
Masalah Astrid dan Janus jadi semakin besar, kali ini Janus bukan hanya mendiamkan Astrid. Lebih tepatnya sudah tak memperdulikan istrinya tersebut.
Hampir setiap hari Janus selalu pulang malam. Tak pernah makan di rumah atau pun tiap kali ia pulang, yang di lakukannya hanyalah langsung tidur. Astrid penasaran mengapa suaminya selalu pulang terlambat. Sering kali ia bertanya kepada Janus, namun Janus tak pernah sekalipun menjawab pertanyaan Astrid. Marahnya Janus sudah di ambang batas. Ia sudah tak mau berbicara lagi dengan Astrid.
Karena Janus tak menjawab, Astrid pun bertanya kepada teman-teman suaminya. Dan menurut Rio dan Wandi suami Astrid sudah jarang kumpul bersama mereka. Bahkan tiap kali mereka mengajak Janus berpergian, Janus selalu berkata sibuk. Astrid pun semakin penasaran dengan kesibukan suaminya tersebut.
Ia pun mencari tahu dengan cara menghubungi sekolah tempat suaminya bekerja. Pihak yang menghubunginya menjawab, jika Janus sering menghabiskan waktunya di sekolah. Padahal guru-guru di sekolah selalu pulang paling lambat pukul lima sore. Tapi Janus tiap hari selalu pulang pukul sembilan malam.
Kali ini kesabaran Astrid sudah di ambang batas, ia perlu bertanya lagi sampai Janus mau menjawab. Astrid lalu menunggu di ruang tengah sampai pukul sembilan malam. Janus pulang dan lewat begitu saja tanpa memperdulikan Astrid yang sedari tadi menunggunya. Astrid pun lalu mengikuti suaminya masuk ke kamar.
"Apa yang kamu lakukan beberapa hari ini, kenapa selalu pulang terlambat?" tanya Astrid di tekuk kesal.
Janus tak menjawab dan mengabaikan Astrid begitu saja, yang ia lakukan hanyalah langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Karena Janus selalu mengabaikannya, Astrid pun tak bisa lagi membendung kekesalannya. Akhirnya ia pun meneteskan air matanya.
"Sikapmu benar-benar sudah membuat hatiku sakit," ucap Astrid sembari menangis.
Sontak Janus pun terbangun. "Kamu tak perlu mengkhawatirkanku, karena seharian aku selalu berada di sekolah."
"Untuk apa kamu seharian berada di sekolah. Bukankah jam pulangmu pukul lima sore," ucap Astrid kesal.
"Sudahlah jangan banyak bertanya dan berbicara padaku. Karena tiap kali berbicara, ujung-ujungnya akan bertengkar," ucap Janus yang kembali berbaring dan melanjutkan tidurnya.
__ADS_1
Astrid terlampau kesal dengan sikap suaminya tersebut. Bukannya menyelesaikan masalah, Janus malah lebih memilih mengabaikan Astrid. Hingga berhari-hari Janus masih saja mengabaikan dan mendiamkan istrinya. Hati Astrid sangat sakit dengan perlakuan suaminya tersebut, Janus bukan lagi Janus yang seperti biasa. Janus kembali menjadi pria yang sangat dingin, seperti saat pertama kali menikah dengan Astrid. Hidup bersama dalam satu atap tapi bagaikan hidup dengan sebuah pembatas.
Hingga suatu ketika pada siang hari, Janus menghubungi Astrid lewat telepon dan memintanya untuk datang ke restoran tempat biasa mereka dating. Astrid pun sangat senang saat suaminya tersebut memintanya untuk bertemu di restoran. Ia pun berpikir, bahwa mungkin suaminya meminta bertemu karena ingin memperbaiki hubungan.
Astrid pun lalu segera bersiap-siap, ia memilih baju yang paling bagus dan indah untuk di kenakannya. Berdandan secantik mungkin, karena mungkin setelah bertemu di restoran suaminya akan mengajaknya pergi berkencan. Astrid sangat bahagia ketika membayangkannya. Ia terburu-buru berdandan karena tak ingin membuat suaminya terlalu lama menunggu.
Setelah semuanya siap, ia pun beranjak pergi ke restoran untuk bertemu belahan jiwanya itu. Sesampai di sana, seperti biasa restoran tampak sepi karena Janus sudah menyewa restoran tersebut. Astrid tersenyum menghampiri meja tempat suami duduk.
