
Siapa pria yang bernama Bima, pikiran itu terus muncul di kepala Janus. Janus memang tak merasa penasaran dengan Yeni dan Bima. Lagi pula, ia tak pernah mau peduli dengan kehidupan ibu sambungnya itu. Yang jadi pertanyaan bagi Janus, mengapa Bima meminta Janus untuk menjaga Bayu. Terutama saat Bima meminta Yeni untuk bertemu lagi di restorannya. Ucapan Bima seakan mengancam Yeni, hingga membuat Janus berpikir bahwa Yeni tengah menyembunyikan sesuatu yang berkaitan dengan Janus.
Wanita yang selalu berani mencaci itu, merasa ketakutan saat Janus memergokinya bertemu dengan pria lain. Bukan hanya itu saja yang membuat Janus penasaran, tapi sikap dari Bima menjadi pertanyaan bagi Janus. Bila Yeni tampak gelisah dan ketakutan saat di temui Janus, lain halnya dengan Bima yang tampak baik-baik saja. Jika memang benar Bima adalah selingkuhan dari ibu sambungnya, mengapa ia tak merasa takut dan gelisah saat di temui oleh Janus.
**
Jam sudah menunjukan pukul lima sore, Janus masih tak bisa keluar dari pikirannya. Sampai ia tak sadar bahwa bahan-bahan untuk di masak sudah habis.
"Sepertinya bahan-bahanya sudah habis. Apa perlu saya pesankan untuk bahan-bahannya, karena ini belum pukul tujuh malam?" tanya Deva.
"Tidak perlu, lebih baik kita tutup saja restorannya. Lagi pula kita pasti semua capek, setelah banyak pelanggan yang berdatangan," jawab Janus.
Janus pun terpaksa harus menutup restorannya, setelah tahu bahwa bahan-bahan untuk di masak sudah habis. Terutama ia juga tak mau membuat istrinya semakin kelelahan setelah melayani banyak pelanggan.
"Bila semua bahan-bahan sudah habis terjual, apa kamu tidak berbelanja terlebih dahulu sebelum pulang?" tanya Astrid ketika ia dan suaminya berada di perjalanan pulang.
"Mengapa harus ribet berbelanja, aku hanya tinggal menghubungi peternak untuk membeli daging. Dan untuk sayuran aku hanya tinggal menghubungi petani. Membeli di pasar atau di supermarket, belum tentu berkualitas seperti yang di jual petani dan perternak secara langsung. Dan untuk bumbu impor dari korea, aku sudah menghubungi toko langgananku. Jadi semuanya besok tinggal mengantar ke restoran," jawab Janus sembari menyetir mobil.
Belum setengah perjalanan mereka lalui, tiba-tiba Astrid di buat heran ketika menatap ke arah pinggir jalan. Ia di buat heran, karena di sana ada Bayu dan Luna. Saat ini mobil Janus tengah berhenti di lampu merah, oleh sebab itu Astrid bisa dengan cepat mengenali dua orang yang tengah berdiri di pinggir jalan.
"Bukankah itu kak Bayu sama kak Luna ya," ucap Astrid menatap ke arah kedua iparnya itu.
Spontan Janus pun langsung saja menatap ke arah istrinya melihat. "Iya memang benar mereka. Jangan terus menatap mereka, bisa-bisa matamu kelilipan," lontar Janus.
Astrid tak bisa berhenti menatap ke arah Luna dan Bayu, karena ia sangat terheran-heran dengan gelagat keduanya. Mereka tampak seperti bertengkar, bahkan Bayu tampak seperti tengah membentak Luna. Hingga membuat Astrid tak mau mengalihkan pandangannya dari mereka.
Lalu Astrid pun di buat terkejut saat tiba-tiba tangan Bayu mencengkram lengan sembari menjambak rambut istrinya itu.
__ADS_1
"Kak Janus, lihat sepertinya kak Bayu tengah berbuat kasar sama kak Luna," ucap Astrid panik.
Seketika Janus pun langsung saja menatap ke arah Luna dan Bayu. Janus sampai menghela nafasnya ketika melihat kelakuan dari kakaknya itu.
"Sudahlah Trid, kamu jangan terlalu pedulikan mereka."
"Tidak kak, kita harus menolong kak Luna. Dia akan terluka parah jika di biarkan," ucap Astrid yang masih panik menatap Luna dan Bayu.
