
Kedatangan Luna sudah membuat Astrid sangat jengkel. Terlebih lagi, Janus lagi-lagi membelanya. Di hari ini Astrid tengah berbahagia setelah Janus memberinya banyak bunga, namun dengan datangnya Luna membuat suasana di hati Astrid menjadi kacau. Astrid yang sudah percaya diri bahwa Janus telah mulai jatuh cinta padanya, menjadi ragu dengan kedatangan wanita yang jadi ipar sekaligus matan kekasih suaminya itu. Hingga sempat-sempatnya ia berpikir bahwa mungkin suaminya belum melupakan wanita yang hari ini membuat Astrid sangat jengkel.
Belum juga ia mengganti pakaiannya, Astrid langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Terlebih dahulu ia membuka lemari esnya, mengecek bahan makanan yang akan di masaknya hari ini. Beberapa bahan makanan ia keluarkan dari lemari es, lalu meletakannya di kitchen counter.
Baru beberapa menit ia memotong sayuran, Janus datang menghampirinya. Masih dengan wajah masamnya yang Astrid tunjukan kepada suaminya. Janus beberapa kali menyentuh dan menepuk pundak Astrid. Namun, Astrid tak mengalihkan pandangannya dari sayuran yang tengah di potongnya.
"Trid," panggil Janus yang terus berulang, namun Astrid terus menghiraukan panggilan dari suaminya itu.
Dan lagi Janus terus menganggu istrinya dengan cara menepuk pundaknya yang terus berulang. Memanggil namanya dengan nada lembut dan pelan, namun tak membuat Astrid berniat meliriknya.
Hingga suatu kata yang terlintas di kepala keluar dari mulutnya. "Sayang." Pipi Astrid memerah namun, ia tak juga melirik ke arah Janus. Hingga sekali lagi ia memanggil sayang kepada Astrid. Kali ini ia memanggil kata sayang yang di khususkan bagi pasangan suami istri di korea.
"Yeobo," ucap Janus dengan lembut yang gemulai. Dan lagi-lagi Astrid tak juga melirik ke arahnya, sampai akhirnya ia berada di tahap kesal. Janus langsung saja memeluk Astrid dari belakang sembari berkata. "Yeobo jangan marah dong."
Spontan Astrid pun langsung mendongkak ke arah Janus sembari menyumpal mulutnya dengan sebatang wortel yang belum di potong.
"Berhenti berbicara! jika masih memanggilku yeobo, bukan wortel yang ku masukan ke dalam mulutmu. Tapi mangkuknya yang akan ku masukan ke dalam mulutmu," ucapnya lalu segera mengambil wadah yang berisi sayuran yang telah di potongnya ke wastafel untuk di cuci.
Janus langsung mengeluarkan wortel dari mulutnya. "Iya maaf," ucapnya sembari menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Janus melangkah pergi ke arah meja makan. Lalu mengambil kursi untuk di bawanya ke dapur. Ia meletakan kursi tersebut di depan kitchen counter untuk di dudukinya sembari memperhatikan istrinya yang tengah di sibukan memasak.
Janus menompang dagunya di atas kitchen counter sebari berkata. "Mau ku bantu ga."
__ADS_1
"Tidak perlu," ucap Astrid dengan ekspresi datarnya.
"Kalau di bantu pasti cepat selesainya."
"Tidak perlu! kalau ingin membantuku, mending kamu diam saja dan berhenti berbicara supaya aku fokus menyelasaikan masakanku," tegas Astrid.
Janus pun terdiam dan duduk dengan tekun sesuai perintah istrinya. Hanya butuh tiga puluh menit Astrid memasak, makanan pun siap untuk di sajikan. Janus langsung saja berdiri dari duduknya.
"Kamu tunggu di meja makan, biar aku saja yang membawa semua piringnya." Janus langsung membawa wadah-wadah yang berisi makanan yang telah di masak oleh istrinya ke meja makan.
