
Supir taxi membawa Astrid dan Luna pergi ke rumah sakit yang cukup jauh dari perkotaan. Butuh sekitar dua jam mereka untuk sampai kesana. Astrid memang cukup gelisah dengan tempat yang di tempuhnya itu, karena ia takut bila Janus akan marah, setelah ia menyampaikan pesan lewat Tika kepada Janus, bahwa Astrid tidak akan pergi lama, namun nyatanya tidak seperti yang di katakannya. Terlebih lagi ponselnya kehabisan baterai, dan mana mungkin ia bisa menghubungi suaminya. Meminjam pada Luna pun tidak mungkin, karena Luna tak ingin Janus tahu bahwa Astrid pergi karena menolongnya. Astrid juga tak ingin memberitahu Janus soal ini, ia takut bukan hanya dirinya saja yang akan tekena marah suaminya, tapi Luna juga akan terkena marah olehnya.
Sementara keadaan psikis Luna saat ini sedang terguncang akibat ulah Bayu. Tidak mungkin juga Janus harus memarahinya. Janus memiliki sifat pemarah, bila ia tahu Astrid pergi menolong Luna, bisa-bisa ia akan memarahinya seperti saat terakhir Astrid membantu Luna mencari Bayu, atau saat terakhir Astrid meminta Janus untuk menolong Luna.
Marahnya Janus memang bukan tanpa sebab, tapi ia tak ingin dirinya maupun istrinya terlibat dalam masalah Bayu.
Astrid sangat dilema, ia takut Janus marah bila suatu saat Janus mengetahui apa yang di lakukannya saat ini. Astrid menggeleng dan menyakinkan dirinya, bukan saatnya ia harus merasa dilema, karena menolong Luna merupakan suatu hal yang baik.
Sebelum pergi, Astrid berpamitan terlebih dahulu kepada wanita yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit.
"Kak, maaf tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku takut kak Janus marah-marah karena aku meninggalkan restoran terlalu lama."
Luna tersenyum sembari mengangguk. "Iya tidak apa-apa. Makasih sudah mau menolongku, hati-hati di jalannya."
Astrid pergi menggunakan taxi yang sama, karena tadi Astrid meminta supir taxi untuk menunggunya. Dua jam menuju rumah sakit dan dua jam pula Astrid pulang ke restoran.
Namun saat turun dari taxi, tiba-tiba Astrid di kejutkan dengan kedatangan Bayu. Ia menghampiri dengan raut wajah yang sangat marah.
Bayu mencengkram kuat kedua lengan istri dari adiknya itu. "Di mana Luna kamu sebunyikan. Cepat katakan di mana Luna sekarang!"
"Aku tidak tahu di mana Luna sekarang," jawab Astrid dengan panik.
Bayu memiringkan senyumanya. "Kamu pikir aku dapat di bohongi, aku sudah melihat di cctv di rumah, bahwa kamu yang membawa Luna pergi."
Bayu semakin kuat mencengkram lengan Astrid sampai membuatnya kesakitan. Lalu kedua matanya melotot dengan tingkat marah yang semakin mendidih.
"Katakan sekarang di mana Luna," bentak Bayu."
Astrid meninggikan suaranya. "Biarpun aku tahu di mana keberadaannya, aku tidak akan pernah memberitahu monster sepertimu."
__ADS_1
"Dasar gila!!" Bayu melepaskan cengkramannya dan sekuat tenaga ia mendorong Astrid ke tengah jalan, sampai ia terserepet motor.
Astrid terjatuh dengan luka di tubuhnya akibat dari serepetan sepeda motor. Kepalanya pun sedikit terbentur, hingga membuat penglihatannya sedikit buram. Dan tak lama kemudian ia pun tak sadarkan diri.
Orang-orang berbondong-bondong mengerumuni Astrid, sementara Bayu ia malah kabur setelah melukai adik iparnya itu.
Astrid harus di larikan ke rumah sakit sebelum lukanya semakin parah. Salah satu orang yang mengerumuninya, menghubungi rumah sakit untuk memesan ambulance.
Kecelakaan itu tak jauh dari restoran milik suaminya. Tak mungkin sampai tak terdengar oleh telinga Janus, karena kecelakaan tersebut sampai membuat banyak orang di restoran berhamburan ingin melihatnya.
