Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
64. Jadi Trending Di Sekolah


__ADS_3

Semua orang yang berada di kantin menyoraki dan meledek Vega yang di anggap mereka, Vega telah berprasangka buruk pada Astrid dan Janus. Niat Vega ingin mempermalukan Astrid malah dia sendiri yang kena batunya. Vega marah sekali pada semua orang yang meledek dan menyorakinya sebagai tukang fitnah. Tapi ia tak bisa mengutarakan marahnya, karena menahan malu setelah berkata buruk pada Janus dan juga Astrid. Terlebih lagi Janus merupakan seorang guru, Vega jadi tidak leluasa untuk melawannya.


Setelah meminta maaf, Vega tertunduk lesu sembari berjalan pergi dari kantin. Bukan hanya Vega saja yang merasa malu, akan tetapi semua temannya juga merasa malu.


Setelah insiden Vega yang mempermalukan Astrid, insiden tersebut jadi topik perbincangan. Satu sekolah heboh membicarakan Vega, Astrid, dan juga Janus. Terutama pengakuan Janus yang menyebut dirinya sebagai sepupu Astrid menjadi bahan perbincangan para murid di sekolah. Terlebih lagi Janus merupakan sosok guru paling tampan dan juga populer di sekolah.


Astrid sudah populer di sekolah setelah perubahan dari penampilannya yang cukup drastis. Semakin populer lagi di kala orang tahu bahwa Astrid merupakan sepupu dari guru paling di puja oleh kaum hawa. Vega yang sebagai wanita paling populer di sekolah, kini posisinya tergeser oleh Astrid. Hampir semua murid membicarakan Astrid, terutama murid perempuan yang tiap saat selalu membuat heboh dengan gosip-gosip yang topik utamanya adalah sepupu cantik dari Janus.


Mereka tak pernah tahu bahwa perempuan yang di sebut sepupu Janus itu merupakan istrinya. Menjadi pusat perhatian di sekolah, Astrid tak merasa senang justru ia merasa gelisah. Karena semakin populer ia, statusnya yang sebagai istri Janus cepat atau lambat mungkin akan terungkap.


Selama di sekolah Astrid tak pernah merasa tenang seperti dulu. Selalu saja ada murid perempuan yang berniat untuk mendekatinya. Bukan untuk berteman dengannya, melainkan mereka mendekati hanya ingin bisa dekat dengan Janus.


Astrid sangat kesal karena pria yang di minta mereka, merupakan miliknya yang tak mungkin bisa mereka gapai. Bukan murid perempuan saja yang berusaha mendekatinya, banyak dari murid laki-laki yang menggoda bahkan mendekatinya hanya untuk meminta nomor ponselnya.


Astrid di buat pusing dengan orang-orang yang terus saja mengganggu ketenangannya. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja.


"Tidak bisakah sehari saja mereka tidak menggangguku. Aku sudah muak, terutama perempuan-perempuan centil yang berniat mendekatiku hanya untuk bisa dekat dengan kak Janus," gerutu Astrid.


"Mana bisa tenang. Sekarang kamu sudah jadi perempuan paling populer di sekolah. Setiap saat kamu selalu menjadi pusat perhatian. Bahkan aku dan Hilda yang tak pernah di lirik orang-orang, ikut jadi pusat perhatian jika saat bersamamu," lontar Alula.


Hilda merangkul pundak Astrid. "Harusnya kamu senang karena sudah populer. Aku merasa kamu sudah seperti selebriti, aku bahkan bangga bisa berteman dengan perempuan populer sepertimu."


Seketika Astrid mendongkak ke arah Hilda, kemudian ia berbisik di telinganya. "Kamu pikir aku harus senang. Mana bisa senang, aku sangat kesal. Apa lagi perempuan-perempuan yang ingin mendekati suamiku. Bagaimana jika mereka terus mengusikku, dan bahkan mereka mungkin akan mencari tahu tentangku dan kak Janus. Aku pasti bakal ketahuan bahwa aku bukan sepupunya melainkan istrinya," ucapnya dengan penuh kecemasan.


"Iya juga sih. Jika suatu saat kamu ketahuan istrinya pak Janus, satu sekolah bakal patah hati karena kamu. Aku saja patah hati saat tahu kamu di jodohkan pak Janus. Aku bisa menerima dengan lapan dada karena kamu sahabatku. Tapi, jika mereka lain lagi. mereka mungkin akan menghujanimu dengan lemparan tomat," ucap Hilda yang juga berbisik.

