Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
93. Omelan Untuk Janus


__ADS_3

Astrid dan Janus turun dari mobil lalu beranjak pergi menuju lift untuk naik ke apartemennya. Sesampainya di depan apartemen, lelaki yang kini tengah di bergejolak asmara itu seketika menggendong istrinya. Dengan langkah cepat ia membawanya masuk ke kamar lalu membaringkannya di atas tempat tidur.


Jantung Astrid mulai berdebar sangat cepat ketika matanya saling fokus menatap satu sama lain. Apa lagi ketika Janus mulai memancarkan senyum manisnya. Wajah tampan dari Janus sudah seperti berlian yang bersinar di bawah terik matahari. Jika di kamarnya yang paling bersinar itu lampu, tapi entah mengapa yang ada pikiran Astrid hanya wajah Januslah yang bersinar. Kulit putih bersih, wajah kecil, dengan mata besar, dan juga rambut model quiff haircut. Merupakan tampilan dari Janus saat ini, ia sudah seperti aktor korea saja. Hingga membuat Astrid terbayang dengan adegan dari drama yang pernah di tontonnya. Ketika sepasang kekasih saling menatap di atas tempat tidur. Maka akan ada adegan yang berakhir dengan ciuman panas. Sontak Astrid pun langsung saja memejamkan kedua matanya.


Ketika mata Astrid menutup, Janus tertawa samar sembari menatap wajah istrinya. "Aku sudah tahu apa yang kau inginkan."


Seketika Astrid pun membuka kembali kedua matanya. Matanya melebar dan rona merah di pipinya pun muncul.


"Apa mak..." ucapnya yang seketika terpotong ketika bibir Janus mendaratkan diri di bibir mungil milik wanita yang tengah membayangkan ciuman panas di drama korea.


Bukannya kembali menutup, mata Astrid malah terbuka lebar karena terkejut. Jantungnya sungguh berdetak tak karuan, hingga membuatnya tak bisa fokus melakukan ciuman. Kali ini yang berperan sebagai peran utama di ciumannya adalah Janus. Karena bibir Janus saja yang bergerak, sedangkan bibir Astrid hanya diam di kelumuti oleh mulut suaminya.


Janus semakin agresif mencium, hingga membuat wanita yang jantungnya tengah berdetak tak karuan itu mencengkram kuat baju milik lelaki yang tengah di kendalikan oleh nafsunya. Namun, belum sampai dua menit mereka berciuman, suara bel pintu berbunyi. Astrid pun langsung saja mendorong tubuh Janus dari tubuhnya.


"Berhenti! sepertinya ada tamu yang datang ke apartemen kita," ucap Astrid dengan nafas yang ngos-ngosan karena di tahannya selama berciuman.


"Biarkan saja, itu tidak penting." Janus mengabaikan perkataan Astrid, dengan cepat ia kembali mendaratkan bibirnya di bibir milik istrinya tersebut.


Dan lagi-lagi Astrid kembali mendorong tubuh pria yang tengah bernafsu mengelumuti mulutnya itu.


"Ku bilang berhenti! aku harus membuka pintu," tegas Astrid beranjak turun dari tempat tidur.


Janus menghela nafasnya, dan raut wajahnya pun di tekuk kesal karena ia masih belum puas mencium istrinya itu. Janus beranjak turun dari tempat tidur dan mengikuti langkah istrinya menuju pintu depan.


Pada saat pintu di buka, Janus dan Astrid cukup terkejut dengan kedatangan teman-temannya. Termasuk juga Titan yang turut hadir bersama teman-teman Janus dan Astrid.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Hilda meraih kedua tangan Astrid. "Kenapa wajahmu merah Trid, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya dengan penuh kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja, tubuhku juga sangat sehat," jawab Astrid terheran-heran.


Hilda tak percaya dengan jawaban yang di lontarkan sahabatnya itu. Terlebih lagi ia masih teringat saat Janus dengan tega pergi tanpa pamit meninggalkan Astrid. Ia pun menatap sinis Janus, lalu dengan cepat ia mencubit tangan suami dari sahabatnya tersebut.


"Ini pasti ulah pak Janus kan, kemarin sudah bikin istrinya kesusahan dan sekarang bikin dia sakit. Astrid masih sakit, bapak sudah bikin dia tambah sakit lagi kan," ucap sinis Hilda.


