Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
94. Rumah Besar Perlu Menambah Anggota Keluarga Baru


__ADS_3

Beberapa hari ini Astrid dan Janus tengah di sibukkan dengan pindahannya ke rumah baru pemberian kakeknya. Barang-barang di apartemen memang cukup banyak untuk di pindahkan ke rumah baru. Walaupun Astrid dan Janus di bantu oleh jasa pindahan, tapi bukan berarti mereka hanya diam saja tanpa turut serta membereskan barang-barang di apartemennya.


Sebelum pindahan, Astrid dan Janus juga membeli beberapa funiture baru. Karena rumah yang akan di tempatinya memang sangat besar bila hanya di isi funiture lama dari apartemennya. Rumah sebesar itu akan di tempati oleh dua orang. Astrid pun sampai menggeleng ketika menatap rumah besar yang akan di tempati bersama suaminya.


"Bukankah rumah ini terlalu besar untuk di tempati kita berdua. Bagaimana aku beres-beresnya bila rumah sebesar ini," ucap Astrid ketika ia dan suaminya sudah berada di rumah barunya.


"Tenang saja, aku akan menyewa ART. Kamu tidak perlu capek untuk beres-beres," ucap Janus yang seketika ia menggendong tubuh istrinya. "Rumah sebesar ini akan sepi bila kita tidak menambah anggota keluarga baru."


"Menambah anggota keluarga? maksudnya kamu mau menambah istri gitu. Mau aku pukul apa mau di cubit nih," ucap Astrid di tekuk kesal.


Sontak Janus pun tertawa samar setelah mendengar ucapan istrinya itu. "Bila kamu setuju aku menambah istri, aku sih bakal senang hati untuk mencari istri kedua," candanya.


Astrid semakin kesal saja atas ucapan suaminya itu. Candaan Janus benar-benar di anggap serius oleh wanita sepolos Astrid. Apa lagi suaminya terkenal dengan ketampananya, maka akan lebih mudah baginya bila memikat seorang wanita.


"Oh, jadi kamu memiliki niat untuk mendapatkan istri baru. Aku tidak suka bila harus di duakan. Lebih baik kamu turunkan saja aku, aku tidak suka di gendong olehmu," ucap Astrid di tekuk kesal sembari berusaha turun dari pangkuan suaminya.


Janus semakin mentertawakan istrinya itu, candaannya berhasil membuat istrinya percaya. Janus paling suka bila melihat istrinya di tekuk kesal seperti ini. Karena bila di lihat oleh mata Janus, Astrid yang tengah di tekuk kesal itu terlihat menggemaskan seperti anak kecil. Lalu karena Astrid terus bergerak ingin turun dari pangkuannya, Janus pun menurunkannya.


Astrid kesal, ia berjalan terburu-buru menuju kamarnya. Sembari menertawai, Janus mengikuti langkahnya dengan cepat. Di saat langkahnya sudah dekat, Janus kembali menggendong Astrid. Sontak Astrid pun terkejut saat suaminya tiba-tiba kembali menggendongnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan, aku tidak ingin di gendong olehmu," ucap Astrid berontak ingin turun dari pangkuan suaminya.


Janus menggelengkan kepalanya. "Dasar tidak peka, dasar si polos cantik. Menambah anggota keluarga bukan berarti menambah istri. Mempercepat mendapat anak sama halnya menambah anggota keluarga baru." Dengan langkah cepat Janus menggendong Astrid memasuki kamar. Lalu segera membaringkannya di atas tempat tidur.


Astrid menelan salivanya saat matanya bertatapan satu sama lain dengan Janus. "Bukannya waktu itu kita sudah melakukannya sekali. Setelah melakukannya, bukankah aku akan cepat hamilnya," ucapnya dengan rona merah di pipinya.


Janus kembali tertawa setelah mendengar ucapan polos dari istrinya itu. "Menurut temanku yang sudah menikah, jika ingin segera mendapatkan anak harus melakukannya lebih dari sekali. Kecuali jika saat malam pertama kita, kamu sedang pada masa subur, satu kali saja sudah pasti akan berhasil," terang Janus.


