
Astrid akhirnya pulang ke rumah yang sangat di rindukannya. Ibu, adik, berserta kakeknya menyambut bahagia dirinya, ketika Astrid mulai menginjakan kaki di rumah.
Astrid terisak dalam pelukan ibunya. Membuat Maya pun jadi ikut menangis. Dalam dekapannya, Maya mencoba menenangkan Astrid. Mengusap lembut punggungnya dan memberikan tutur kata untuk menguatkan anak sulungnya tersebut.
Hingga berhari-hari Astrid tinggal di rumah orang tuanya, dan berhari-hari pula Janus datang tanpa di bukakan pintu. Memohon dan meminta maaf yang Janus lakukan di depan rumah, tanpa di pedulikan Astrid.
Kata maaf terus terdengar, begitupun kata kembali terus saja terdengar di depan rumahnya. Walau setiap hari Janus datang memohon, Astrid sama sekali tak mau bertatap muka dengan suaminya itu. Ia sudah terlalu kecewa, sangat sulit bagi Astrid untuk memberikan maaf kepada Janus.
Tiap kali Janus datang, yang Astrid lakukan hanyalah berdiam diri di kamar dengan isak tangis. Biarpun marah dan kesal, entah mengapa Astrid tak bisa membohongi perasaanya jika dia masih sangat mencintai Janus.
Ia menangis sembari mengusap perutnya, Astrid sangat di sulitkan dengan sebuah pilihan. Di mana ia bimbang untuk memilih kembali ataupun tak melanjutkan hubungannya dengan Janus. Jika Janus masih tak mau melepas tanggung jawab. percuma jika Astrid kembali. karena hasilnya akan tetap sama, mereka akan terus-menerus bertengkar karena Luna.
Astrid tengah mengandung seorang anak di rahimnya, tapi Astrid belum sempat memberitahu Janus termasuk keluarganya. Karena berlarut-larut dalam kesedihannya, Astrid juga belum sempat memeriksa kandungannya ke dokter. Ketika mual dan muntahnya terjadi, Astrid selalu menjawab baik-baik saja ketika Maya bertanya tentang kondisinya.
Seorang ibu dengan dua anak mana mungkin tak menaruh curiga dengan kondisi Astrid, karena ia juga pernah mengalaminya. Terlebih lagi, Astrid sudah berhari-hari merasa mual dan selalu muntah. Maya bahkan setiap hari memberinya teh jahe untuk meredakan mualnya, tapi mual dan muntahnya tak kunjung sembuh.
Maya lalu menghampiri Astrid yang tengah duduk di tempat tidur sembari memegang perutnya.
"Apa lebih baik kita periksa kandunganmu ke dokter."
"Tidak perlu mah, Astrid pasti sembuh kalau rutin minum teh jahe."
"Kamu setiap hari merasa mual dan selalu muntah, lalu mamah pernah melihatmu tengah kesakitan memegangi perut bagian bawahmu, bukankah itu namanya kram perut."
__ADS_1
Astrid menelan salivanya. Iya, aku sempat kram perut."
"Kamu sedang hamil kan?"
Astrid kembali menelan salivanya, ia terdiam kaku sembari mengalihkan pandannya.
"Memang benar kamu hamil kan. Kenapa kamu tidak bilang?" Tanya kembali Maya dengan marah.
"Aku takut, bila ku beritahu, kalian akan menyuruhku kembali pulang ke rumah kak Janus."
"Lalu, apa suamimu tahu tentang kehamilanmu."
Astrid menggelengkan kepalanya. "Tidak."
Astrid meraih lengan Maya untuk menghentikan langkahnya. "Jangan mah, jika kak Janus tahu aku hamil, dia tak akan mau melepaskanku."
"Kamu seharusnya bicarakan baik-baik agar masalahmu dapat terselesaikan. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya."
"Aku sudah mencoba untuk menyelesaikan masalah dengannya, tapi dia terus ingkar walau sudah berjanji tak akan mengulanginya. Hatiku sakit, saat melihat dia berada di satu tempat dengan wanita lain. Bila ia tak mau melepas tanggung jawab dari kak Bayu, maka dari itu dia akan terus-menerus bertemu dengannya.