__ADS_1


Ucapan Hilda mampu membuat Astrid gelisah setengah mati. Spontan Astrid pun langsung mencengkram kuat lengan sahabatnya itu. "Cukup bercandanya, bikin aku merinding saja."


Hilda melepas tangan Astrid dari lengannya."Tidak perlu memegang tanganku juga kali, tanganku kesakitan." Hilda kembali mendekatkan bibirnya di telinga Astrid. "Bukan hanya di lempari tomat saja, kamu mungkin akan di kurung di toilet oleh perempuan-perempuan yang tak bisa menerima kenyataan bahwa kamu istrinya pak Janus."


Dengan ekspresi yang penuh ketakutan, Astrid menggelengkan kepalanya. "Itu tidak mungkin terjadi. Sekali lagi kamu menakutiku aku lempar sepatu ya."


Seketika Hilda dan Alula pun di buat ketawa oleh Astrid yang kesal setelah di takut-takuti.


"Jangan di lempar. Mending jual saja sepatu mahalmu biar jadi duit," lontar Alula.


Astrid mengabaikan candaan temannya itu, ia kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja.


Lalu tiba-tiba saja Janus datang ke kelas sembari membawa sekantong kresek yang berisi cemilan dan minuman. Yang kemudian ia segera menghampiri istrinya.


"Kenapa kamu tidak pergi ke kantin. Apa kamu tidak lapar?" tanya Janus.


Janus kemudian meletakan sekantong cemilan di atas meja Astrid. "Aku sudah membelikan cemilan dan minuman. Kamu habiskan ya." Kemudian Janus menatap ke arah Hilda dan alula. "Kalian juga bisa ikut makan cemilan bersama Astrid."


"Wah terima kasih, pak Janus memang terbaik," ucap Hilda mengacungkan dua jempolnya.


"Iya sama-sama. Kalau begitu saya pergi sekarang, kalian tolong jaga Astrid dengan baik," ucap Janus tersenyum.


"Siap pak, kami pasti akan menjaga sebaik mungkin istri tercinta pak Janus," ucap Alula dengan suara rendah.


"Bagus," ucap Janus mengacungkan jempolnya lalu kembali melangkahkan kakinya keluar dari kelas.

__ADS_1


Hilda dan Alula membuka kresek yang berisi cemilan tersebut. Sementara Astrid, ia masih saja menelengkupkan kepalanya di atas meja.


"Trid, apa kamu tidak lapar?" tanya Hilda sembari membuka bungkus snack.


"Perutku lapar, tapi mulutku sedang tidak nafsu makan," jawab Astrid.


"Apa perlu aku panggilan pak Janus supaya datang lagi ke kelas. Biar kamu bisa di suapi, mumpung di kelas hanya ada kita," ucap Alula.


Spontan Astrid pun langsung saja mengangkat kepalanya. "Gila ya, di kelas memang sepi tapi lihat di luar banyak yang lewat."


"Iya sih hehe," ucap Alula tertawa kecil.


Astrid kemudian memgambil sebungkus snack di kantong kresek yang di bawakan suaminya itu. Ia membuka snack tersebut, namun belum juga ia melahapnya. Tiba-tiba saja seorang perempuan yang sekelas dengannya datang menghampiri.


"Trid, tadi aku lihat pak Janus habis datang ke kelas ya?" tanya perempuan tersebut dengan girang.


"Iya, dia datang ke kelas habis bawa cemilan buat Astrid," jawab Hilda sembari menguyah.


"Sebagai seorang kakak sepupu dia sangat perhatian sekali, seperti layaknya seorang kekasih. Aku saja yang punya kakak laki-laki tidak pernah di belikan cemilan olehnya," ucap perempuan tersebut.


Astrid mengehela nafasnya. "Menurutku sikap dia tidak seperti seorang kekasih, tetapi seperti kakak kepada adik perempuannya," ucap Astrid kesal.


"Iya sih, kamu beruntung punya kakak sepupu seperti dia. Oh ya, kata Vega kamu tinggal bersama pak Janus. Boleh dong sekali-kali ajak main aku ke rumahmu."


"Memangnya ngapain Astrid harus ngajak kamu ke rumahnya. Bukankah Astrid tak pernah dekat denganmu," lontar Hilda.

__ADS_1


"Siapa tahu kalau aku main ke rumah Astrid, aku mungkin bisa jadi sepupu iparnya."


"Kamu tak akan ada celah untuk bisa bersanding dengan pak Janus. Karena dia sudah memiliki tambatan hati," ucap Astrid yang semakin kesal.


__ADS_2