
Semuanya duduk di ruang tengah, satu persatu teman termasuk juga Astrid memberikan kado untuk Janus. Tak hanya Astrid dan teman-temannya saja, Luna juga mempersiapkan kado untuk Janus.
Luna mengeluarkan kado yang sudah ia siapkan di dalam tasnya.
"Ini buatmu." Luna mengulurkan kadonya kepada Janus. Namun, di saat Janus meraih kadonya, Luna dengan cepat memeluknya.
"Ku harap kamu bisa panjang umur dan selalu di beri kebahagian, adik iparku."
Tingkah Luna sudah benar-benar di ambang batas, kini bukan hanya Astrid saja yang merasa kesal, tapi semua teman-temannya juga ikut merasa kesal melihat tingkah Luna yang tak tahu malu. Biarpun Luna menyebut Janus adik iparnya, menurut pandangan mereka itu sudah sangat keterlaluan. Terlebih lagi semuanya tahu dengan status Luna yang dulu pernah menjalin hubungan dengan Janus.
Wandi sampai di buat mendeham untuk menyadarkan Luna.
"Ehem, jangan lupa dengan status kamu, Luna. Apa kamu sudah tidak punya harga diri."
Luna melepas dekapannya. "Oh maaf, aku hanya terlalu bahagia karena ini merupakan ulang tahun Janus.
Kesal dan marahnya Astrid kini sudah di tingkat didih, Astrid sudah tak bisa menahan kesabarannya lagi. Astrid tak mau kalah dari wanita tak tahu malu itu. Astrid menarik Janus, dan dengan cepat ia mendaratkan bibir mungilnya di bibir Janus. Bukan hanya kecupan yang di lakukan Astrid, melainkan sebuah ciuman panas. Sampai-sampai Janus tersentak kaget dengan tindakan istrinya itu.
Janus yang terlalu kaget, sampai tak bisa menutup kedua mata yang biasanya ia lakukan ketika berciuman.
Istri yang selalu di anggapnya polos, bisa dengan agresif menciumnya. Terlebih lagi Astrid melakukannya di depan teman-temannya. Bahkan bukan hanya Janus saja yang kaget, tapi semuanya ikut tersentak dengan tindakan Astrid itu.
Astrid menghentikan ciumannya, lalu menatap sinis Luna. "Dia suamiku, dia adalah miliku, tak semestinya kamu memeluknya."
Janus memegang lengan Astrid. "Astrid."
Astrid menghempaskan tangan Janus. Ia lalu mendorong Luna dengan jari telunjuknya.
"Selama ini aku sudah cukup sabar, biarpun aku sangat marah."
Luna menelan salivanya. "Maaf Trid, aku memeluknya bukan karena memiliki niat lain. Aku hanya bahagia karena ini merupakan ulang tahun Janus. Bukankah dalam ucapan terakhirku, aku menyebutnya adik ipar. Aku melakukannya karena rasa sayangku terhadap Janus hanya sebatas kakak iparnya saja. Kamu tak perlu semarah ini."
"Adik ipar? Itu hanya alasanmu saja. Lalu, bagaimana dengan kamu yang setiap hari mencari muka di depannya?"
"Apa maksudmu?"
"Mencuci dan menyetrika baju suamiku, merapihkan rumah hanya ketika dia sedang berada di rumah, mengambilkan makan ketika makan bersama, lalu menyiapkan minum ke ruang kerjanya. Dan bagaimana untuk hari kedua tinggal bersama kami, kamu bahkan berani menarik tangan suamiku."
Astrid meninggikan suaranya. "Bukankah sudah cukup jelas bahwa kamu berniat merebutnya dariku. Kamu tahu, dia baik padamu karena memiliki tanggung jawab dari kak Bayu. Dan kamu tahu rasa bersalah kak Janus terhadap kak Bayu, itu berawal dari kamu yang memintaku untuk menyembunyikan keberadaanmu. Dan yang seharusnya sangat merasa bersalah itu kamu."
__ADS_1
"Cukup Astrid!" Lontar Janus.
"Aku tidak akan berhenti sampai dia sadar bahwa semua tindakannya itu salah. Oh ya, katanya kamu tak ingin menumpang secara gratis di sini. Kenapa kamu tak mendaftarkan diri sebagai pembantu saja."
Seketika Janus mengebrak meja dengan keras.
Brak...
"Ku bilang sudah cukup!" Janus meninggikan suaranya.
Astrid mengalihkan pandangannya dari Janus. "Seharusnya kamu menyadari bahwa dia masih menaruh hati padamu."
"Kamu hanya salah paham, Astrid."