Astrid tak dapat lagi membendung air matanya, ia menunduk untuk memaling wajahnya dari Maya. "Aku sudah memutuskan untuk berpisah dengan kak Janus."
"Kamu sedang hamil, mana bisa kamu membiarkan anakmu terlahir dengan status orang tua yang berpisah. Terlebih lagi, kamu tak akan membiarkan Janus mengetahui kehamilanmu. Apa kamu juga akan berniat untuk tak memberitahu anakmu tentang ayahnya sendiri setelah dia lahir."
__ADS_1
Lalu tiba-tiba Johan datang menghampiri.
"Lebih baik Astrid berpisah dengannya. Kakaknya saja merupakan pria brengsek, kemungkinan Janus juga sama sikapnya dengannya, karena dia di didik oleh keluarga yang sama. Aku sangat menyesal telah menyetujui perjodohan Janus dengan Astrid. Padahal Astrid masih muda, dia seharusnya menikmati masa sekolahnya tapi malah harus menikah."
Maya menghela nafasnya. "Kondisi Astrid saat ini tengah hamil. Kamu tak bisa memutuskannya seperti itu. Kita harus bicarakan baik-baik agar masalahnya cepat selesai. Memangnya kamu mau cucu kita terlahir tanpa seorang ayah di sampingnya."
"Dari pada harus di didik oleh ayah seperti dia, lebih baik cucu kita terlahir tanpanya. Kita bisa membantu Astrid membesarkannya."
Maya beradu argumen dengan Johan sampai suaranya terdengar keluar dari kamar. Hingga Pratama pun datang menghampiri.
"Ku dengar Astrid akan berpisah dengan Janus?Aku tak setuju dengan keputusan seperti itu. Masalahnya dengan Janus bisa di selesai dengan baik-baik, jangan asal memutuskan."
"Jika Astrid di biarkan bersama Janus, itu akan membuatnya menderita. Aku sudah yakin bahwa Janus bukanlah suami yang baik. Dia bahkan berani-beraninya mabuk-mabukan dan tidur di tempat lain bersama seorang wanita," ucap Johan.
"Ayah sangat tahu kalau Janus merupakan anak yang baik, dia tak mungkin berbuat hal seperti itu. Lebih baik kita bicarakan kembali dan urungkan niatmu untuk memisahkan Astrid dengannya."
"Jika Janus merupakan pria baik, mana mungkin Astrid ingin pulang ke rumah kita. Dia sendiri yang melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Aku akan lebih mempercayai anakku di bandingkan dengannya. Terlebih lagi, kakaknya saja bukanlah pria yang baik. Dia juga pasti akan sama sikapnya dengan kakaknya."
"Biarpun Bayu bukanlah pria yang baik, bukan berarti Janus juga seperti itu. Aku sangat tahu, karena Janus sedari kecil merupakan anak yang baik."
Johan menghela. "Aku tak mau lagi berdebat, lagi pula Astrid juga menginginkan perpisahan dengan Janus. Jadi, besok kita segera mengurus perceraiannya ke pengadilan agama. Dan perceraiannya harus secepatnya di proses, karena bulan depan aku di pindahkan kerja ke kantor cabang di turki. Pada bulan depan kita semua akan pindah kesana."
Johan beranjak pergi dari kamar. Biarpun ayah dan istrinya menentang perceraian Astrid, Johan tetap bersi kukuh untuk tetap memisah Astrid dengan Janus. Johan bukan tak mau memaafkan Janus, ia hanya takut bila hidup putri kesayangannya hancur. Terlebih lagi, setelah ia mendegar berita viral mengenai Bayu, ia takut bahwa putrinya akan bernasib sama dengan Luna. Terutama ia sangat menyesal telah menikahkan Astrid di usia muda, yang seharusnya menikmati masa-masa sekolah dan bermain, tapi malah harus menjadi seorang istri. Apa lagi hubungan Janus dengan Astrid berawal tanpa adanya ikatan cinta.
__ADS_1
Sementara Astrid, biarpun ia menginginkan perceraian bukan berarti ia tak mencitai Janus lagi. Justru, hatinya masih saja tertuju kepada suaminya tersebut. Hanya saja ia terlalu sesak dengan Janus yang tak bisa melepas tanggung jawabnya dari Bayu.