
"Sebelum meniup lilin, make a wish dulu ya," ucap Hilda menyodorkan kue tart kepada perempuan yang tengah menangis haru itu.
"Jangan lupa make a wishnya, minta supaya aku yang jomblo ini bisa pacaran sama Hilda," lontar Rio sembari tersenyum menatap Hilda.
Sontak semuanya pun tertawa atas ucapan pria single yang mengharapkan bisa menjalin hubungan dengan sahabat dari istri Janus itu. Termasuk juga Astrid, yang tadinya menangis jadi tersenyum karena ucapan dari teman suaminya. Sementara Hilda, ia malah tersipu malu dengan kedua pipi yang mengeluarkan rona merah.
"Baik, aku harap kak Rio sama Hilda bisa menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih," ucap Astrid sembari meniup lilin.
"Hei itu namanya bukan make a wish. Kamu yang berulang tahun, bukan Rio ya. Ganti make a wishnya," tegur Janus
"Tapi aku sudah meniup lilinnya. Lagian make a wish tidak perlu di ucapkan dengan suara keras. Harapanku sudah ku sebutkan dari hati tadi," ucap Astrid tersenyum.
"Semoga harapan yang kamu sebutkan di hati berbeda dengan harapan yang kamu ucapkan tadi," sela Hilda yang masih mengeluarkan rona merah di pipinya.
"Memangnya kenapa?" tanya Astrid tertawa kecil menatap perempuan yang tengah tersipu malu itu.
Hilda menggelengkan kepalanya. "Pokoknya aku tidak suka sama kak Rio," tegas Hilda dengan kepala yang tertunduk menatap kue tart yang ia pegang.
"Nanti lama-lama bakal suka ko," sosor Rio sembari menyenggol pundak hilda dengan pundaknya sendiri.
Hilda pun semakin tersipu malu atas ucapan dari pria yang tengah berdiri di sampingnya itu. Hingga membuatnya berpindah tempat, menghindari Rio yang terus saja mengganggunya dengan kata-kata genitnya. Rio yang tengil itu terus saja mendekat, walau Hilda terus menghindarinya. Hilda memang tak nyaman, tapi apa ada daya ia yang tak suka harus pasrah meski di ganggu oleh Rio.
Tak lama mereka berada di pantai, tiba-tiba saja Titan datang. Janus pun tampak heran mengapa orang yang sangat tak di harapkan kehadirannya bisa datang, padahal ia sendiri tak pernah mengundangnya.
"Maaf terlambat," ucap Titan yang datang dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Aku tak pernah mengundangnya, siapa yang mengundang bocah tengil ini?" tanya Janus sembari menunjuk Titan.
"Aku yang mengundangnya, karena Titan juga teman Astrid kan," lontar Bianka.
"Siapa yang menyuruhmu mengundang bocah tengil ini," ucap Janus kesal.
__ADS_1
"Berhenti menyebut adikku bocah tengil," ucap Bianka yang juga kesal.
Seketika semuanya pun tersentak kaget, saat kekasih dari teman Janus itu menyebut Titan sebagai adiknya.
"Adik? bagaimana bisa Titan adiknya kak Bianca. Bukankah Titan tinggal di sebelah apartemen kami, sementara kak Bianca tidak pernah terlihat tinggal bersama Titan," ucap Astrid dengan alis yang berkerut.
"Orang tua kami sudah lama bercerai, Titan tinggal bersama ayah dan istri barunya. Sementara aku tinggal bersama ibuku," pungkas Bianca.
Janus yang tengah di tekuk kesal itu tak terima dengan kedatangan pria yang ia ketahui menyukai istrinya itu. Walaupun Titan adiknya Bianca, tapi Janus tak suka bila Titan harus ikut hadir di acara liburannya.
"Dia datang pasti akan mengganggu istriku. Aku tak suka dia datang," ucap Janus sembari melipat lengannya di dada.
"Sudahlah kak, mana mungkin Titan menggangguku. Titan kan temanku juga, dia boleh ikutan liburan bersama kita," ucap Astrid.
"Tuh denger, Astrid bilang aku temannya. Dia memperbolehkan aku ikut liburan di sini," lontar Titan sembari tersenyum.
"Terserah kamu mau ikut liburan bersama kita. Tapi jangan pernah kamu ngambil kesempatan mendekati istriku," ancam Janus dengan raut wajah yang masih di tekuk kesal.