Sebelum makan malam bersama suamianya, Astrid terlebih dahulu berganti pakaian yang semenjak pulang sekolah belum sempat ia ganti. Sementara Janus, dengan semangatnya ia menata meja makan serapih mungkin. Mencari perhatian dari istrinya yang tengah marah adalah cara Janus untuk menutupi kesalahannya hari ini. Mungkin dengan cara ini Astrid akan luluh dan melupakan kekesalannya.
Setelah semuanya usai, Astrid langsung pergi ke meja makan untuk ikut bergabung makan malam bersama suaminya. Janus menarik kursi untuk membantu Astrid duduk. "Silahkan duduk." Yang kemudian ia membantu mengambilkan nasi dan beberapa lauk untuk Astrid.
Janus meraih piring yang hendak akan di bawa Astrid ke dapur. "Biar aku saja yang mencuci piringnya."
Semua piring kotor di cuci oleh Janus. Sementara Astrid, dengan santainya ia menonton televisi di ruang tengah.
Beberapa menit kemudian Janus selesai mencuci piring. Ia pun ikut bergabung bersama Astrid ke ruang tengah. Dengan rapatnya ia mendekatkan diri di sebelah Astrid duduk.
"Yeobo," bisik Janus.
"Apa?" tanya Astrid dengan mata yang hanya fokus menatap layar televisi.
__ADS_1
"Jangan marah ya."
"Iya, tapi jawab dulu pertanyaanku."
"Pertanyaan apa?" tanya balik Janus dengan girang.
Astrid langsung saja menatap mata Janus."Jawab dengan jujur. Kamu masih suka sama kak Luna?"
"Sudah ku bilang beberapa kali, tak sedikit pun aku menaruh hati padanya. Perasaanku terhadapnya sudah lama pudar. Jika kamu marah karena tadi, aku minta maaf. Aku hanya tak bisa mengacuhkan orang yang meminta tolong. Terlebih lagi dia tengah terluka," tegas Janus.
Spontan Astrid pun dengan cepat mengecup bibir Janus. "Bagus kalau begitu, aku lega mendengarnya," ucapnya sembari tersenyum
Seketika raut wajah Janus memerah setelah bibirnya di kecup oleh Astrid.
"Kamu yang mulai duluan ya." Janus langsung saja memegang pipi sebelah kanan Astrid. Dan dengan cepat ia pun mencium bibir Astrid.
Bukan hanya kecupan saja yang di lakukan Janus terhadap Astrid. Melainkan mengelumat bibir mungil istrinya dengan nafsu. Sontak Astrid pun di buat terkejut saat Janus menciumnya. Bukan hanya terkejut saja, jantungnya pun di buat berdebar tak terkendali.
Janus memperdalam ciumannya dengan nikmat, hingga membuat Astrid memejamkan kedua matanya dan mengikuti alur pergerankan bibir yang di lakukan suaminya itu.
Tak berselang lama Janus menghentikan ciuman panasnya. "Cukup sampai di sini, jika lebih lama lagi aku bisa membahayakanmu," ucapnya dengan nafas yang ngos-ngosan. Begitu pun dengan Astrid yang juga ngos-ngosan setelah menahan nafas selama berciuman.
Setelah berciuman, entah mengapa keduanya menjadi canggung. Tak hanya itu saja, jantungnya pun berdebar begitu cepatnya. Sampai membuat Astrid tak berani menatap Janus. Astrid mengalihkan pandanganya sembari menggigit bibir bawahnya. Sementara Janus, setelah ia menghembuskan nafas panjangnya ia langsung terburu-buru pergi ke kamar. Keduanya tampak malu setelah berciuman panas. Ini memang kali kedua bagi mereka berciuman. Tapi ini adalah kali pertama bagi mereka berciuman dengan nikmat tanpa ada unsur ketidak sengajaan seperti waktu itu. Ciuman ini mampu membuat Astrid sangat puas, namun lain halnya dengan Janus yang ingin melakukan lebih dari sekedar berciuman saja.
__ADS_1