Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
51. Roti Sobek Sang Peggoda Iman


__ADS_3

Pukul 21.00 Janus dan Astrid memasuki kamar untuk segera beristirahat. Sebelum memejamkan matanya, Astrid yang sudah berjanji akan membuat Janus tertidur tanpa harus meminum obat. Akan membuat Janus tertidur lebih dulu, kali ini ia menggunakan cara yang berbeda. Astrid mengajak Janus melakukan olahraga, membuat Janus kelelahan setelah olahraga mungkin akan membuatnya tidur nyenyak, pikir Astrid.


Pertama-tama Astrid mengajak Janus melakukan push up. Menatap Astrid yang tengah push up, malah membuat Janus tertawa. Astrid sungguh-sungguh bekerja keras untuk membuat Janus kelelahan. Hingga ia melakukan push up yang ke lima, Astrid sudah kecapean. Bukankah ia yang akan membuat Janus merasa lelah, malah Astrid yang sudah menyerah begitu saja.


"Aku sudah ga kuat," ucap Astrid dengan tubuh yang terlentang.


Namun Janus yang memang sudah terbiasa berolahraga, tetap melakukan push up hingga yang ke dua puluh kali barulah ia berhenti dari push upnya.


"Apa caraku salah mengajakmu olahraga. Bagaimana bisa kamu melakukan push up sebanyak itu," ucap Astrid merasa kagum.


"Aku sudah terbiasa melakukan hal seperti ini. Untuk menjaga bentuk tubuhku, setiap tiga hari sekali aku pergi ke tempat fitnes. Masa kamu yang setiap hari tinggal bersamaku tidak tahu kalau aku jago dalam hal olagraga," ucap Janus.


"Pantas saja di tubuhmu banyak roti sobeknya," ucap Astrid sembari melirik ke arah tubuh Janus.


"Apa kau suka?" tanya Janus tersenyum menggoda Astrid yang tengah berbaring di sebelahnya itu.


"Iya suka," jawab Astrid dengan lantang lalu seketika menutup mulut dengan telapak tanganya. "Maksudku bukan begitu, aku ga suka." Astrid menggelengkan kepalanya.


Janus bergeser mendekatkan diri ke arah Astrid berbaring. Lalu menindih tubuh Astrid dengan cara merangkak di atas tubuhnya yang kemudian ia langsung saja membuka kaus T-shirtnya. "Aku pikir kau benar-benar menyukai roti sobek di tubuhku."


Astrid gugup setengah mati menatap suaminya yang tengah berada di atas tubuhnya itu. Kedua pipinya pun di buat memerah, saat menatap otot-otot yang menonjol di perut dan dada bidang milik suaminya tersebut.


"Apa yang akan kau lakukan." Astrid mendorong Janus sekuat tenaga hingga membuatnya terjatuh.


Janus pun tertawa dengan ekspresi dan tingkah laku dari istrinya setelah di goda olehnya itu. "Haha... mulutmu berkata tidak tapi tubuhmu bereaksi berbeda. Aku tahu caranya jika ingin membuatku cepat-cepat tidur."

__ADS_1


"Bagaimana caranya? tanya Astrid.


"Mau olahraga bersamaku tidak," ucap Janus tersenyum sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Bukankah kita memang mau olahraga lagi," ucap Astrid heran.


"Tapi aku maunya olahraga yang berbeda." Janus bergeser mendekatkan diri ke arah Astrid.


"Olahraga apa yang kamu maksud?" Astrid semakin terheran-heran menatap suaminya yang tak henti menatapnya sembari tersenyum.


"Itu yang di katakan kakek waktu itu. Bikin anak yu," bisik Janus ke telinga Astrid.


Astrid menelan salivanya, seketika ia pun bergeser menjauhkan diri dari suami nakalnya itu. "Jangan lakukan itu, mending kita sit up saja."


"Oh iya ya. Kamu yang sit up di bawah aku yang push up di atas bagaimana?" Janus mengedipkan sebelah matanya sekali lagi.


Janus pun tertawa terbahak-bahak menatap istrinya yang gugup setengah mati akibat dari godaan nakalnya itu. Sampai-sampai Astrid tak berani menatapnya. Ia hanya fokus melakukan squats jump terus-menerus.


