
Seketika Janus pun meraih pergelangan tangan Astrid, lalu menariknya hingga membuat tubuh istrinya mendekat pada tubuhnya. Air mata yang tergenang di kedua bola matanya, sekuat tenaga di tahan olehnya. Namun entah mengapa, ia lebih memperdulikan menahan air matanya di bandingkan dengan hasratnya ketika tangannya menarik tubuh Astrid mendekatkan dirinya di posisi yang sangat dekat hingga tak memiliki sebilah cela sedikitpun. Yang kemudian ia mulai mendekatkan wajahnya, menempelkan bibirnya secara cepat, lalu mulai memainkan setiap gerakan bibir yang tercipta dari hasratnya. Ketika bibir ini bermain, tiba-tiba air mata yang di tahannya sedari tadi mulai menjatuhkan diri membasahi setiap pipinya. Ini adalah momen yang membahagiakan dan juga membuatnya haru sekaligus. Ini mungkin bukan kali pertama mereka berciuman. Akan tetapi ini adalah kali pertama bagi mereka berciuman dengan hati yang berpadu menjadi satu setelah di landa masalah. Yang menciptakan sebuah perasaan yang di balut emosi. Saat Janus menghentikan gerakan bibirnya, nafasnya mulai ngos-ngosan seperti sehabis berlari jauh.
"Sepertinya ini tidak cukup." Janus menggengam kuat tangan Astrid menariknya pergi memasuki vila. Namun, saat pintu vila tertutup Janus kembali mencium bibir Astrid. Entah mengapa, ciuman yang berlanjut ini lebih agresif di bandingkan yang tadi.
Terlalu kuat ia mencium, hingga membuat kedua pipi Astrid memerah. Begitupun dengan hasrat Astrid yang juga terlalu kuat hingga membuatnya tak mau berhenti dari permainan ini. Ciuman ini terus berlanjut, menariknya memasuki kamar. Hingga Janus menjatuhkan Astrid di tempat tidur. Ia berhenti menciumnya, menatapnya dengan penuh pesona. Jantungnya berdebar sangat kuat menatap wajah cantik dari wanita yang tengah berbaring di bawahnya. Saat menatapnya, wajah Janus mengeluarkan rona merah, dan detakan jantungnya kali ini benar-benar berdetak tak karuan. Hingga beberapa detik kemudian, hasratnya kembali terbangun.
Kali ini hasratnya benar-benar sangat kuat. Seperti tarikan jupiter yang menarik satelit-satelitnya untuk mendekat diri padanya. Tapi ini bukanlah satelit Janus yang di tarik kuat oleh sang planet raksasa Jupiter. Dan perlu di tegaskan, ini adalah Janus si pria dingin yang telah di tarik kuat oleh sang hasrat yang terkubur dalam di tubuhnya.
Sangat kuat tarikan hasratnya, hingga ia tak bisa berpikir panjang dan membuatnya langsung membuka T-shirtnya. Janus pun memperlihatkan setiap inci dari tubuh yang di penuhi kotak-kotak seperti roti sobek. Yang kemudian ia pun kembali mencium bibir Astrid dengan penuh gairah.
Benar-benar penuh gairah ia memainkan bibirnya. Memasukan lidahnya ke mulut wanita yang telah membangunkan hasratnya. Yang tanpa sadar tanganya mulai memasuki blouse Astrid. Menyentuh dan membelai setiap inci tubuh wanita yang telah membangunkan hasrat terpendamnya itu. Hingga akhirnya kedua tubuh dari insan muda ini mulai berada di tingkat didih.
Janus pun langsung tancap gas membuka setiap kancing dari blouse yang di kenakan istrinya. Sembari membuka setiap kain yang terpasang rapih di tubuh istrinya, lelaki yang tengah bergejolak itu mencumbu tiap inci leher jenjang wanita yang terbaring di bawah tubuhnya.
Hingga suatu ketika, semua kain yang membaluti tubuhnya telah terlepas. Permainan sesungguhnya pun di mulai. Mereka pun melakukan hal panas di malam yang panjang ini, menciptakan sebuah momen terindah bagi pasangan suami istri yang hampir saja di landa perceraian. Ini benar-benar kali pertama bagi keduanya yang tak mungkin untuk dilupakan. Dan ini juga merupakan malam pertama mereka setelah tertunda sekian lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya Janus terbangun dengan perasaan senang. Sudah beberapa hari ini yang ia rasakan hanyalah perasaan sedih, gundah, dan gelisah. Mungkin ini bukan sekedar senang semata saja, tapi dapat di artikan lebih dari senang. Mungkin saja ini adalah kebahagian yang tak terhingga. Hingga membuatnya tak tega bila harus berpisah dengan belahan jiwanya itu.
