Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
116. Apa Ini Hal Yang Baik Atau Hanya Sebuah Petaka


__ADS_3

Tiga hari setelah Luna di rawat di rumah sakit, Astrid dan Janus mendapati kabar bahwa Luna sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Kabar tersebut datang di akhir pekan, jadi Janus bisa langsung menjemput Luna ke rumah sakit. Sementara Astrid akan menyiapkan kamar untuk di tempati Luna.


Dengan tinggalnya Luna di rumah, itu adalah hal yang menggembirakan bagi Astrid. Mungkin dengan adanya Luna di rumah, Astrid jadi memiliki teman untuk mengobrol. Ya walaupun sudah ada dua orang ART yang bisa di jadikan teman mengobrol, tapi mereka selalu saja merasa canggung bila di ajak mengobrol oleh Astrid. Mungkin karena Astrid seorang majikan, kedua ARTnya tak bisa leluasa nyaman menjadikan Astrid sebagai teman mengobrol. Sementara Janus, dia selalu saja sibuk dengan pekerjaannya. Tak ada waktu untuk menemani Astrid. Bilapun ada waktu paling hanya sebentar.


Astrid dan kedua ARTnya menata kamar sebaik dan serapih mungkin, agar Luna bisa nyaman menempati kamarnya. Bahkan Astrid sampai menambahkan vas bunga di meja sebelah tempat tidurnya.


"Bagaimana menurut kalian, apa ini sudah cukup rapih?" Tanya Astrid menatap sekeliling kamar.


"Menurut saya ini sudah cukup rapih, bahkan ini sangat bagus. Orang yang akan menempati kamar ini pasti akan nyaman tidur di sini," jawab Mira.


Tak berselang lama Astrid merapihkan kamar, suara mobil Janus sudah terdengar di depan rumah, Astridpun segera bergegas keluar dari kamar.


Luna datang ke rumah sembari menggandeng lengan Janus. Langkah Astrid sampai terhenti ketika menatapnya, ia diam mematung sambil menatap Janus dan Luna.


Aneh rasanya, padahal baru saja Astrid merasa senang dengan kehadiran Luna di rumahnya. Tapi entah mengapa, setelah melihat Luna menggandeng lengan suaminya, perasaan senang itu malah berubah jadi kesal.


Astrid memaksakan senyumannya dengan mata yang tak teralihkan menatap sosok Luna yang berjalan sembari menggandeng lengan Janus.


Tatapan Astrid seakan membuat Luna tersadar atas tindakannya itu, Lunapun melepaskan gandengannya. "Maaf Trid, aku terpaksa menggandeng Janus, karena saat turun dari mobil aku sedikit merasa pusing."


"Oh tidak apa-apa, itu hal yang wajar karena kamu masih dalam masa pemulihan."


Astrid memang sedikit kesal, tapi Astrid tak bisa mempermasalahkannya. Karena memang Luna baru sembuh dari sakitnya, wajar jika dia pusing dan sampai menggandeng lengan suaminya. Dan tak seharusnya Astrid merasa cemburu, karena Janus tak mungkin bisa berpaling dari Astrid walau dulu Luna pernah singgah di hatinya.


Astrid sampai harus menyakini dirinya sendiri, bahwa dengan Luna tinggal di rumah, itu adalah hal yang menggembirakan. Dan Astrid juga menyakinkan diri, bahwa Luna hanyalah seorang ipar bagi Janus dan dirinya, biarpun Bayu sudah tiada.


Astrid hanya perlu menghilangkan kesalnya dengan cara membantu Luna berjalan, agar ia tak lagi menggandeng lengan Janus.


"Biar ku bantu kamu sampai ke kamar." Astrid meraih lengan Luna dan memapahnya pergi ke kamar yang sudah ia siapkan tadi. Sementara Janus, ia membantu membawakan koper milik Luna.

__ADS_1


Dekorasi yang cukup indah serta ruangan yang sangat harum tercium ketika Luna dan Janus memasuki kamar.


"Hm, Bagaimana kak Luna suka kan dengan kamarnya? Tanya Astrid.


Luna mengangguk sembari menatap kagum kamarnya. "Iya, aku sangat menyukainya."


"Istriku memang sangat pintar bila mendekor ruangan. Kuharap kamu bentah tinggal disini," lontar Janus.


**


Esoknya, pagi-pagi Luna mengetuk pintu kamar Janus dan Astrid.


"Tok...tok...


Kebetulan Janus dan Astrid sudah bangun dan berpakaian rapih, karena memang mereka akan berangkat bekerja.


