
Astrid pun tampak bingung dengan sikap dari pria setengah paruh baya yang bersama Yeni tersebut. Astrid memang sempat berpikir bahwa pria yang bersama Yeni merupakan selingkuhannya, karena terlihat dari ekspresi Yeni ketika menatap Astrid, ia tampak terkejut dan ketakutan. Tapi entah mengapa, dengan pria yang bernama Bima itu tak merasa terkejut ataupun takut ketika tahu bahwa Astrid merupakan menantu dari Adit. Bukankah seorang selingkuhan akan merasa terkejut dan ketakutan bila ia ketahuan sedang bersama. Ia malah terlihat baik-baik saja, bahkan bersikap ramah terhadap Astrid.
Pelanggan semakin banyak yang berdatangan ke restoran. Tak ingin banyak basa-basi, Astrid pun kembali bertanya tentang pesanan kepada Bima dan Yeni.
"Jadi, apa ada yang ingin di pesan?"
"Saya pesan minuman dan makanan yang paling laris di sini," jawab Bima sembari tersenyum.
"Bagaimana dengan bu Yeni, apa ada yang ingin anda pesan?" tanya kembali Astrid kepada mertuanya.
Yeni menjawab, tanpa menatap sembari melipat lengannya di dada. "Saya pesan minum yang sama dengannya."
Setelah mencatat, Astrid pun kembali ke counter untuk memberikan catatan ke koki. Lalu kembali ke meja yang di duduki Yeni dan Bima sembari membawa pesanan. Di saat Astrid meletakan pesanan di meja, Yeni tampak gelisah. Duduknya seperti tak nyaman, dan gelagatnya pun tampak seakan tengah memikirkan sesuatu.
Gelagat Yeni tampak mencurigakan di mata Astrid, apa lagi dengan Bima yang seakan merasa puas ketika menatap Yeni yang tampak merasa gelisah itu. Bima tersenyum menyeringai menatap istri dari pengusaha kaya yang bernama Adit Sayuda itu. Mereka benar-benar telah membuat Astrid sangat curiga dengan sikap mereka.
"Selamat menikmati," ucap Astrid setelah meletakan pesanan milik Bima dan Yeni.
Tiba-tiba Janus datang menghampiri Astrid dengan raut wajahnya yang nampak marah.
"Mengapa kamu di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu diam di meja kasir," ucap Janus.
Astrid harus menjaga sikap di depan semua pelanggan. Dari pada harus membuat Janus marah-marah di depan pelanggan, Astrid pun langsung saja menarik lengan Janus menuju dapur.
"Kamu tahu kan, di sini banyak pelanggan. Jika hanya diam saja di meja kasir tanpa melakukan apapun, apa gunanya aku pergi kesini," ucap Astrid.
"Aku kan sudah menyuruhmu membantu Tika di sana," ucap Janus bernada marah.
"Kamu menyuruhku membantu Tika, tapi tiap kali aku melayani pelanggan di kasir, kamu selalu mengancam Tika. Bagaimana aku akan membantunya."
__ADS_1
"Tapi Trid," ucap Janus yang seketika di potong Astrid dengan jari telunjuk yang di tempelkan di bibirnya. "Ssttt, jangan marah-marah karena hal ini. Kamu tahu kan banyak pelanggan yang datang, jika aku tidak membantu Leon, pelanggan akan kecewa. Karena terlalu lama menunggu pelayanan yang hanya mengandalkan satu pelayan."
Janus pun menggeleng, terpaksa ia pun harus membiarkan istrinya bekerja. Karena pelanggan terus saja berdatangan ke restorannya. Setelah itu, Janus kembali ke dapur, sementara Astrid kembali ke depan untuk melayani pelanggan.
Saat melayani pelanggan, sesekali Astrid melirik ke arah Yeni dan Bima. Ia masih saja mencurigai mertuanya tersebut. Hingga membuatnya tak bisa fokus mencatat pesanan.
"Maaf mba, tadi saya lupa mencatat pesanan. Bisa sebutkan lagi pesanannya?" tanya Astrid kepada pelanggan yang di layaninya.
"Tadi kan saya sudah sebutkan pesanannya, gimana sih mba," jawab Pelanggan kesal.
Lalu tiba-tiba Janus kembali menghampiri istrinya.