"Kamu benar-benar tidak sopan, padahal aku ini gurumu. Lagi pula hari ini aku tidak membuat hal yang membuat Astrid sakit. Malah hari ini aku sudah membuat istriku melayang," ucap Janus sembari mengusap lengannya yang kesakitan setelah di cubit oleh Hilda.


"Lagi pula pak Janus sekarang bukan guruku, tapi mantan guru. Dan aku tidak percaya dengan ucapan pak Janus itu," lontar Hilda.


Sontak Astrid pun tertawa atas kecurigaan dari sahabatnya tersebut. Karena ia sadar bahwa wajahnya memerah bukan karena ia tengah sakit. Melainkan tadi ia habis berciuman dengan suaminya. Dan di balik kemarahan Hilda ada satu orang yang tampak panik menenangkannya. Siapa lagi kalau bukan Rio, si pria yang tengah di mabuk cinta oleh sahabat dari istri Janus.


"Sayang jangan marah-marah gitu, ga baik loh buat kesehatanmu," ucap Rio sembari meraih tangan Hilda.


Semuanya pun masuk ke apartemen, Setelah memasuki apartemen, Wandi meletakan kantong yang berisi pizza di atas meja. "Aku bawa pizza, tapi lupa tidak membeli cola."


"Di dalam lemari es ada cola, aku akan ambil colanya," ucap Astrid segera beranjak menuju dapur untuk membawa cola dan gelas.


Di saat Astrid tengah sibuk mengambil gelas dan cola. Semua teman-temannya tengah menatap sinis Janus. Janus pun kebingungan, hingga membuatnya menggaruk tengkuk walaupun tak terasa gatal.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Janus tersipu malu.


"Malah nanya. Harusnya kamu sadar, dua hari pergi dan sudah membuat istrimu sampai sakit. Dasar pria tidak bertanggung jawab," lontar Bianca menatap sinis Janus.

__ADS_1


Bukan hanya Bianca saja yang mengomel, tapi semua teman-temannya pun juga ikut mengomeli pria yang selama dua hari pergi tanpa kabar. Janus bukannya merasa bersalah, ia malah menertawakan omelan dari teman-temannya itu. Bagaimana tidak tertawa, di saat semua temannya mengomel. Mereka tampak seperti bercanda saat mengomelinya, terutama kedua temannya Rio dan Wandi.


"Berhenti mengomeli suamiku. Bukan hanya dia saja yang salah tapi aku juga bersalah karena sudah membuatnya pergi," ucap Astrid sembari meletakan cola dan gelas di atas meja.


"Tapi Trid, dia sudah bersikap kekanak-kanakan. Pergi ninggalin kamu sendiri di sini, itu namanya suami yang tidak bertanggung jawab," lontar Hilda kesal.


"Sttt... behenti mengomel. Lebih baik kita makan pizza sekarang," ucap Astrid sembari membuka kotak pizza. "Oh ya, ngomong-ngomong hari ini sikap kak Rio sama Hilda tampak berbeda."


"Jelas berbeda karena baru-baru ini mereka berpacaran. Kamu tahu Trid, di sini semuanya berpasangan. Sebenarnya aku malas datang, karena sepertinya aku sudah jadi nyamuk di antara kalian," lontar Alula di tekuk kesal.


Seketika Janus pun tertawa. "Bukannya yang duduk di sebelah Bianca juga jones ya," tunjuk Janus kepada Titan.


Titan menunjuk dirinya sendiri. "Maksud kamu aku."


"Iya, siapa lagi yang jomblo selain kamu dan Alula. Jika kalian berpacaran bukannya kalian sudah seperti pasangan serasi," ucapnya dengan gelak tawa. Begitu pun dengan semuanya yang juga ikut tertawa atas ucapan Janus tersebut.


Namun, lain halnya dengan Alula dan Titan yang di tekuk kesal atas ucapan Janus tersebut.


"Aku mana mau sama pria bodoh seperti dia," lontar Alula dengan tangan yang melipat di dada.


"Begitupun dengan aku yang juga mana mau sama perempuan jelek bermata sipit sepertimu. Apa lagi jika tersenyum matamu langsung hilang," ucap sinis Titan. Yang kemudian ia mengambil sepotong pizza.


Seketika semuanya kembali menertawakan Titan dan Alula, ketika tangan keduanya bersentuhan karena mengambil potongan pizza yang sama.


"Sudah ku bilang kalian cocok," lontar Janus tertawa puas menatap dua orang yang tengah di tekuk kesal setelah di tertawakan.

__ADS_1


"Tidak cocok," lontar Alula dan Titan secara serentak.


__ADS_2