Janus membuka pintu kamarnya. "Ada apa kamu mengetuk pintu?"


"Tidak, kami memang sudah akan keluar dari kamar."


"Oh kalau begitu ayo kita sarapan." Luna lalu menatap ke arah Astrid yang tengah berdiri di belakang Janus. "Kamu juga sarapan dulu sebelum berangkat kerja."


Namun, tiba-tiba saja Luna menarik lengan Janus. "Aku sudah membuatkan makanan kesukaanmu."


Sikap Luna itu sampai-sampai membuat kedua alis Astrid bekerut. Astrid beranjak mengkuti Luna dan Janus ke meja makan dengan raut wajahnya yang di tekuk kesal.


Di sana Luna mengambilkan piring beserta nasi dan juga beberapa lauk untuk Janus. Padahal yang seharusnya melakukan itu adalah Astrid yang merupakan istrinya. Namun malah di dahului oleh Luna.


"Apa ini semua kamu yang menyiapkannya?" Tanya Janus kepada Luna.

__ADS_1


"Tentu saja aku yang menyiapkannya, aku membuatnya spesial untukmu," jawab Luna yang seakan-akan mencari muka di depan Janus.


"Mengapa spesial untukku, bukankah Astrid juga ikut makan."


Luna melebarkan senyumannya. "Oh, maaf aku sampai lupa, karena masakan yang ku buat semuanya kesukaanmu. Jadi aku lupa menyebutkan nama Astrid. Tapi yang jelas, ini aku buat spesial untuk kalian berdua.


Mengapa harus lupa padahal ia sudah tahu bahwa Astrid merupakan nyonya di rumah. Tingkah Luna dan juga ucapannya membuat Astrid kesal.


"Seharusnya kak Luna tak perlu repot-repot menyiapkan sarapan untuk kami. Bukannya aku melarang, tapi kan sudah ada bu Eli dan bu Mira," ucap Astrid.


"Aku tak enak bila hanya menumpang secara gratis di sini. Jadi aku harus berbuat sesuatu untuk kalian."


"Ucapan Astrid ada benarnya, kamu tak seharusnya menyiapkan sarapan untuk kami. Karena kamu sudah kami anggap seperti keluarga. Jadi kamu tak perlu sungkan, lagi pula aku dan Astrid tak mengharapkan imbalan apapun," lontar Janus.


"Baiklah, kalau begitu aku sangat berterima kasih kepada kalian. Terutama kepada Janus yang sudah mau menerimaku tinggal di sini."


Lagi-lagi ucapan Luna membuat Astrid kesal. Tak seharusnya ia berkata dengan kata terutama Janus, karena bukan hanya Janus saja yang menerimanya tinggal di rumah, tapi Astrid juga ikut menerimanya. Bahkan sebelum mengijinkan Luna tinggal di rumah, Janus meminta ijin terlebih dahulu kepada Astrid.


Luna benar-benar sangat mencurigakan, terutama tingkah lakunya yang sedari tadi selalu saja mencari muka di depan Janus. Dan lebih mencurigakan lagi, tatapan dan senyumannya kepada Janus jauh berbeda ketika ia menaruh senyum kepada Astrid.


Biarpun menaruh curiga, Astrid masih bisa menjernihkan pikirannya dan menyadarkan diri bahwa tindakan Luna tak seperti apa yang di pikirkannya.


Selesai sarapan, Janus dan Astrid segera beranjak pergi dari meja makan. Begitupun dengan Luna yang juga ikut beranjak, karena memang ia akan segera pergi kuliah.


Luna mengikuti langkah Janus dan Astrid. "Janus tunggu." Langkah Janus terhenti begitupun dengan Astrid. Luna mendekat ke arah Janus, lalu tiba-tiba ia menyentuh dasi yang di kenakan Janus.


"Dasimu sedikit bergeser."


Spontan Astridpun langsung saja menyingkirkan tangan Luna dari Janus. "Maaf, biar aku saja yang merapihkannya."

__ADS_1


Tingkah Luna bukan lagi membuat Astrid kesal, tapi juga sudah benar-benar membuat Astrid marah. Luna terlalu berlebihan, biarpun ia sangat berterima kasih terhadap Janus, bukan berarti dia bertingkah seperti istrinya. Terlebih lagi ia bertingkah di depan mata Astrid.


Astrid kembali melangkahkan kakinya sembari menarik Janus. "Kamu harus secepatnya mengantarku, agar kamu nanti tak telat pergi ke kantor."


__ADS_2