
Satu bulan kemudian adalah hari di mana Astrid akan mengikuti ujian. Setelah mengikuti beberapa ujian di sekolah, di hari dan bulan ini Astrid akan mengikuti ujian terakhir di sekolahnya selama empat hari. Hari yang sangat menegangkan bagi Astrid. Selama sebulan penuh ini ia tak pernah ada kegiatan lain selain belajar. Setiap saat Astrid selalu saja memegang bukunya.
Saat sarapan mulutnya memang di sibukan menguyah, tapi matanya terus tertuju pada buku. Astrid sangat sibuk sekali dengan bukunya, hingga Janus pun di abaikannya.
"Apa kamu sedang menduakan aku," ucap Janus.
Sontak Astrid pun terkejut dengan ucapan yang di lontarkan suaminya tersebut.
"Apa maksudmu? kamu mencurigaiku berselingkuh. Selain belajar aku tak ada waktu berkencan dengan pria lain. Bagaimana bisa aku menduakanmu, lagi pula aku sangat mencintaimu," jawab Astrid dengan kedua alis yang terangkat.
Janus memainkan sendoknya dengan raut wajah yang di tekuk kesal. "Bukan dengan orang kamu menduakanku, tapi dengan buku-bukumu. Sudah beberapa hari ini kita seperti orang asing."
Astrid menghela nafasnya sembari menggelengkan kepala. "Kamu tahu kan aku akan melaksanakan ujian. Aku harus berusaha keras untuk mendapatkan nilai bagus untuk bisa masuk ke universitas terbaik. Bahkan selesai ujian pun aku masih tetap belajar, untuk persiapan ujian SBMPTN." Astrid tersenyum menatap suami yang masih saja di tekuk kesal. "Jika kamu cemberut gitu, kamu menggemaskan kaya anak kecil.
"Umurku lebih tua darimu, jangan memanggilku anak kecil, aku tidak suka," ucap Janus dengan kedua alis yang berkerut.
"Tapi tingkah lakumu benar-benar seperti anak kecil. Oh ya, apa lebih baik aku tidak melanjutkan studyku. Setelah lulus bagaimana jika aku langsung bekerja saja."
Seketika Janus langsung saja menyimpan sendoknya di atas piring, lalu menatap Astrid dengan tatapan serius. "Tidak, kamu harus melanjutkan studymu. Memangnya mau kerja apa jika kamu hanya lulusan SMA."
"Aku bisa bekerja jadi pelayan di restoran atau pun bekerja supermarket. Karena kedua tempat itu bisa menerima orang yang hanya lulusan SMA."
"Pokonya aku tidak setuju, kamu tetap harus melanjutkan sekolahmu ke universitas," tegas Janus.
"Jika kamu ingin aku melanjutkan study. Kamu tidak perlu kesal jika aku mengabaikanmu, karena aku kan sedang sibuk belajar untuk mendapatkan nilai bagus supaya bisa masuk universitas terbaik," ucap Astrid tersenyum.
"Iya.. iya aku tidak akan kesal. Lebih baik di abaikan dari pada kamu tidak melanjutkan studymu."
__ADS_1
Astrid melebarkan senyumannya sembari mengacungkan dua jempolnya. "Bagus, anak baik penurut sekali sih," canda Astrid.
***
Seusai sarapan Astrid pun terburu-buru berangkat sekolah. Seperti biasa, Astrid pergi ke sekolah bersama kedua body guardnya.
"Agak cepat ya bawa mobilnya supaya tidak telat," ucap Astrid saat memasuki mobil.
Salah satu body guard yang duduk di kursi supir pun mengangguk. "Baik, sebisa mungkin saya akan mempercepat lajuannya."
Saat mobil melaju, Astrid kembali membuka bukunya. Berulang kali Astrid mempelajari pelajaran di bukunya. Astrid tak pernah lelah untuk mengulang setiap kalimat di buku, karena mendapatkan hasil yang baik tidak hanya ia saja yang senang, suaminya pun mungkin akan ikut senang. Astrid sangat berusaha keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Bahkan ia juga berniat untuk memberikan kejutan kepada suaminya, apabila nanti ia mendapatkan nilai bagus dan masuk ke universitas terbaik.
Hingga membuatnya tak sabar untuk segera sampai di sekolah dan segera mengikuti ujian yang sudah lama di nantinya itu.