Janus yang tengah gelisah menunggu kedatangan istrinya pun ikut penasaran, ia keluar dari restoran untuk melihat kecelakaan tersebut.
Janus terkejut setengah mati saat tahu bahwa orang yang mengalami kecelakaan merupakan istrinya sendiri. Ia menghampiri Astrid yang tengah berbaring di pinggir jalan.
Janus menepuk-nepuk pipi Astrid. "Trid... Astrid. Apa ada yang sudah menghubungi rumah sakit?" tanya Janus dengan panik.
"Saya sudah menghubungi rumah sakit, agar segera membawa ambulance kesini. Dan kemungkinan ambulance akan segera datang," jawab salah satu orang yang menolong Astrid.
Janus sangat gelisah, beberapa kali ia menghebuskan nafasnya, berharap bahwa ambulance cepat sampai di rumah sakit dan Astrid segera di tangani oleh dokter. Ia terus saja memegangi tangan istrinya.
"Yang kuat Trid, kamu harus bertahan," gumam Janus di batinnya.
Karena kecepatan dari ambulance, akhirnya ambulance yang di tumpangi Janus dan istrinya sampai di rumah sakit dalam kurun waktu lima belas menit. Astrid di bawa ke Unit Gawat Darurat untuk di tangani oleh dokter. Sementara Janus, ia harus menunggu sampai Astrid selesai di tangani.
Tiga puluh menit ia menunggu, dokter keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Janus dengan penuh kegelisahan.
"Istri bapak baik-baik saja, hanya terdapat luka ringan. Dan untungnya tidak ada pergeseran tulang, kepalanya pun tidak mendapati gegar otak, dia pingsan mungkin karena syok. Hari ini juga istri bapak bisa pulang. Dan sebelum pulang saya akan meresepkan salep dan beberapa obat agar lukanya cepat mengering."
__ADS_1
Akhirnya Janus bisa bernafas lega setelah mendengar kondisi yang di sebutkan dokter. Ia pun terburu-buru memasuki ruangan. Di dalam ruangan Astrid sudah dalam keadaan sadar, ia tengah menyender sembari memegangi luka di tangannya.
Dengan cepat Janus langsung saja memeluk istrinya.
"Aku sangat lega kamu baik-baik saja Trid."
"Maaf kak sudah membuatmu khawatir," ucap Astrid.
Janus melepaskan pelukannya, ia menatap Astrid dengan penuh amarah. "Kamu habis dari mana? kamu bilang tak akan pergi lama, tapi kamu malah pergi sangat lama. Dan kenapa kamu tidak bisa di hubungi."
"Maaf, tapi keadaanya sangat mendesak dan ponselku kehabisan baterai."
Janus menghela nafasnya. "Sekarang cepat katakan Luna di mana?"
"Eh, kenapa kamu tahu jika aku pergi bersama kak Luna," jawab Astrid heran.
"Tadi Bayu mencari Luna dan membuat keributan di restoran."
Lalu tiba-tiba pengendara motor yang menyerepet Astrid datang menghampiri.
"Permisi, saya tadi yang menyerepet mba ini. Saya juga kaget mba bisa tiba-tiba di tengah jalan, dan kata saksi yang melihatnya mba di dorong sama orang."
"Iya, saya memang di dorong sama orang, jadi ini murni bukan kesalahan bapak. Saya minta maaf karena sudah membuat bapak panik," ucap Astrid.
"Iya mba tidak apa-apa. Kalau begitu saya pamit pulang sekarang," pamit si pengendara motor sembari beranjak pergi.
Janus menatap sinis Astrid. "Jadi siapa yang mendorongmu tadi, Apa dia Bayu?"
"Hm, iya," jawab Astrid gugup dengan suara rendah.
__ADS_1
"Sudah ku bilang jangan ikut campur urusan Bayu, ini akibatnya karena kamu tak mau menuruti perkataanku. Jadi sekarang di mana Luna, aku harus memberitahu Bayu agar dia tak lagi membuat masalah," tegur Janus.
"Jika kamu bertanya keberadaan kak Luna hanya untuk memberitahu kak Bayu, aku tak akan pernah memberitahu. Kak Bayu sudah benar-benar gila, dia bahkan sampai mengurung kak Luna seperti hewan," ucap Astrid di tekuk kesal.