Jika memikirkan tadi malam, Janus sangat malu karena untuk kali pertama ia melakukan hal itu bersama istrinya. Ia pun kembali mengeluarkan rona merah di wajahnya sembari memikirkan kejadian tadi malam.
__ADS_1
Janus sangat bahagia dan ia pun dengan tegas tidak akan pernah melepaskan wanita yang masih tertidur pulas di sampingnya. Astrid tertidur meringkuk sembari memunggungi Janus.
Janus mendekap erat tubuh wanita yang tengah tertidur sembari memunggunginya itu. Namun, tiba-tiba saja Janus seperti mendengar Astrid menangis. Sontak Janus pun terbangun dan menepuk pundak Astrid.
"Trid, kamu kenapa nangis?" tanya Janus panik.
"Hiks...hiks... sakit," ucap Astrid sembari merintih kesakitan.
Janus semakin panik saja saat menatap istrinya berbaring sembari menangis.
"Yang mana yang sakitnya?" tanya Janus.
"Semua badanku terasa sakit, jika bakal sakit gini aku tak akan pernah melakukannya.. hiks," jawab Astrid tanpa menatap Janus.
"Bagaimana aku bisa bilang. Aku sangat malu bilangnya," ucap Astrid dengan tangis yang tak mau berhenti.
Janus sangat merasa bersalah atas perbuatannya semalam. Ia pikir istrinya akan merasa senang seperti halnya dirinya saat ini. Tapi Janus malah berakhir menatap istrinya menangis setelah tadi malam mereka melakukan hal itu.
Tak lama Astrid menangis, ia pun bangun sembari menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
"Kenapa harus bangun sekarang. Lebih baik kamu berbaring lagi bila masih sakit," ucap Janus sembari menatap dengan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
Seketika Astrid pun mengambil bantal dan melemparnya ke arah wajah Janus. "Kenapa kamu menatapku seperti itu, dasar mesum.
Karena melempar bantal Astrid kena batunya, selimut yang di pegangnya melorot Jatuh. Sontak wajah Janus pun semakin memerah saat menatap tubuh telanjang dari istrinya.
"Akkhhhh, apa yang kamu lihat," teriak Astrid panik sembari kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya itu. "Cepat ambilkan pakaianku di bawah," ucap Astrid menunjuk pakaian yang tergeletak di bawah tempat tidur.
Sontak Janus pun panik dan terburu-buru mengambil pakaian istrinya tersebut.
"Jangan menyentuh pakaian dalamku," ucap Astrid yang juga panik saat tangan suaminya menyentuh pakaian dalamnya.
"Lalu aku harus bagaimana. Bukankah aku di minta mengambil pakaianmu," ucap Janus heran.
"Saran aku ya, lebih baik kamu keluar dari kamar, karena aku harus mengenakan pakaianku," ucap Astrid sembari meraih semua pakaiannya.
"Kenapa aku harus keluar dari kamar. Jika aku melihat bukannya itu hal yang wajar sebagai suami. Kita juga sudah saling melihat tadi malam, kenapa harus malu," ucap Janus sembari tersenyum menggoda menatap istrinya.
Sontak Astrid pun kembali mengambil bantal, lalu mengancam suaminya tersebut. "Cepat keluar, jika tidak keluar aku lempar lagi bantalnya."
Janus pun panik ia segera beranjak turun dari tempat tidur. "Iya...iya aku keluar. Tapi tunggu setelah aku pakai T-shirtnya," ucapnya sembari meraih T-shirt di bawah tempat tidur.
"Kamu kan sudah pakai celana. Pakai bajunya di luar saja," tegas Astrid di tekuk kesal.
__ADS_1
Sembari tertawa kecil, Janus pun terburu-buru keluar dari kamar. Tingkah polos istrinya itu mampu membuat Janus tertawa puas. Ia juga sampai menggelengkan kepala atas tingkah laku dari istrinya tersebut.