
Selama ujian berlangsung, tak sedikit pun Astrid bisa berkonsentrasi mengerjakan soal. Ia terlampau gelisah setelah foto pernikahannya tersebar. Isi kepalanya hanya penuh dengan ketakutan akan pandangan orang-orang padanya. Bagaimana bisa pelajaran yang sudah ia pelajari dengan tekun bisa-bisanya lupa dalam sekejap hanya karena satu masalah.
Hingga selama ia mengerjakan soal, Astrid tak bisa menahan tangisnya. Berulang kali Astrid menyeka kedua sudut mata yang tak hentinya mengeluarkan bulir air. Astrid sudah benar-benar tak bisa berkonsentrasi penuh dalam mengerjakan soal-soal di kertas ujian. Bahkan selama ia memagang pensil tangannya terus bergetar.
Astrid terus meyakinkan dirinya bahwa ia bisa menyelesaikan ujiannya dengan baik. Ia menarik nafas panjangnya lalu menghebuskannya dengan perlahan. "Aku pasti bisa menyelesaikan semua dengan baik. Tuhan, untuk sesaat lupakanlah yang terjadi hari ini," gumamnya di batinnya.
Walau tangannya bergetar, hati gelisah, dan pikiran kacau, Astrid mampu menyelesaikan semua soal di kertas ujiannya. Waktu ujian yang di berikan dua jam, karena Astrid sulit berkonsentrasi, Astrid hanya bisa menggunakan waktu ujiannya dalam satu jam lebih. Karena waktu pertama yang di gunakannya tak bisa ia manfaatkan untuk mengerjakan soal setelah pikirannya kacau balau karena masalah yang terjadi padanya.
"Simpan kertas soal dan kertas jawabannya di meja, kalian boleh langsung keluar," ucap pengawas ujian.
Astrid berdiri dari tempat duduknya lalu melangkah ke depan untuk mengambil tas yang di simpannya di bawah papan tulis. Saat ia sudah memasukan peralatan tulisnya. Astrid sangat ragu untuk melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Ia sangat cemas, yang bisa di lakukannya hanya diam mematung di dekat pintu keluar.
"Trid, aku antar ya pergi ke kantornya," ucap Alula merangkul tangan Astrid.
"Tunggu sampai semua orang pulang," ucap Astrid dengan raut wajah yang nampak gelisah.
Astrid dan Alula pun berdiam diri di dekat pintu. Matanya terus berkeliling, memastikan bahwa sudah tak ada satupun murid di sekolah. Saat ini Astrid hanya di temani satu temannya yaitu Alula, karena Hilda berbeda ruangan dengannya. Yang entah kemana Hilda belum juga muncul menghampiri kedua temannya itu.
Saat sekolah sudah sepi, Astrid dan Alula pun beranjak keluar dari kelas. Namun, tiba-tiba saja rombongan Vega dan Bintang datang menghampiri.
"Ibu muda nih," cibir Vega.
__ADS_1
"Dasar manusia gila maunya nyari masalah," ucap Alula sembari berjalan menarik Astrid.
Seketika Bintang menghalangi langkah kaki dari Alula dan Astrid. "Mau pergi kemana ibu rumah tangga," ejek Bintang sembari tersenyum menyeringai.
"Dia mau cepat-cepat pulang, karena anaknya sedang nangis di rumah," ejek Vega kembali.
Bintang menutup mulutnya dengan jari-jemarinya. "Upss iya lupa, dia kan udah nikah. Pasti sudah punya anak dong." Kemudian ia kembali membuka mulut dan berbicara dengan suara yang cukup keras. "Bilangnya sesepuan nyatanya berumah tangga," ucap Bintang dengan gelak tawa.
Lalu tiba-tiba saja Hilda beserta kedua body guard Astrid datang menghampiri.
"Berhenti mengganggunya," ucap salah satu body guard sembari memelintir lengan Bintang.
Spontan Bintang pun meringis kesakitan. "Aw, kalian mau saya laporkan karena bersikap kasar sama murid di sekolah ini."
"Pria gila sepertimu pantas di kasarin," ucap Hilda sembari merangkul tangan Astrid lalu terburu-buru memabawanya pergi menuju kantor.