"Trid, jika kita ikut campur urusan mereka, Bayu akan membuat masalah kepada kita. Kamu ingat kan, gara-gara Luna menghubungiku, kamu jadi kena imbasnya karena ulah Bayu," ucap Janus sembari menancap gas kembali ketika lampu sudah berwarna hijau.
"Kak, kita harus kembali kesana dan menolong kak Luna. Jika kamu tidak berani menolongnya, berarti kamu sama saja seperti kak Bayu," rengek Astrid dengan kesal.
Astrid melipat lengannya di dada, ia yang tampak kesal itu sudah membuat Janus tak bisa lagi menolak untuk kembali ke jalan di mana Bayu dan Luna berada. Janus pun langsung saja berbalik arah, dan Berhenti di tempat Bayu dan Luna.
"Sudah puas kamu kesalnya, ayo turun," lontar Janus kesal sembari mematikan mesin mobilnya.
Di saat mereka turun, mereka sangat di kejutkan dengan aksi Bayu yang tengah mencekik Luna di samping mobilnya. Janus yang tengah santai itu, berubah jadi panik, lalu segera menghampiri Bayu dan Luna.
Sekuat tenaga, Janus pun langsung saja meraih kedua tangan Bayu. "Kamu sudah gila! sampai berani mencekik istrimu sendiri," bentak Janus.
Mata Bayu tampak merah, kulitnya pucat, serta badanya pun tampak lebih kurus, dari pada saat terakhir mereka bertemu. Terlebih lagi bau alkohol dari mulut serta badannya tercium sangat menyengat. Hingga membuat Janus sampai mengerutkan kedua alisnya.
Bayu menyeringaikan senyumnya sembari menatap sinis adiknya itu. "Lepaskan tanganku, dasar anak wanita simpanan," bentak balik Bayu.
Sontak Janus pun di buat marah, saat Bayu membentak sembari menyebutnya sebagai anak wanita simpanan. Dengan cepat, Janus langsung saja memukul wajah Bayu.
"Brengsek!"
__ADS_1
Bayu terjatuh, ia menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya setelah di pukul oleh janus. Lalu ia berdiri dan kembali menyeringaikan senyumannya.
"Kamu berani sekali mencampuri urusanku. Apa jangan-jangan kamu peduli sama Luna karena masih menyukainya."
"Suamiku tak lagi menyukai istrimu. Akulah yang memintanya untuk membantu kak Luna dari pria jahat sepertimu," lontar Astrid.
Bayu marah, ia membalas pukulan Janus. Namun, pukulannya tak sampai mengenai adiknya itu. Karena tubuhnya sempoyongan, dan ia juga tak kuat untuk bergerak setelah di pukul oleh Janus.
Lain halnya dengan Janus yang langsung saja kembali memukuli Bayu, setelah ia merasa terancam oleh Bayu yang akan membalas pukulannya itu. Astrid pun di buat panik saat menatap suaminya yang tak berhenti memukuli kakak iparnya.
Astrid menarik lengan Janus. "Berhentilah memukulinya," ucap Astrid meninggikan suaranya.
Setelah di hentikan oleh Astrid, Janus akhirnya berhenti memukuli kakaknya. Bayu pun kembali berdiri, lalu berjalan sempoyongan menghampiri Luna yang tengah menangis di samping mobilnya.
"Ayo kita pulang sekarang," ucap Bayu sembari meraih lengan istrinya.
Seketika Luna melepaskan tangan Bayu dari lengannya, lalu berlari ke arah belakang Janus sembari memegangi lengan adik iparnya tersebut.
"Tolong bawa aku pergi jauh darinya," ucapnya dengan ekspresi yang penuh ketakutan.
Astrid dan Janus pun segera menarik Luna, dan terburu-buru membawanya pergi jauh dari Bayu.
"Karena mobilku hanya cukup di pakai untuk dua orang saja, jadi lebih kamu sama Luna aku pesankan taxi. Dan aku akan membuntutimu dari belakang. Untuk malam ini saja, Luna akan menginap di rumah kita," ucap Janus sembari menatap layar ponselnya.
"Lalu bagaimana dengan kak Bayu, sepertinya dia tampak mabuk. Dan akan berbahaya jika dia menyetir sendirian," lontar Astrid.
"Nanti aku akan menelpon supir pribadi ayahku, agar dia bisa di jemput olehnya. Yang terpenting untuk saat ini, taxi segera datang untuk mengantar kalian."
__ADS_1