Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
89. Kemana Kamu


__ADS_3

Astrid terbangun di pagi hari dengan mata sembab dan bengkak. Ia beranjak turun dari tempat tidurnya menuju dapur untuk segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Ya walaupun sudah berhari-hari Janus tak lagi makan di rumah, tapi Astrid masih tetap memasak. Siapa tahu suaminya itu tergiur untuk memakan masakan Astrid. Walau semalam hati Astrid sakit, sekiranya dengan memasak ia lupa sejenak tentang permintaan cerai dari Janus. Ia tersenyum ketika melihat bahan-bahan masakan di kitchen counter. Sudah terbayang di mata Astrid tentang masakan yang akan di buatnya. Nasi goreng telur ceplok buatan Astrid merupakan makanan favorit Janus.


Hanya butuh dua puluh menit Astrid memasak, sarapan pun telah berhasil di buat. Astrid pun lalu segera memanggil suaminya.


"Kak Janus sarapannya sudah siap," teriak Astrid. Namun Janus sama sekali tak menyahut.


Astrid tersadar bahwa semalaman Janus tidak tidur di sampingnya. Astrid pun panik, ia mencari-cari ke setiap ruangan sembari memanggil namanya.


"Kak Janus," teriak Astrid yang terus berulang memanggil suaminya.


Di kamar mandi, di ruang tengah, atau pun di kamar Janus tidak ada.


"Apa mungkin dia sudah berangkat bekerja," gumam Astrid di batinnya.


Astrid merasa heran bila Janus pergi bekerja bukankah terlalu pagi karena jam masih menunjukan pukul 06.15. Lalu tiba-tiba Astrid mendapati selembar kertas di meja ruang tengah. Astrid segera mengambil selembar kertas tersebut. Ketika kertas di buka, ternyata itu merupakan sebuah surat dari Janus. Dalam surat tersebut Janus menulis bahwa ia pergi dari apartemen dan akan kembali bertemu dengan Astrid ketika di persidangan perceraian.


sontak Astrid pun panik, ia terburu-buru memasuki kamar dan segera membuka lemari pakaian milik suaminya. Saat di buka, ia mendapati lemari pakaian suaminya sudah kosong. Astrid pun menangis seketika.


Namun, menangis saja tak akan menyelesaikan masalah, Astrid lalu beranjak ke kamar mandi untuk segera bersiap-siap. Setelah mandi dan berpakaian rapih, Astrid segera pergi dari apartemen untuk mencari Janus. Selama perjalanan mencari Janus, Astrid juga sempat menghubungi suaminya melalui ponsel. Namun saat di hubungi, nomor suaminya tersebut tidak aktif.


Mula-mula Astrid mencari Janus ke sekolah, namun suamianya tersebut tidak berada di sekolah. Ia pun pergi ke rumah mertuanya, di sana Janus masih saja tidak ada. Astrid juga pergi menemui teman-teman suamianya. Dan lagi-lagi Janus masih tidak di temukan. Lelah, sudah pasti Astrid lelah. Sudah pukul tiga sore Janus masih belum di temukan oleh Astrid.


Astrid sudah kebingungan mencari suaminya tersebut. Ia pun pulang, lalu duduk di sofa yang berada ruang tengah. Matanya terpejam sembari berpikir tentang tempat yang belum Astrid datangi. Dan satu tempat yang belum Astrid datangi adalah rumah baru pemberian dari kakeknya Janus.

__ADS_1


Tanpa berpikir panjang Astrid lalu segera mengambil kunci rumah dari kamarnya. Ia pergi ke alamat rumah baru pemberian dari kakek mertuanya tersebut.


Sesampainya di sana, rumah berlantai dua yang sangat besar tampak nyata di depan Astrid. Namun, keadaan di rumah nampak gelap, lampu-lampu di rumah tersebut tak menyala. Bahkan saat Astrid memasuki gerbang dari rumah tersebut, pintu rumah masih terkunci rapat dan di dalampun tak nampak siapapun. Lagi-lagi Janus masih tidak di temukan.


Fisiknya sudah lelah terutama batinnya sudah terlampau lelah dan sakit. Kemana lagi ia harus mencari, sementara semua tempat yang sering di kunjungi Janus sudah Astrid datangi. Akhirnya Astrid pun pulang menggunakan taxi.