Sesampainya di sekolah Astrid pun terburu-buru turun dari mobil. Betapa semangatnya Astrid untuk mengikuti ujian, hingga membuatnya melangkahkan kaki dengan langkah yang cepat. Langkahnya yang terlalu cepat itu membuat kedua body guardnya tertinggal di belakang.
Lalu tiba-tiba saja seseorang lewat di sebelahnya sembari bergumam. "Ibu rumah tangga pergi sekolah," ucapnya dengan ekspresi yang seakan tengah menertawakan.
Sontak Astrid pun menghentikan langkahnya, ia tampak syok setelah mendengar ucapan yang seakan menyindirnya itu. Ia diam mematung dengan mata yang berkeliling menatap ke sekitar. Tubuhnya bergetar ketakutan menatap beberapa mata yang hanya tertuju padanya. Mereka yang menatap tertawa sinis pada Astrid.
Hingga tiba-tiba saja kedua teman Astrid berteriak memanggil sembari berlari menghampiri. "Astrid," seru keduanya.
"Apa kamu sudah lihat gruf chat sekolah," ucap Hilda dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Memangnya ada apa di gruf chat?" tanya Astrid heran.
"Foto pernikahanmu tersebar di gruf chat. Aku tak tahu pasti siapa yang menyebarkannya, tapi aku yakin itu pasti ulah Vega dan Bintang," tangkas Alula.
__ADS_1
Sontak Astrid pun langsung saja membuka tas untuk mengambil telepon genggamnya. Namun, benda kecil berbentuk persegi panjang itu tak terdapat di dalam tasnya.
"Sepertinya aku meninggalkan ponselku di rumah," ucap Astrid panik.
Hilda langsung saja menyalakan ponsel miliknya, lalu menunjukan gruf chat yang menyebarkan foto pernikahan sahabatnya tersebut. "Coba lihat, yang menyebarkannya pun tak memasang foto di nomor chatnya. Bahkan nomornya pun seperti tampak baru."
"Bagaimana bisa ini tersebar. Semua orang yang hadir di pernikahanku, sebelumnya sudah di beritahu untuk tidak menyebar luaskan pernikahanku ini," gumam Astrid sembari menatap layar ponsel milik sahabatnya tersebut.
Lalu tiba-tiba seorang guru datang menghampiri Astrid dan kedua temannya itu.
"Astrid, nanti selesai ujian kamu langsung datang ke kantor, ada yang ingin saya bicarakan."
Astrid di buat gugup setengah mati saat guru tersebut memintanya untuk datang ke kantor. Bukan hanya gugup saja, ia juga merasa malu dengan statusnya sebagai murid yang telah bersuami tersebut di sebar luaskan melalui foto pernikahannya. Dan Astrid yakin bahwa guru yang memintanya datang ke kantor itu, pasti akan membahas foto pernikahannya yang tersebar di gruf chat.
Setelah guru tersebut pergi, Astrid segera melangkahkan kakinya menuju kelas. Astrid yang tengah terlampau malu itu berjalan dengan kepala yang tertunduk. Bukan hanya malu saja, Astrid pun merasa kesal dengan orang yang sedari tadi tak bisa mengalihkan pandangannya dari Astrid.
Astrid tak tahu pasti siapa yang menyebarkan foto tersebut. Namun, siapapun yang menyebarkan foto pernikahannya, Astrid tentu sangat marah kepada orang yang menyebarkannya itu. Dan Astrid sangat yakin, bahwa orang yang menyebarkan foto pernikahannya adalah seorang murid yang berhubungan dekat dengan orang yang hadir di pernikahannya.
Saat berada di kelas, semua teman di kelasnya mengejek Astrid dengan sebutan. "Pembohong besar."
Astrid sangat kesal dengan orang-orang yang mengejeknya itu. Hingga membuatnya ingin sekali melawan dan memarahi orang-orang tersebut . Tapi apa boleh buat, ucapan yang di lontarkan mereka memang benar adanya. Bahwa baik Astrid maupun Janus memang pembohong besar yang telah membohongi satu sekolah.
Astrid pun hanya bisa diam membisu di tempat duduknya sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja. Berulang kali orang-orang mengejeknya, hingga membuat emosinya naik. Seketika Astrid pun mengebrak mejanya sekeras mungkin.
"Brak...
"Sudah cukup!" teriak Astrid.
__ADS_1