bukan seperti itu, drama yang ku tonton tidak sevulgar yang kamu bayangkan. Hanya saja setiap drama korea bergenre romance yang pernah ku tonton ada adegan seperti itu. Tapi tidak terlalu vulgar," ucap Astrid dengan kedua pipi yang memerah.


Janus pun mencubit pipi Astrid. "Gemasnya, kamu menonton drama korea memangnya kamu mengerti bahasanya."


"Aku mengerti karena setiap drama yang ku tonton pasti ada subtitlenya. Lagian suamiku ini bisa berbahasa korea, jika aku tidak mengerti kamu bisa mengajariku bahasa korea kan."


"Bisa sih, dari pada kamu belajar bahasa korea lebih baik kamu fokus belajar untuk ujianmu. Karena bulan depan kamu akan ujian."


"Iya... iya pak guru."


***


"Apa lebih baik kamu melepaskan tanganku. Kamu ini sedang menyetir," ucap Astrid.


Janus semakin erat memegang tangan Astrid, yang kemudian ia mengecup punggung tangan milik istrinya itu. "Aku tak ingin melepas tanganmu. Jika ku lepas, maka aku tak bisa fokus menjalankan mobilnya."


"Dih itu alasan kamu saja. Dasar bucin," ledek Astrid sembari tersenyum.


"Iya aku bucin sampai-sampai aku ingin sekali memakanmu saking kamu menggemaskannya."


Namun, tiba-tiba saja Astrid merasa heran menatap arah jalan yang di laluinya bersama Janus bukanlah arah menuju apartemennya. "Kita mau kemana lagi? ini bukan jalan ke arah apartemen kita," ucap Astrid.


"Hari ini kita akan menginap di vila milik keluargaku. Jadi kamu pegang erat tanganku, aku akan mengebutkan mobilnya," ucap Janus yang langsung menancap gas sekencang mungkin.

__ADS_1


"Eh tunggu-tunggu! jika kita menginap di vila, bagaimana dengan sekolahku. Besok aku harus sekolah."


"Aku masih belum puas berpergian, jadi kamu bisa bolos sehari kan," ucap Janus.


"Hm, baiklah." Astrid pun tak bisa menolak permintaan suaminya itu. Terlebih lagi ini merupakan hari spesial bagi mereka. Dan juga tak perlu ada yang di takutkan, karena pria yang mengajaknya pergi menginap merupakan suami sahnya.


Hanya butuh dua jam, mobil Janus sampai di tempat tujuan. Betapa kagumnya Astrid saat menatap tempat yang di kunjunginya bersama Janus merupakan vila yang pemandangannya langsung mengarah ke tepi pantai. Vila yang di sebut Janus merupakan milik keluarganya itu sangat mewah dan besar. Tak terbayangkan oleh Astrid bisa menginap di vila mewah yang belum pernah di alaminya sebelumnya.


Semakin kagum saja Astrid saat memasuki vila yang dalamnya tak kalah mewah dari bagian luarnya.


"Bagaimana, kamu suka dengan tempatnya?" tanya Janus.


Astrid mengangguk sembari tersenyum girang. "Iya aku suka sekali."


Namun, Seketika Astrid di kejutkan dengan Janus yang tiba-tiba saja menarik tubuhnya. Tangannya merangkul pinggang ramping istrinya, matanya menatap dari mata hingga mengarah ke bibir. Dan dengan perlahan ia pun mencium bibir mungil milik istrinya. Sontak Astrid pun langsung menutup kedua matanya, ia menahan nafasnya, dan langsung mengikuti pergerakan bibir Janus. Mereka berciuman, hingga langkahnya mengarah langsung ke kamar. Spontan Janus dan Astrid pun menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Saat berada di tempat tidur Janus menjeda ciuman panasnya. Ia kembali menatap wajah Astrid, tangannya mulai membelai wajah istrinya hingga jari jemarinya pun ikut menyentuh lembut bibir mungil milik istrinya itu. Yang perlahan bibirnya kembali mendekatkan diri ke arah bibir Astrid. Spontan Astrid pun langsung menutup rapat kedua matanya.


Namun belum juga ia menyentuh bibirnya, Janus malah menertawai perempuan yang tengah menutup kedua matanya dengan serius. "Kenapa kamu menutup mata?" tanya Janus.


Seketika Astrid pun kembali membuka kedua matanya. "Itu karena kamu akan melanjutkan yang barusan kita lakukan," ucapnya dengan raut wajah yang memerah.


"Jika aku melanjutkannya, apa kamu bersedia menanggung resikonya," ucap Janus tersenyum menggoda.


Astrid menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu tidak usah di lanjutkan."


Janus langsung mendekap erat tubuh Astrid. "Lebih baik kita tidur saja. Aku sudah sangat lelah dan ingin segera tidur." Yang kemudian ia mengecup lembut kening wanita yang tengah tersipu malu setelah berciuman. "Selamat tidur, mimpi indahlah sayangku."


Spontan Astrid pun langsung membalas kecupan suaminya itu. Namun bukan kening yang di kecupnya, melainkan bibirnya. "Mimpi indah juga suamiku," ucapnya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2