"Ini untukmu," ucap Janus menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna merah tersebut.
"Ini sudah pasti perhiasan," ucap Astrid yang tersenyum girang mengambil kotak yang di pegang suaminya.
Saat kotak tersebut di bukannya, sebuah gelang berwarna silver terdapat di kotak perhiasan yang berwarna merah itu. Astrid sangat senang dengan kado yang telah di siapkan oleh suaminya.
Janus meraih gelang yang di pegang istrinya, lalu memasangkan gelang tersebut di pergelangan tangan milik wanita yang sangat ia cintai.
"Bagaimana suka?" tanya Janus tersenyum sembari memegang pipi istrinya.
Astrid mengangguk sembari tersenyum menatap gelang yang melingkar di pergelangan tanganya itu. "Iya suka."
Mendengar istrinya menyukai hadiah tersebut, Janus pun ikut senang. Ia pun mulai mendekatkan diri ke tubuh istrinya, menarik tubuhnya dengan cepat. Bibirnya mulai mendekat ke arah kening wanita yang tengah tersenyum manis itu. Namun, saat bibirnya akan mendaratkan diri ke keningnya. Tiba-tiba saja Titan menarik lengan Janus, hingga membuatnya gagal untuk mengecup kening istrinya.
__ADS_1
"Tidak boleh bersikap seperti itu di depan kami. Itu namanya tidak sopan," lontar Titan.
"Hah, tidak sopan? bukankah kamu yang tidak sopan, tiba-tiba menarikku," ucap Janus di tekuk kesal. Lalu menatap ke arah Bianca. "Bianca, tegur tuh adikmu."
"Aku setuju dengan adikku. Kamu tidak boleh kecup-kecupan depan kami, aku saja yang datang dengan pacarku tidak berani kecup-kecupan," ucap Bianca tertawa kecil.
"Tapi, aku sama Astrid berbeda dengan hubunganmu. Kami berdua sudah menikah, tidak ada yang tidak boleh bila ku sentuh istriku sendiri," pungkas Janus.
"Tetap saja tidak boleh, tolong hargai Rio yang masih jomblo itu," lontar Bianca dengan gelak tawa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malamnya setelah pesta barbeque, Janus membawa Astrid sembari menutupi kedua mata istrinya itu dengan tangannya.
"Kita mau kemana kak?" tanya Astrid.
Sembari tersenyum, Janus menjawab. "Aku akan membawamu ke tempat indah yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu."
Astrid pun di buat penasaran dengan tempat indah yang tidak di sebutkan suaminya itu. Tempat seperti apa yang akan di tujunkan suaminya, hingga membuat matanya perlu di tutup.
Selama ia berjalan, Astrid meraba-raba ke sekitarnya. Ia merasa aneh dengan benda-benda yang ia raba. Seperti funitur rumah dan juga tembok sangat terasa saat di sentuhnya. Hingga membuatnya bertanya-tanya dengan ruangan seperti apa yang akan di tunjukan suaminya itu. Mata ini sudah sangat ingin ia buka, tapi demi kejutan yang akan di tunjukan suaminya. Astrid perlu bersabar sampai Janus membuka tangan yang menutupi matanya tersebut.
Tak lama ia berjalan, Janus menghentikan langkah istrinya.
"Coba buka matamu," ucap Janus sembari membuka tangan dari kedua mata istrinya.
Astrid pun langsung saja membuka matanya. Saat matanya terbuka, ia di buat terkejut dengan tempat indah yang di tunjukan suaminya itu. Bukannya ia merasa kagum, Astrid malah menggelengkan kepalanya. Saat menatap kamar yang di hias dengan kelopak mawar merah berbentuk hati yang di letakan di atas tempat tidur.
"Ini yang kamu maksud tempat indah yang tak akan pernah terlupakan. Bukankah ini hanyalah kamar dengan tempat tidur yang di hias oleh kelopak mawar merah," ucap Astrid mendongkak ke arah Janus.
Seketika Janus dengan cepat menggendong tubuh istrinya, lalu membaringkannya di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Iya ini tempat indah yang sudah ku siapkan, karena di malam ini kita akan membuat momen yang tidak akan pernah kita lupakan," ucap Janus sembari membelai wajah Astrid.