Namun, hanya sedikit lagi taxi akan sampai gedung apartemen. Tiba-tiba taxi yang di tumpangi Astrid mogok, terpaksa Astrid pun harus turun. Sangat sial, sudah tidak menemukan Janus, taxi mogok, cuaca pun tak mendukung. Astrid berjalan pulang di tengah hujan.


Kepala Astrid sedikit pening, ia berjalan dengan langkah yang pelan. Ia pun menangis di tengah hujan. Lalu tiba-tiba saja Titan datang menghampiri Astrid sembari membawa payung.


"Trid, kamu kenapa hujan-hujanan?" tanya Titan sembari memayungi Astrid.


"Tan, apa kamu tahu di mana keberadaan kak Janus?" tanya balik Astrid dengan pandangan yang sedikit kabur. Tubuh Astrid tiba-tiba tidak seimbang, jalannya pun sampai sempoyongan.


"Aku tidak tahu pak Janus di mana. Sepertinya tubuhmu demam, lebih baik kita pulang saja. Aku antar kamu pulang ya," ucap Titan panik.


Astrid menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku harus menemukan kak Janus sekarang juga."


Pandangannya semakin kabur, tubuhnya semakin tidak seimbang lalu tiba-tiba rasa pusing di kepalanya semakin berat. Dan pada akhirnya Astrid pun tidak sadarkan diri. Ia terjatuh pingsan di tubuh Titan.


...****************...


Tangannya hangat seperti tengah di genggam, Astrid setengah tersadar dengan pandangan yang masih tampak buram.

__ADS_1


"Kak Janus kamu pulang," ucap Astrid dengan suara rendah.


Terdengar suara perempuan menangis sembari memanggil namanya. "Trid, kamu sudah sadar," tanya perempuan tersebut dengan nada panik.


Astrid pun melebarkan matanya dan memperjelas pandangannya. Saat menatap, orang yang tengah menagis tersebut ternyata Alula dan Hilda. Karena terus memikirkan suaminya, Astrid pikir orang yang yang tengah menggenggam tanganya adalah Janus, ternyata itu adalah teman-temannya.


Astrid terbangun menatap ruangan yang ia tempati seperti rumah sakit. Bahkan tanganya pun terdapat selang imfusan.


"Trid, kamu jangan bangun, kamu masih sakit. Lebih baik kamu berbaring dulu ," saran Hilda.


"Tidak, aku harus pulang. Siapa tahu kak Janus bakal pulang ke apartemen," ucap Astrid sembari berusaha membuka selang imfus yang menempel di punggung tangannya.


Astrid bersikukuh ingin pulang, hingga Hilda dan Alula pun tak bisa mencegahnya. Dan pada akhirnya, semua teman-temannya termasuk Titan yang membawanya ke rumah sakit, mengantar pulang Astrid ke apartemen.


Sesampainya di apartemen, ruangan masih sepi tanpa keberadaan Janus. Astrid pulang di papah oleh kedua temannya memasuki kamar. Lalu membantu membaringkannya di tempat tidur.


"Trid, kita hanya bisa mengantarmu pulang. Maaf tidak bisa menemanimu, karena besok kita harus siap-siap masuk kuliah," ucap Hilda.


Astrid mengangguk. "Iya kalian pulang saja. Makasih sudah mau datang menemaniku di rumah sakit."


"Bagaimana biar aku saja yang temani kamu," lontar Titan.


Seketika Hilda pun langsung saja menarik lengan Titan. "Jangan, dasar pembinor. Ga boleh bikin orang bergosip karena ulah kamu ya," ucapnya yang terburu-buru beranjak pergi dari apartemen.

__ADS_1


Setelah semua teman-temannya pergi, apartemen nampak sepi. Astrid berbaring tanpa bisa menutup matanya. Karena pikiran kalut memikir pria yang pergi dari rumah tanpa pamit. Hatinya sakit ketika wajah Janus terus terbayang dalam ingatannya. Lagi-lagi Astrid menitikan air matanya, menangis sendiri tanpa ada siapapun di sampingnya. Ia berharap bahwa suaminya akan berubah pikiran dan pulang ke apartemen. Bukankah sehari saja tak bertemu sudah sangat menyiksa. Apa Janus juga sama halnya seperti Astrid yang kini tengah merindukannya.


__ADS_2