Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
42. Masih Kamu Yang Ku Cintai


__ADS_3

Astrid masih tenggelam dalam mimpi panjangnya, matanya sungguh berat untuk terbuka. Saat mimpi telah menghipnotisnya ia sama sekali tak ingin keluar dari sebuah cerita yang membuatnya sulit untuk terbangun. Setengah tersadar ia melihat Janus yang tengah membelai wajahnya sembari tersenyum menatapnya. Astrid pun seketika memegang pipi Janus dan membalas senyum manis dari suaminya.


"Apa kamu masih tak ingin bangun," ucap Janus.


"Iya aku tak ingin terbangun dari mimpi indah ini."


"Jika tak ingin telat ke sekolah, cepatlah bangun karena ini bukanlah mimpi."


Seketika Astrid pun tersadar bahwa memang ini bukanlah mimpi. Menatap Janus yang tengah tersenyum sembari mengusap wajahnya itu adalah sebuah kenyataan. Kedua pipi Astrid pun memerah, ia mengalihkan pandangan dari Janus.


Janus menarik lengan Astrid dan membantunya untuk terbangun dari tempat tidurnya. "Cepat mandi nanti telat."


"Hm, tapi aku belum menyiapkan sarapan dan beres-beres rumah," ucap Astrid sembari menggaruk tengkuk yang tak terasa gatal.


Janus kembali tersenyum manis menatap Astrid. "Tidak perlu, aku sudah lakukan pekerjaanmun, jadi kamu segera bersiap-siap. Aku tunggu di meja makan."


"Lagi-lagi kamu melakukan pekerjaanku. Itu tugasku, kenapa kamu yang melakukannya."


Janus mengacak-ngacak rambut Astrid sembari berkata. "Dasar kebluk, harusnya kamu bangun dari tadi jika tidak ingin aku yang melakukan pekerjaamu."


"Iya deh aku bakal bangun lebih pagi supaya tidak keduluan." Astrid pun beranjak pergi untuk segera bersiap-siap mandi dan berganti pakaian.


Selesai bersiap-siap, Astrid lalu bergabung untuk sarapan bersama Janus. Menu kali ini Janus membuat nasi goreng dengan telur mata sapi. Walaupun hidangan tersebut sederhana, namun itu sangat mengunggah selera. Bagaimana tidak, beberapa kali Janus membuatkan makanan, ia tak pernah gagal membuat puas perut Astrid.


Astrid melahap habis makanan yang di buatkan suaminya itu. "Ini sangat enak."


"Syukurlah kalau kamu menyukainya," ucap Janus tersenyum.


"Oh ya, soal semalam bukan maksudku untuk segera mendapat anak. Jadi kamu jangan bersikap agresif seperti tadi malam. Kamu tahu kan kalau aku belum lulus sekolah." Astrid terburu-buru pergi keluar apartemen dengan wajah yang memerah.


Seketika Janus pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sikap polos Astrid telah membuat Janus tertawa.


"Apa dia menggangap serius dengan sikapku semalam," gumam Janus.


Di balik kepolosannya, Astrid malah menyesal telah membahas anak kepada Janus. Ia benar-benar malu setengah mati, ia harap bisa menarik ucapannya kembali. Astrid berjalan sembari menunduk, hingga tanpa sadar bahwa Bintang tengah berdiri di depannya.

__ADS_1


"Jika kamu terus menunduk, kamu bisa menabrak," ucap Bintang.


Astrid mendongkak menatap Bintang yang tengah berdiri di depannya itu. "Bintang, ngapain kamu di sini?"


"Aku hanya ingin pergi ke sekolah bersamamu."


"Kenapa repot-repot menjemputku, aku bisa pergi sekolah naik angkot. Jarak rumahmu ke apartemenku kan jauh."


"Dasar Astrid, bukankah kamu ini pacarku. Aku tidak akan ke repotan jika harus mengantarmu pergi sekolah. Lebih baik kamu segera pakai helm dan naik ke motorku." Bintang memasangkan Helm kepada Astrid. Yang kemudian keduanya segera menaiki motor.


Namun di saat motor mulai melaju, tiba-tiba dering pesan dari ponsel Astrid berbunyi. Astrid pun segera mengeluarkan ponselnya dari saku bajunya dan segera mengecek pesan tersebut. Satu pesan singkat atas nama Titan adalah yang membuat ponselnya berbunyi. Dalam pesan tersebut Titan berkata. "Ingat perkataanku kemarin."


Astrid tak mempedulikan pesan yang di sampaikan oleh Titan. Ia langsung saja memasukan kembali ponsel ke dalam saku bajunya. Apa yang di peringatkan Titan, tak membuat Astrid manaruh curiga sedikitpun terhadap Bintang. Ia tak akan goyah hanya karena satu peringatan.