Saat tiba di kantor, Astrid sangat gugup menatap beberapa guru dan kepala sekolah sedang berkumpul. Astrid lalu duduk di samping suaminya berada. Tubuhnya terus bergetar ketakutan hingga ia tak berani menatap para guru termasuk kepala sekolah yang tengah duduk di depannya dan suaminya itu. Astrid terus menundukan kepalanya dengan tubuh yang di bajiri keringat.
"Yang tidak ada kepentingan silahkan keluar," ucap kepala sekola kepada Hilda dan Alula yang tengah berdiri menemani sahabatnya.
"Tapi pak, kami harus menemani sahabat kami sampai keluar dari kantor ini," ucap Hilda.
__ADS_1
"Saya sedang berurusan dengan Astrid bukan kalian. Jadi kalian keluar sekarang juga," tegas kepala sekolah.
Hilda dan Alula pun terpaksa harus beranjak pergi keluar dari kantor dengan raut wajah yang di tekuk kesal.
"Kami mendengar dari murid-muri bahwa kalian sudah menikah. Dan kami juga melihat langsung foto pernikahan kalian yang di sebarkan melalui aplikasi pesan. Lalu, bagaimana bisa seorang guru menikahi muridnya sendiri. Apa Astrid tengah mengandung, oleh sebab itu pak Janus menikahinya?" tanya kepala sekolah.
"Astrid tidak hamil. Kami menikah karena kami di jodohkan oleh kedua orang tua kami," tangkas Janus yang terbalut emosi atas kecurigaan kepala sekolah.
"Lalu kenapa kalian harus menikah dengan cepat? bukankah kalian bisa melaksanakan setelah Astrid lulus. Kami semua curiga karena pernikahan kalian di laksanakan saat Astrid masih menjadi seorang murid."
"Kita terpaksa menikah secepatnya bukan karena Astrid tengah mengandung. Tapi kami menikah karena kemauan kakek saya yang saat ini umurnya mungkin sudah tidak akan lama lagi. Dia ingin melihat saya menikah dengan cucu sahabatnya," Emosi Janus memuncak hingga urat nadi di lehernya pun menonjol.
Astrid tak bisa berkata-kata, ia hanya diam menunduk dengan kedua sudut mata yang tak hentinya mengeluarkan bulir air. Ia sangat ingin meredam emosi suaminya itu, namun ia yang terlalu lemah itu hanya bisa menangis maratapi apa yang sudah terjadi. Kata-katanya pun sampai tenggelam akibat ketakutan yang di rasanya saat ini. Walaupun Astrid sendiri ingin sekali membalas apa yang di tanya dan di curigai kepala sekolahnya. Namun, apa boleh buat jika kata-kata tersebut telah tenggelam akibat rasa takut dan tangisnya yang tak kunjung usai.
"Andai kalian tahu ya, jika pria yang sudah tua itu semuanya pasti akan bilang umurnya tidak akan lama lagi. Kenapa kalian harus menuruti kemauan dari pria yang sudah tua. Harusnya kalian tak perlu menuruti kemauannya. Kalian itu seperti orang bodoh mau-maunya menuruti kemauan dia," tegur kepala sekolah.
Emosi Janus semakin memuncak atas ucapan kepala sekolah yang tak tahu menahu tentang kekenya itu, kini marahnya sudah di tingkat didih. Janus seketika mengebrak meja sekeras mungkin.
"Brak...
"Anda jika tidak tahu apapun jangan asal bicara. Kakek saya memang sudah sangat tua, tapi dia sedang sakit kanker stadium akhir. Anda pikir dia akan berumur panjang. Mungkin saja besok dia sudah tidak bernyawa." Janus berdiri dari tempat duduknya sembari menarik lengan Astrid. "Besok saya akan membawa kakek beserta orang tua Astrid ke sekolah, sebagai bukti bahwa kami menikah karena di jodohkan. Bukan karena Astrid tengah mengandung anak saya. Karena baik saya maupun Astrid kami punya harga diri. Dan bagaimana bisa Astrid hamil, bahkan setelah menikah pun kami tidak pernah tidur layaknya seorang suami istri. Jangan pernah berpikiran mesum mengenai saya dan istri saya."
__ADS_1
Janus pun terburu-buru beranjak pergi dari kantor sembari memengang erat tangan istrinya.