Astrid kembali menelan salivanya, jantungnya berdebar sangat cepat ketika ia memahami maksud dari suaminya itu. Astrid berpikir jika ia melakukannya lagi, sudah pasti dirinya akan merasakan sakit sama seperti malam pertama. Karena di malam pertama ia di buat menangis setelah melakukannya.


Astrid menggeleng. "Aku tidak mau melakukannya lagi, itu sangat sakit."


Astrid terkejut ketika bibirnya mulai bersentuhan dengan bibir Janus. Sontak Astrid pun langsung saja mendorong wajah Janus hingga membuatnya berhenti mencium. "Tunggu sebentar! aku tidak bisa melakukannya bila lampunya terang."


Janus pun di tekuk kesal ketika nafsunya sudah berada di tingkat didih, ciumannya malah di hentikan oleh Astrid hanya karena sebuah lampu. Janus malah bertolak belakang dengan keinginan istrinya tersebut. Karena pikiran kotor Janus menginginkan dalam keadaan terang ketika melakukannya.


"Jika tidak terang, aku tidak akan bisa melihat apa yang ingin aku lihat."


"Pokoknya lampunya harus di matikan. Memangnya apa yang ingin kamu lihat? tanya Astrid dengan raut wajah yang juga di tekuk kesal.

__ADS_1


Janus seketika tersenyum dengan pikiran kotornya sembari menatap buah dada milik istrinya. "Jika lampunya gelap aku tidak bisa melihat seluruh tubuhmu. Bagaimana jika aku salah masuk gawang."


Seketika Astrid pun langsung saja menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Dasar mesum! aku tidak akan melakukannya bila lampunya masih terang.


Astrid menutup mulutnya, bagaimana Janus akan menciumnya bila mulutnya di tutup. Karena jika ingin melakukan itu, maka harus melakukan pemanasan sebelum tancap gas. Karena menurut Janus ciuman merupakan langkah awal yang wajib di lakukan sebelum tancap gas. Terpaksa Janus pun harus mematikan lampu bila ingin melakukannya.


Janus mematikan lampu tidur, sementara lampu utamanya masih menyala terang dan sengaja di biarkan oleh Janus menyala. Agar ia bisa puas melihat apa yang ingin di lihatnya malam ini.


"Baru lampu tidur yang kamu matikan. Lampu itu belum kamu matikan," ucap Astrid menunjuk ke arah langit-langit.


Janus kembali tersenyum menatap Astrid dengan pikirannya yang kotor. Lalu segera mencengkram kuat kedua tangan milik istrinya itu.


"Kamu belum mematikan semua lam..." ucap Astrid yang seketika terpotong karena Janus langsung saja tancap gas mencium bibirnya dengan nafsunya yang sudah benar-benar tidak bisa lagi di kendalikannya.


Astrid memberontak, namun tenaga Janus jauh lebih kuat darinya. Hingga membuat Astrid kesulitan untuk terlepas dari cengkraman kuat suaminya tersebut. Tubuhnya pun melemas, ia pun terpaksa harus menutup kedua matanya dan mengikuti pergerakan bibir suaminya.


Saat Janus sudah puas mencium, ia langsung saja membuka baju milik istrinya dan juga dirinya. Setelah itu ia kembali lagi mencium, kali ini bukan bibir yang di ciumnya melainkan leher jenjang milik wanita yang saat ini jantungnya tengah berdebar-debar. Janus mencium hingga membuat jejak kiss mark di leher istrinya. Jika bibirnya tengah fokus menciumi leher, lain halnya dengan tangan yang menyosor ke daerah paling sensitif di tubuh istrinya. Mencium leher saja tidak akan membuat Janus puas. Janus juga membuat jejak kiss mark di beberapa bagian tubuh istrinya.


Sementara Astrid, yang ia lakukan hanyalah menutup mata sembari mengerenyit. Anehnya, jika tadi ia menolak karena takut kesakitan. Sekarang ia malah menikmati permainan yang di lakukan suaminya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2