Astrid berpacaran dengan Bintang, namun hubungannya tak pernah di publikasikan. Hanya sekedar teman dekat saja yang mengetahui hubungan Astrid dan Bintang. Bahkan Alula dan Hilda pun sempat terkejut mendengar pengakuan Astrid yang berpacaran dengan pria yang paling populer di sekolahnya itu. Awalnya Hilda sempat menentang Astrid, tapi mau bagaimana lagi. Astrid sudah terlanjur berpacaran dengan Bintang.


Hingga satu minggu telah berlalu Astrid menjalin hubungan dengan Bintang. Namun, hubungan yang terjalin tak membuat perasaan Astrid beralih dari Janus. Astrid memang memiliki hubungan dengan Bintang. Tapi hatinya tetap saja tertuju pada pria yang hanya memiliki ikatan dalam sebuah kertas.


**


Bintang mengajak Astrid pergi ke rumahnya. Rumah besar yang bertingkat namun tampak sepi. Di rumah tersebut hanya ada seorang pembantu yang tengah menyajikan beberapa cemilan dan minuman di ruang tamu.


"Kemana ayah dan ibumu?" tanya Astrid sembari memperhatikan sekeliling ruang tamu.


"Ibuku sudah meninggal tujuh tahun yang lalu, kalau ayahku dia sedang bekerja dan akan pulang nanti malam."


Bintang bergeser dari tempat duduknya mendekat ke tempat duduk Astrid. Yang entah mengapa ia tak mengalihkan pandangannya dari wajah Astrid. Hingga tiba-tiba tangannya memegang erat tangan Astrid lalu berbisik. "Mau pergi ke kamarku tidak."


Astrid menelan salivanya, hatinya berdebar tak karuan saat nafas Bintang menyentuh daun telinganya.


"Tidak, aku pikir jika wanita masuk ke kamar laki-laki, bukankah itu tidak baik," ucap Astrid yang seketika bergetar ketakutan.


Bintang lalu berdiri dari tempat duduknya yang kemudian menarik Astrid untuk berdiri juga.


"Tidak apa-apa, kan cuma lihat-lihat kamarku saja."

__ADS_1


Astrid menghembuskan nafas panjangnya dan kembali meyakinkan dirinya untuk tetap berpikir positif.


"Hm baiklah," ucap Astrid melangkahkan kakinya bersama Bintang menuju kamar.


Namun, di saat pintu kamarnya akan di buka oleh Bintang. Tiba-tiba saja Titan datang dengan nafanya yang ngos-ngosan seperti sehabis berlari.


"Tunggu!" ucap Titan memegang tangan Bintang yang akan hendak membuka pintu kamar.


"Mau apa kamu kesini?" tanya Bintang heran.


Titan merangkul pundak Bintang lalu menariknya pergi menuju ruang tengah. "Bukankah kita ada PR matematika. Aku akan mengerjakan PR bersamamu di sini."


"Aku tidak ada niat untuk mengerjakan PR, aku bisa menyontek isinya besok di sekolah," ucap Bintang.


"Jika kamu mau temani aku mengerjakan PR sekarang, aku akan mengerjakan semuanya dan menulis ulang untuk PR mu. Jadi kamu tidak perlu repot-repot menulis."


Terpaksa Bintang pun tak menolak, karena ini merupakan kesempatan langka baginya. Kapan lagi Titan akan mengerjakan PR untuknya.


Astrid lalu mengikuti Titan dan Bintang pergi ke ruang tengah. Sepanjang hari Astrid hanya memperhatikan Titan yang tengah mengerjakan PR. Sementara Bintang hanya di sibukan bermain game online di ponselnya.


Hanya diam dan duduk saja membuat Astrid sangat bosan, ia pun menatap jam di ponselnya telah menunjukan 16.30. Sudah waktunya ia menyiapkan makan malam. Astrid pun kemudian berdiri dari tempat duduknya.


"Sudah sore, aku pamit pulang sekarang ya."


Bintang masih fokus memainkan game online tanpa sedikit pun menoleh ke arah Astrid. "Iya pulang saja, kamu bisa pulang sendiri kan."


Astrid sedikit kesal dengan sikap Bintang yang membiarkannya pulang dan lebih memilih memainkan game online di bandingkan sekedar mengantarnya ke depan. Tanpa berucap Astrid pun segera pergi keluar rumah.


Di saat Astrid akan hendak keluar dari gerbang rumah, tiba-tiba Titan berlari menyusul Astrid. Lalu menarik lengan Astrid.


"Tunggu, pulang bareng denganku naik motor."


"Bukankah kamu masih mengerjakan PR," ucap Astrid.


"Aku sudah selesai mengerjakan semuanya. Jadi kita pulang bareng saja."

__ADS_1


__ADS_2