"Biarkan aku saja yang mencatat pesanannya, kamu duduk saja di sebelah Tika," ucap Janus sembari merebut catatan yang di pegang oleh Astrid.
Bukannya menurut, Astrid malah diam mematung sembari melirik ke arah Yeni.
"Kenapa kamu masih di sini? aku kan sudah menyuruhmu ke meja kasir," ucap Janus heran.
"Pak Bima siapa?" tanya Janus yang spontan langsung saja melirik ke arah Astrid menatap. "Bukankah itu... kenapa dia menemui seorang pria di belakang ayahku."
"Selain dia menemui pria, mengapa dia memberi amplop coklat yang seperti ada uang di dalamnya," ucap Astrid terheran-heran.
Sontak Janus pun langsung saja menghampiri ke meja Yeni.
"Sedang apa ibu di sini dengan seorang pria?" tanya Janus.
Yeni pun seketika tampak panik setelah di hampiri oleh Janus.
"Bukan urusanmu. Mengapa kamu di sini? Bukankah seharusnya kamu berada di sekolah?" tanya Yeni dengan mata yang melebar menatap anak sambungnya itu.
__ADS_1
"Aku sudah tidak bekerja di sekolah, karena mulai hari ini aku akan fokus bekerja di restoran," jawab Janus.
Bima berdiri dari duduknya. "Sepertinya kamu anak dari Adit ya?"
"Iya saya anaknya, mengapa anda bisa tahu?" tanya balik Janus.
Bima menyimpan amplop coklat yang di pegangnya ke dalam saku jaketnya. Berjalan menghampiri Janus, lalu memegang pundaknya.
"Karena kamu sangat mirip dengannya, jadi saya bisa menebaknya. Oh ya, tolong jaga Bayu baik-baik," ucap Bima, lalu ia berbalik menatap ke arah Yeni. "Tempat ini sangat cocok untuk pertemuan kita selanjutnya. Dua minggu mendatang kita bertemu di tempat ini lagi." Bima beranjak pergi ke arah luar.
Seketika Yeni pun berdiri. "Aku tidak ingin bertemu denganmu di tempat ini lagi," teriak Yeni dengan raut wajahnya yang tampak seakan ketakutan.
Langkah Bima pun terhenti, dan ia pun kembali berbalik menatap Yeni. "Jika kamu tidak ingin kita bertemu lagi di sini. Kamu akan menanggung akibatnya," ancam Bima.
Janus memiringkan senyumnya. "Apa ada yang ibu sembunyikan, hingga membuatmu sampai tampak gelisah seperti itu."
"Kamu tak perlu ikut campur dengan urusanku." Yeni mengambil dompetnya di dalam tas, lalu menyimpan uang pecahan seratus ribu dua lembar di mejanya. "Ambil saja kembaliannya, untuk tip buatmu dan istrimu."
Dengan raut wajah yang nampak ketakutan dan gelagat yang nampak gelisah, Yeni terburu-buru beranjak pergi dari restoran anak sambungnya tersebut.
Janus sampai mengerutkan alisnya setelah Yeni pergi. Ia pun di buat penasaran dengan gelagat dan keberadaan Yeni dengan seorang pria setengah paruh baya di restorannya. Janus yang tak pernah peduli dengan apa yang di lakukan ibu sambungnya, kini merasa ingin mencari tahu tentang ibu sambungnya tersebut. Hingga membuatnya diam mematung di tempatnya berdiri, sembari tenggelam dalam lamunannya.
Astrid pun langsung saja menghampiri suaminya tersebut.
"Kenapa masih berdiri di sini? kamu harus segera menyiapkan pesanan untuk pelanggan. Soal Leon biar aku saja yang bantu," lontar Astrid sembari menepuk pundak Janus.
"Kan di bagian dapur ada Deva, aku akan membantu Leon di sini," tegas Janus.
"Pelanggan terus saja berdatangan. Deva akan kesusahan bila harus memasak sendiri di dapur. Jadi, biar aku saja yang melayani bersama Leon. Biar kamu bisa membantu Deva di dapur," saran Astrid.
__ADS_1
"Baiklah, terserah kamu saja. Jika kamu capek, kamu langsung saja istirahat," ucap Janus lalu segera beranjak pergi ke dapur.