Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
58. Kamu Adalah kebahagianku


__ADS_3

Akhirnya Astrid memilih satu pakaian yang menurutnya cocok untuk di pakai di kencan pertamanya dengan Janus. Siapa sangka penampilan Astrid mampu membuat Janus terpukau atas penampilan yang di siapkannya selama satu jam lebih. Tak sia-sia Astrid membuat kamar berantakan dengan pakaiannya, hanya karena ingin tampil sempurna sebagai istri Janus Geo Sayuda. Hingga membuat Janus pun tak bisa mengalihkan pandangannya dari istri cantiknya itu.


"Apa kita bisa pergi sekarang?" tanya Astrid tersenyum menatap Janus.


Janus meraih pinggang Astrid, mendekatkan tubuh Astrid ke tubuhnya, tangannya melingkari pinggang Astrid sembari tersenyum menatapnya. "Jika kamu berpenampilan seperti ini, aku jadi tidak sanggup membawamu pergi keluar."


Sedekat itu Janus mendekat dirinya pada tubuh Astrid, hingga membuat jantung Astrid berdebar kencang.


"Memangnya kenapa, apa ada yang salah dengan penampilanku? tanya Astrid bernada gugup.


Janus membelai pipi Astrid sembari berbisik. "Jika aku membawa wanita secantik ini, pasti banyak pria yang tak bisa mengalihkan pandangannya."


"Maka dari itu, kamu harus menjagaku dari para pria hidung belang." Sekuat tenaga Astrid mendorong tubuh Janus dari handapannya. "Berhenti menatapku, membuatku malu saja." Astrid berjalan terlebih dahulu dengan langkah yang di ikuti Janus dari belakang.


Saat tiba di parkiran bawah tanah, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Titan yang tengah memarkirkan mobil di parkiran tersebut. Saat tahu Astrid berada di parkiran, Titan keluar dari mobilnya dan langsung saja menghampiri Astrid.


"Sudah cantik gini mau kemana?" tanya Titan tersenyum.


Janus pun langsung terburu-buru menghampiri istrinya. "Dia mau pergi kencan denganku. Baru juga tadi aku bilang, ternyata sudah ada pria hidung belang yang menggoda istriku," ucapnya sembari merangkul pundak Astrid.


Astrid melepaskan tangan Janus dari pundaknya. "Kak, Titan bukan pria hidung belang yang akan menggodaku. Dia cuma bertanya kemana aku pergi."


"Jika dia ingin bertanya tidak perlu memujimu cantik," ucap Janus dengan raut wajah yang di tekuk kesal.


"Jika dia bilang cantik, berarti aku berhasil tampil cantik. Bukankah itu bagus, karena istri dari Janus Geo Sayuda ini berpenampilan cantik."


"Tapi aku tidak suka kalau dia yang memujimu."


Titan menggelengkan kepalanya. "Tak ku sangka aku cuma di jadikan kambing conge."


"Lah, akhirnya kamu sadar juga kalau kamu ini kambing," ucap Janus tersenyum menyeringai.


"Iya deh terserah pak Janus saja. Oh iya Trid, hati-hati suamimu belum move on sama mantannya," sindir Titan yang kemudian terburu-buru melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Eh dasar bocah tengil, aku bakal potong nilai matematikamu," teriak Janus.


"Stttt, mending kita pergi sekarang yu." Astrid menarik lengan Janus dan segera membawanya ke tempat mobil milik suaminya itu di parkirkan.


Saat mobil di lajukan, Janus masih saja di tekuk kesal. Titan berhasil membuat Janus kesal setengah mati. Terlebih lagi kemarin Titan sempat mengaku menyukai Astrid. Janus yang kesal itu, hanya fokus menyetir tanpa berucap sepatah katapun.


"Kak, masih kesal sama Titan? kalau memang kesal, kamu tak perlu kesal dengannya. Dia denganku itu cuma sebatas teman," ucap Astrid.


"Tapi dia menyukaimu," ucap Janus dengan raut wajahnya yang masam.


"Dari mana kamu tahu dia menyukaiku?" tanya Astrid heran.


"Dia kemarin bilang padaku. Apa jangan-jangan kamu juga tahu kalau dia menyukaimu."


"Iya aku tahu, tapi aku tak terlalu serius mananggapinya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman. Begitupun dengannya yang juga menganggapku hanya temannya saja."


"Ingat ya Trid di antara cewek dan cowok itu ga ada yang namanya teman. Dia bilang teman tapi punya maksud lain, jadi jangan terlalu dekat dengannya," tegas Janus.