Setelah berkeringat dan kelelahan, Janus dan Astrid membaringkan diri di tempat tidurnya masing-masing. Namun belum lama mereka berbaring, Astrid sudah tidur lebih dulu dari Janus.


"Katanya akan membuatku tidur dulu. Malah dia yang tidur duluan." Janus beranjak dari tempat tidurnya lalu mengambilkan selimut untuk menyelimuti istrinya tersebut.


"Selamat tidur," ucap Janus sembari mengecup kening Astrid.


Kemudian ia kembali berbaring di tempat tidurnya. Janus berbaring sembari menatap istrinya yang tengah tertidur nyenyak itu. Hanya dengan melihatnya saja itu sudah membuat Janus bahagia. Karena semenjak Astrid datang di kehidupannya, Janus tak lagi merasa kesepian. Kedatangan Astrid di kehidupannya merupakan hal yang sangat berarti bagi Janus. Setiap detik bersamanya, merupakan hal terindah yang belum ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


"Haruskah aku menerima perempuan polos ini," batin Janus tersenyum sembari menatap Astrid.


Hanya butuh beberapa menit Janus menatap Astrid, ia sudah mulai merasa ngantuk. Janus pun segera memejamkan kedua matanya. Dan segera menyusul Astrid dalam mimpi indahnya.


Satu hal yang perlu Astrid tahu, untuk membuat Janus berhenti meminum obat ia hanya perlu membuat Janus bahagia dan melupakan semua luka yang menancap di hatinya. Karena sudah jelas tiap kali ia merasa bahagia, Janus akan melupakan semua hal yang membuatnya terluka. Bahkan ia pun akan tertidur nyenyak tanpa harus meminum obat terlebih dahulu.


...****************...


Pagi harinya, Astrid di buat terkejut saat ia membuka matanya. Ia mendapati Janus yang tengah mengeluarkan semua baju di lemarinya.


"Apa yang akan kau lakukan dengan baju-bajuku." Astrid terburu-buru beranjak dari tempat tidurnya.


"Aku akan membuang semua baju noramu. Jadi, hari ini kamu akan memakai yang mana. Pilih salah satu, karena aku akan membuang semua bajumu," ucap Janus sembari mengacak-ngacak baju milik Astrid.


"Kamu gila! jika kamu membuang semua bajuku, apa yang akan aku kenakan." Astrid seketika panik, dengan spontan ia pun mendorong Janus.


"Tenang saja aku akan mengganti semua bajumu dengan baju baru yang modis."


"Memangnya kamu punya uang berapa? gajimu jadi seorang guru itu tidak sampai puluhan juta tahu." ucap Astrid kesal.


Janus tiba-tiba mengeluarkan Black Card dari dompetnya. "Kita akan belanja menggunakan ini." ucapnya menunjukan Black Card yang di pegangnya.


Sontak Astrid pun di buat terkejut menatap Black Card yang di pegang oleh suamianya itu. Spontan ia pun menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. "Sejak kapan kamu memiliku itu? aku bahkan baru lihat bahwa kamu mempunyai itu," ucapnya yang terheran-heran.


"Sejak lama aku sudah di beri kartu ini oleh ayahku. Bahkan semua keluargaku memiliki ini. Hanya saja semenjak bekerja, aku jarang menggunakannya. Kartu ini hanya ku gunakan jika dalam keadaan darurat saja."

__ADS_1


"Dengan kartu ini, kamu bahkan tidak perlu capek-capek bekerja. Aku sampai lupa bahwa suamiku merupakan seorang penerus dari perusahaan besar," ucap Astrid menatap kagum Black Card yang masih di pegang oleh Janus.


"Aku bukan pemalas yang hanya bergantung dari uang ayahku," ucap Janus kemudian menarik Astrid menuju ke kamar mandi. "Cepat siap-siap, hari ini kamu tidak perlu sekolah. Kita akan belanja dan mengubah semua tampilan noramu itu. akan ku tunjukan kepada semua laki-laki yang sudah menghinamu. Bahwa istri dari Janus Geo Sayuda ini bukan perempuan jelek yang di katakan mereka."


__ADS_2