
Astrid bersama Luna pergi ke klub malam yang di tunjukan Luna lewat ponselnya. Untuk pertama kalinya, perempuan polos seperti Astrid menginjakan kaki di klub malam. Sungguh tak nyaman saat Astrid berada di sana, terlebih lagi para pria mabuk terus saja membuat ulah padanya. Beberapa pria mabuk menyentuh hingga menarik lengan Astrid.
Astrid dan Luna pun harus terburu-buru menemukan Bayu, bila tak ingin lebih lama di klub malam yang sangat menyesakan ini. Tiap kali Astrid ataupun Luna lewat di depan pria-pria nakal, mereka pasti akan kesulitan berjalan. Kesal dan marah memang sangat terasa di benak Astrid. Astrid menghela nafasnya, biarpun marah ataupun kesal, mau bagaimana lagi. Marah-marahpun tak ada gunanya bila memarahi pria yang tengah mabuk.
Demi menemukan Bayu, satu persatu pintu ruangan di buka Luna dan Astrid. Malu sudah, ketika ruangan yang pintunya di buka, hanya terdapat orang yang tak di kenal. Mereka pun harus meminta maaf kepada tiap orang yang pintu ruangannya di buka oleh mereka.
Sudah empat ruangan pintu di buka Luna dan Astrid. Ketika pintu ke lima di bukanya, mereka mendapati beberapa pria yang merupakan teman-teman dari Bayu.
"Di mana Bayu sekarang?" Tanya Luna panik sembari berjalan memasuki ruangan tersebut.
Salah satu pria yang tengah duduk di ruangan tersebut berdiri menghampiri Luna dan Astrid. Ia tersenyum sembari menatap istri putra pertama pengusaha kaya dari perusahaan STAR.CORP itu.
"Kamu mencari Bayu, lebih baik santai dulu di sini. Kita bersenang-senang, aku sudah menyiapkan minuman yang banyak."
"Aku tidak butuh bersenang-senang, yang aku inginkan mengetahui keberadaan Bayu sekarang," tegas Luna kesal.
Pria tersebut seketika tersenyum menatap Astrid. "Sepertinya kamu membawa perempuan cantik kesini." Lalu tiba-tiba ia menyentuh pipi istri dari Janus Geo Sayuda tersebut. "Sayang bila dia tidak menemaniku di sini. Kamu tahu di sini yang tidak membawa wanita hanya aku saja"
Sontak Astrid pun sangat kesal dengan sikap pria yang tak punya sopan santun tersebut. Dengan cepat ia menyingkirkan tangannya dari pipinya itu.
"Tidak usah menyentuhku, aku adalah wanita bersuami."
Pria yang merupakan teman iparnya tersebut seketika memiringkan senyumannya. "Wanita bersuami mana mungkin mau pergi ke klub malam, kecuali dia wanita murahan."
"Berhenti berbicara seperti itu, dia datang bersamaku untuk menemaniku mencari Bayu. Jadi, cepat katakan Bayu di mana?" tanya Luna sembari membentak.
"Kalian temaniku di sini terlebih dahulu, baru ku kasih tahu Bayu di mana," jawab Pria tersebut sembari beranjak kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Seketika Luna langsung saja menarik lengan Astrid, dan membawanya pergi keluar dari ruangan tersebut.
"Tidak perlu memberi tahu bila punya maksud lain," gerutu Luna.
Namun, saat Luna dan Astrid keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba pria yang tadi berada di ruangan datang mengikuti lalu menarik lengan Astrid. Sontak lengan Astrid pun terlepas dari tangan Luna.
"Apa yang kau lakukan," ucap Astrid kaget.
"Biarkan Luna pergi mencari Bayu, kamu denganku saja. Kamu tahu, aku adalah seorang CEO dari perusahaan PT Venus. Masa kamu tidak tertarik padaku sih."
Ucapan pria tersebut tak membuat Astrid mau menuruti perkataannya. Biarpun dia seseorang yang memiliki jabatan tertinggi di perusahaan, Astrid tak akan pernah tergiur untuk pergi menemani pria menyebalkan seperti dia. Ia pun berusaha melepaskan lengannya dari tangan pria yang mengaku seorang CEO tersebut. Namun, tangan pria tersebut terlalu kuat, hingga membuatnya kesulitan untuk terlepas.
Lalu tiba-tiba dua orang pria datang membantu Astrid melepaskan lengannya dari pria yang mengaku CEO tersebut. Astrid sangat terkejut ketika menatap dua orang pria yang menolongnya itu, ternyata Rio dan Wandi.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Wandi heran.