"Berani mencubitku, aku cium ya," ancam Janus sembari memegang tangan Astrid yang tengah mencubit pipinya itu.


"Jangan... jangan bisa bahaya kalau kamu nyium aku pas lagi nyetir."


"Aku kan bisa parkirkan dulu mobilnya terus nyium kamu deh," ucap Janus sembari tersenyum.


Seketika Astrid pun memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil di sebelahnya. "Pokoknya jangan cium aku, kita harus cepat sampai ke tempat tujuan."


"Baiklah yeobo." Janus pun menancap gas sekencang mungkin.


Beberapa menit kemudian Janus dan Astrid pun sampai di tempat kencan pertama. Tempat pertama yang di kunjungi Astrid dan Janus adalah taman bermain. Betapa senangnya Astrid saat tahu bahwa tempat pertama yang di kunjuginya saat kencan adalah taman bermain. Ini adalah mimpinya, pergi kencan di taman bermain seperti di drama korea yang pernah di tontonnya. Begitu pun dengan Janus yang ikut senang melihat istrinya suka dengan tempat tersebut.


Satu persatu wahana di naiki Janus dan Astrid. Semua wahana yang berada di taman bermain tak satu pun terlewatkan untuk di naiki Astrid dan Janus. Sampai membuat Astrid puas dan senang adalah tujuan Janus membawanya pergi kencan ke taman bermain.


Setelah puas mencoba semua wahana di taman bermain. Janus pun lalu mengajak Astrid pergi ke tempat kencan kedua. Tempat kedua yang di kunjugi Janus dan Astrid adalah sebuah restoran mewah bergaya eropa. Namun, entah mengapa restoran tersebut tampak sepi. Bahkan pengunjungnya pun hanya ada Astrid dan Janus.

__ADS_1


"Apa makanan di sini enak?" tanya Astrid menatap sekeliling tempat tersebut.


"Tentu saja, ini restoran yang sangat rekomendasi untuk di kunjungi," jawab Janus tersenyum manis menatap Astrid.


"Lalu mengapa pengunjungnya hanya ada kita?" tanya kembali Astrid.


"Karena aku menyewa tempat ini. Jadi tidak akan ada yang datang kecuali kita."


Lalu seorang pelayan datang membawa dua piring steak dan sebotol wine. Satu steak untuk Astrid dan satu steak untuk Janus di letakannya di atas meja. Setelah meletakan dua piring steak, pelayan tersebut menuangkan wine ke masing-masing gelas.


"Dua steak dengan tingkat kematangan medium well, silahkan di nikmati," ucap pelayan tersebut lalu beranjak pergi.


Sebelum menyantapnya Janus terlebih dahulu memotong semua dagingnya. Lalu setelah itu ia menukarkan steak tersebut dengan steak milik Astrid.


"Terima kasih," ucap Astrid tersenyum.


"Iya sama-sama," ucap Janus yang juga tersenyum.


Setelah Janus dan Astrid menghabiskan semua steaknya. Pelayan datang kembali menghampiri Janus dan Astrid. Kali ini yang di bawa pelayan tersebut adalah sebuah cake dengan lilin yang menyala di atasnya. Astrid tampak keheranan dengan cake ulang tahun yang di bawa pelayan. Sementara ini bukan hari ulang tahun Astrid maupun hari jadi pernikahan yang sama sekali belum menginjak genap satu tahun.


"Siapa yang ulang tahun kak?" tanya Astrid heran.


"Hari ini aku berulang tahun?" jawab Janus.


Sontak Astrid pun terkejut. "Kenapa tidak bilang dari kemarin kalau hari ini kamu ulang tahun. Aku bahkan tidak menyiapkan kado untukmu."


Janus pun meniup semua lilin yang menyala di cake tersebut lalu berkata. "Hadiahku adalah kamu." Janus meraih tangan Astrid. "Jadi, maukah kamu hidup sebagai istriku, yang mencintaiku apa adanya, menjadi ibu dari anak-anakku, dan tetap bersama sampai maut memisahkan."


Seketika Astrid pun menitikan air matanya. Ia menangis haru atas permintaan Janus yang memintanya sebagai istri yang sesungguhnya.


"Kenapa kamu menangis, apa kamu tidak bersedia memenuhi permintaanku," ucap Janus panik sembari menyeka air mata di pipi Astrid.


Astrid menggelengkan kepalanya. "Aku menangis karena sangat senang. Dan aku sangat bersedia menjadi wanita yang dengan tulus mencintaimu sampai akhir hayat."

__ADS_1


__ADS_2