"Salah paham? Lihat tatapannya padamu, dan perhatikan dengan jelas setiap tindakannya. Bahwa dia masih mengharapkanmu." Astrid terisak, ia beranjak pergi keluar dari rumah dengan isak tangisnya.
Ulang tahun yang seharusnya berjalan baik malah hancur berantakan, karena pertengkaran yang di sebabkan oleh Luna.
Astrid pergi tanpa peduli bahwa di luar tengah hujan. Hati astrid sudah terlalu sakit, bila harus bertahan di rumah. Ia berjalan sembari menangis tanpa tahu mau kemana. Yang jelas ia hanya ingin menenangkan hatinya saja.
Karena marahnya Astrid, Titan sampai di buat kesal terhadap Janus.
Titan lalu terburu-buru beranjak untuk mengejar Astrid. Namun, Astrid sudah tak terlihat di sekitaran rumah. Titan pun berlari mencari sembari berteriak memanggilnya.
"Astrid...
Begitupun dengan Janus yang juga tak bisa hanya tinggal diam dengan perginya Astrid. Apa lagi Titan sampai berani mencari istrinya.
Janus beranjak dan menghampiri Titan. "Mau kemana kamu?" Tanyanya dengan nada tinggi.
"Aku akan pergi mencarinya."
"Tak perlu mencarinya, biarkan aku saja yang mencarinya."
"Yang tak perlu mencarinya itu kamu, untuk apa kamu mencarinya bila hanya ingin menyakitinya. Lebih baik kamu urus wanita simpananmu itu."
Seketika Janus menarik kerah baju Titan. "Jaga ucapanmu ya," ucapnya dengan tangan yang mengepal.
Semuanya keluar dari rumah lalu menghampiri Titan dan Janus untuk melerai pertengkaran.
__ADS_1
"Sudah cukup!" Lontar Bianca sembari melepaskan tangan Janus dari kerah baju adiknya.
"Bukan waktunya kalian bertengkar. Janus, kamu harus cepat mencari Astrid sebelum hujannya semakin besar."
Seketika Titan memegang tangan Janus, hingga langkahnya kembali terhenti. "Biar aku saja yang mencarinya."
"Titan, sudah cukup kamu ikut campur urusan mereka," tegur Bianca.
"Jika ku biarkan dia bertemu Astrid, dia pasti akan membuatnya semakin menangis."
Bianca meninggikan suaranya. "Ku bilang sudah cukup. Mereka pasti bisa menyelesaikan masalah bila hanya berdua." Bianca melepaskan lengan Janus dari Titan.
Janus pun akhirnya bisa kembali melangkahkan kakinya, ia berlari sembari berteriak memanggil istrinya.
"Astrid...
Janus terus mencari walau hujan sudah cukup besar. Hingga setengah jam ia berlarian mencari Astrid, akhirnya Astrid nampak terlihat.
"Astrid," seru Janus menghampiri, lalu menghentikan langkah istrinya itu
"Untuk apa kamu mengejarku?"
Seketika Janus menarik dan mendekap tubuh Astrid. "Maafkan aku, aku sungguh minta maaf, Astrid."
Astrid berontak, berusaha melepaskan tubuhnya dari dekapan Janus. "Lepaskan aku!"
Namun, Janus tetap mendekapnya dengan erat.
"Aku tak akan melepaskanmu. Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu menangis. Aku sangat menyesal telah membentakmu. Aku sangat mencintaimu, percayalah bahwa hanya kamu yang ku cintai."
Astrid pun berhenti berontak, ia yang tengah menangis itu semakin keras menangis dalam dekapan suaminya. Termasuk Janus yang juga tak dapat membendung air matanya.
Pesta ulang tahun yang sangat berantakan, ulang tahun yang seharusnya di akhiri dengan senyuman malah berakhir dengan tangisan. Janus yang seharusnya berucap terima kasih, malah berakhir berucap maaf.
Tak peduli tubuh sudah basah kuyup, Janus dan Astrid berpelukan di tengah hujan. Janus sangat menyesal karena tak bisa menjaga hati istrinya. Membuat Astrid menangis adalah hal paling mengerikan bagi Janus. Ia tak sanggup bila harus melihat Astrid menangis.
"Aku berjanji akan membuat Luna pindah dari rumah. Aku akan membuatnya tinggal di apartemen milik kita dulu. Ku harap kamu mengerti dengan aku yang memiliki tanggung jawab, aku peduli dengannya bukan berarti aku berpindah hati padanya."
"Jika kamu peduli dengan perasaanku, kamu tak perlu lagi bertemu dengannya. Cukup menjaganya dari jauh."
__ADS_1
Janus mengangguk. "Aku berjanji, akan menjaganya dari jauh."