Astrid menelan salivanya, ia di buat gelisah setengah mati dengan keberadaan Rio dan Wandi di klub malam. Terlebih lagi mereka merupakan teman dekat suaminya, bahkan Astrid pergi tanpa sepengetahuan dari suaminya, bagaimana ia bisa mengaku.
Seketika Astrid memegang lengan Luna. "Sepertinya aku harus buru-buru pergi mencari kak Bayu, terima kasih sudah menolongku kak." Astrid beranjak pergi sembari menarik lengan Luna.
Pada saat Luna dan Astrid berada di tempat parkir, Luna mendapati mobil Bayu berada di ujung tempat parkir tersebut. Pintu mobil suaminya tampak terbuka.
"Sepertinya itu mobil Bayu," ucap Luna sembari terburu-buru pergi menghampiri mobil suaminya, dengan langkah yang di ikuti oleh Astrid.
Sesampainya di depan mobil, Luna dan Astrid mendapati Bayu tak sadarkan diri di kursi depan dengan mulut yang berbusa. Luna pun di buat panik dengan kondisi suaminya itu.
"Kak, kita harus cepat-cepat membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat," ucap Astrid yang juga panik ketika menatap kakak iparnya tersebut.
__ADS_1
Luna dan Astrid pun terburu-buru memapah Bayu, lalu memasukannya ke dalam mobil Luna. Setelah berhasil membawanya masuk ke dalam mobil, dengan cepat Luna segera menancap gas. Luna membawa suaminya pergi ke rumah sakit yang tak jauh dari klub malam.
Sesampainya di sana, Luna meminta tolong kepada salah satu perawat untuk segera membawa suaminya. Dua orang perawat datang terburu-buru sembari membawa hospital bed.
Dua orang perawat membawa Bayu menggunakan hospital bed ke UGD. Sementara Astrid dan Luna mengikuti dua orang perawat tersebut dari belakang.
Namun, tak lama mereka mengikuti, tiba-tiba ponsel milik Astrid berbunyi. Sontak Astrid pun langsung saja mengambil ponselnya dari saku hoodienya.
Astrid di buat terkejut ketika menatap layar ponsel, karena yang menelponnya merupakan Janus. Astrid sangat gugup saat akan mengangkat panggilan dari suaminya itu.
Di saat panggilan sudah di angkatnya, mula-mua Astrid menarik nafasnya, lalu menghembuskannya dengan panjang. Astrid pun mulai berbicara, namun Janus menjawabnya sembari marah-marah. Ia marah-marah sembari bertanya tentang keberadaan Astrid sekarang. Dan karena Janus sudah sangat marah, Astrid pun terpaksa harus memberi tahu Janus tentang keberadaanya.
***
Dua puluh menit setelah berteleponan, Janus datang menghampiri istrinya yang berdiri di depan ruang IGD bersama Luna.
Seketika Janus mendekap erat tubuh istrinya tersebut. "Apa kamu terluka? Kenapa kamu pergi ke klub malam, sudah tahu di sana banyak pria nakal."
Astrid melepaskan dekapan Janus. "Aku tidak terluka sama sekali. Dan dari mana kamu tahu aku pergi ke klub malam?"
"Aku di beri tahu Rio dan Wandi. Kamu tahu Trid, aku sangat khawatir setengah mati saat mendengar cerita dari teman-temanku. Apa kamu sudah gila sampai pergi kesana," ucap Janus bernada marah.
"Aku kesana hanya membantu kak Luna mencari kak Bayu. Aku tidak melakukan apa-apa selain mencari kak Bayu," terang Astrid dengan kepala yang tertunduk.
Janus menatap ke arah Luna. "Untuk apa kamu meminta tolong kepada istriku. Apa lagi sampai harus membawa istri polosku pergi ke klub malam."
"Maaf sudah merepotkan, tapi aku tidak tahu lagi harus meminta batuaan kepada siapa," ucap Luna bernada gugup.
__ADS_1
"Minta bantuanlah kepada teman-temanmu, kenapa harus istriku, sudah tahu hubunganku dengan Bayu tidak baik, dan kamu tidak tahu malunya meminta bantuaan kepada istriku. Bila tadi istriku sampai kenapa-kenapa, aku tidak akan pernah memaafkanmu," tegas Janus.
Tanpa pamit, Janus langsung saja menarik pergi Astrid dari rumah sakit. Lalu membawanya pulang ke rumah menggunakan mobilnya.