Saat di hampiri, bukannya Janus senang tapi malah terlihat bersedih dengan kedatangan Astrid. Lalu seorang pelayan datang membawakan dua piring pasta dan menuangkan wine di gelas milik Astrid dan Janus.
"Aku sangat senang saat kamu memintaku untuk datang kesini. Terima kasih sudah mengajakku makan ke tempat dengan nuansa yang sangat romantis," ucap Astrid tersenyum girang sembari melahap pasta.
Raut wajah Janus masih saja bersedih, ia menundukan kepalanya sembari memainkan garfu di atas piring.
Lalu tiba-tiba saja Janus mengeluarkan selembar kertas dan meletakannya di atas meja.
"Trid, lebih baik kita berpisah saja," ucap Janus tanpa menatap.
Selembar kertas yang di letakan Janus merupakan surat izin cerai yang harus di tanda tangani oleh Astrid. Sontak Astrid pun terkejut dengan apa yang di bawa dan di lontarkan oleh suaminya tersebut.
"Aku dan kamu saling mencintai, mengapa harus berpisah. Aku sangat mencintaimu, aku tak ingin berpisah denganmu," ucap Astrid sembari meneteskan air di kedua matanya.
__ADS_1
"Setelah apa yang terjadi, aku sangat takut bahwa kamu akan meninggalkanku seperti Luna. Jadi lebih baik kita berpisah saja sebelum aku tak bisa lepas darimu. Dan perpisahan ini adalah yang terbaik untukmu, setelah berpisah kamu bisa menikmati hidupmu dengan bermain bersama teman-temanmu ataupun melanjutkan pendidikanmu. Dan aku pun akan bertanggung jawab dengan membiayaimu sampai nanti kamu memiliki suami lagi. Oh ya, kamu juga bisa memiliki apartemenku, dan aku akan pergi dari apartemen itu," ucap Janus yang masih saja tak menatap Astrid sedikitpun.
Air mata Astrid semakin deras setelah mendengar apa yang di ucapkan suaminya tersebut.
"Aku dan Luna adalah dua orang yang berbeda, dan aku tak akan pernah meninggalkanmu seperti dia. Lalu apa kamu sudah tak mencitaiku? jika kamu sudah tak mencitaiku, aku akan setuju berpisah denganmu," lontar Astrid.
Janus pun gugup dengan apa yang di tanyakan Astrid padanya. Keraguan pun muncul, hingga membuatnya kesulitan untuk menjawab. Tapi, demi perpisahan ini, Janus harus tegas menjawabnya.
"Iya aku sudah tidak mencintaimu, oleh sebab itu aku memintamu berpisah," ucap Janus tanpa menatap.
"Jika sudah tak mencitaiku, lalu mengapa kamu tak berani menatapku?" tanya kembali Astrid sembari mengusap air matanya di pipi.
Sontak Janus pun langsung saja menatap mata istrinya.
"Aku sudah tidak memiliki perasaan terhadapmu, jadi lebih baik kita bercerai saja," tegas Janus dengan kedua mata yang sedikit tergenang.
Astrid memiringkan senyumnya, lalu dengan cepat ia meraih kertas yang di simpan Janus di meja. "Dasar pembohong," ucapnya sembari merobek kertas yang berisi surat izin cerai tersebut.
Setelah merobek kertas, Astrid pun langsung saja beranjak pergi dari restoran. Astrid sangat kesal dan marah dengan Janus yang menginginkan perceraian padahal ia terlihat masih sangat mencitai Astrid.
Apa yang di bayangkan Astrid tak benar terjadi, ia pikir suaminya memintanya datang ke restoran karena ingin memperbaiki hubungan. Tapi malah meminta hal yang sangat di takutkan oleh Astrid. Astrid sangat mencintai Janus, ia sama sekali tak ingin berpisah dengan pria yang sudah menjadi belahan jiwanya itu. Perpisahan dengan Janus merupak hal yang paling menakutkan bagi Astrid. Bagaimana dengan kehidupan Astrid bila harus berpisah dengan Janus. Astrid lebih baik di abaikan terus-menerus di bandingkan harus berpisah dengan pria yang sangat ia cintai lebih dari apapun.
__ADS_1
Astrid kembali ke apartemen dengan tangis yang tak kunjung usai. Hatinya sangat sakit hingga membuatnya tak bisa menghentikan tangisnya. Astrid membaringkan diri di tempat tidur dengan kedua mata yang terus-menerus mengeluarkan bulir air.