Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
62. Sosok Ibu Yang Di Rindukan


__ADS_3

Keluarga hangat dan harmonis, Astrid sangat beruntung memiliki keluarga seperti itu. Janus yang sebagai menantu, di sambut hangat oleh keluarga dari istrinya. Suasana yang tak pernah di rasakan Janus sebelumnya. Bahkan perhatian yang belum pernah di rasakannya, kini Janus rasakan saat berada di rumah mertuanya. Baik Pratama maupun Maya, mereka memberikan sebuah perlakuan yang membuat Janus seperti layaknya anaknya sendiri.


Tindakan bahkan perhatian khusus yang di berikan mertuanya tak pernah Janus rasakan selama ia tinggal bersama ayahnya. Tiap kali pulang, Janus hanya menerima perlakuan dingin dari ayahnya, bahkan Janus pun hanya mendapat sebuah cacian dari kakaknya maupun dari ibu sambungnya. Janus tak pernah di perlakukan hangat terkecuali oleh Baskara yang sebagai kakeknya. Lain halnya saat Janus berada di rumah mertuanya, ia benar-benar di perlakukan layaknya seorang anak.


Hatinya semakin tersentuh ketika Maya membantu mengambilkan sepiring nasi dan lauk untuk Janus. Sosok keibuan Maya adalah hal yang Janus rindukan. Karena setelah ia tinggal di Indonesia bersama ayahnya, Janus tak pernah sekalipun di perlakukan layaknya seorang anak oleh seorang ibu. Hingga membuatnya teringat kembali akan kenangan bersama Kim Yu Na di korea. Sosok ibu yang sangat di rindukannya terlintas jelas dalam ingatannya saat ini. Sampai membuat hatinya menangis haru. Ia terdiam, menahan tangisnya sembari menunduk menatap sepiring makanan di depannya.


"Kenapa belum di makan, apa makanan mamah kurang menarik untuk makan?" tanya Maya.


"Tidak, ini sangat menggiurkan," jawab Janus yang langsung saja melahap makanan yang di sediakan mertuanya tersebut.


"Kalau begitu habiskan ya," ucap Maya tersenyum.


Janus mengangguk lalu menyantap dengan lahap sepiring makanan di depannya itu. Sementara Astrid, ia sangat menikmati masakan ibunya yang sudah lama ia tak rasakan.


"Ini enak sekali. Selama di apartemen aku hanya bisa makan masakan buatanku dan kak Janus. Aku benar-benar merindukan rasa yang di buat mamah," ucap Astrid yang fokus menyatap sepiring makanan.


"Jadi Janus pandai memasak," ucap Maya.


"Iya mah, kak Janus pandai sekali memasakan. Bahkan tiap kali kita makan, kak Janus lebih sering memasak di bandingkan aku. Apa lagi tiap kali dia memasak, dia selalu membuatku terpesona," puji Astrid.


Sontak Janus pun tersipu malu atas pujian Astrid terhadapnya. "Apa tiap kali aku masak kamu selalu terpesona?" tanyanya dengan kedua pipi yang memerah.


"Jelaslah, kamu tampan sekali saat memasak. Apa lagi wajahmu sangat mirip pria di drama korea, suami yang pandai memasak itu sangat jarang. Bukan hanya tiap memasak kamu membuatku terpesona, tapi tiap saat kamu selalu membuatku terpesona. Aku sangat beruntung memiliki suami sepertimu" puji kembali Astrid.


Seketika Maya pun tersenyum mendengar pujian yang di lontarkan anak sulungnya terhadap menantunya itu. "Dasar bucin. Pantas Janus mirip pria di drama korea, karena memang dia keturunan orang korea." Maya pun mengelengkan kepalanya lalu menatap ke arah Janus. "Putri mamah sudah tergila-gila kepadamu. Jadi setelah Astrid lulus kalian harus segera memberi mamah cucu."

__ADS_1


"Iya itu memang harus. Kakek sangat tidak sabar memiliki cicit dari kalian," lontar Pratama.


Sontak Janus pun tersedak setelah mendengar permintaan dari mertuanya itu. Janus terburu-buru mengambil gelas yang berisi air putih di samping piringnya, lalu segera meneguknya. "Bukankah terlalu cepat jika Astrid harus memiliki anak setelah lulus. Saya ingin Astrid fokus dulu melanjutkan pendidiknya."


"Aku tak apa jika pendidikanku tak di lanjutkan. Lagian aku sudah sangat bosan bila harus terus belajar. Bagaimana jika setelah lulus aku bekerja saja, atau fokus mengurus rumah tangga saja," ucap Astrid.


Janus menggeleng. "Tidak, masa depanmu itu masih panjang. Kamu harus melanjutkan pendidikan di universitas. Kamu menikah di usia muda, dan aku tak ingin menghancurkan masa depanmu. Kamu harus menikmati masa mudamu, bukan hanya mengurus rumah tangga saja."


Seketika senyum Astrid pun pudar, ia memalingkan pandangannya dari Janus. "Baiklah aku akan melanjutkan pendidikanku. Tapi jika aku hamil di saat melanjutkan pendidikan, aku boleh cuti dari kuliahku kan."


"Tentu saja, tapi setelah melahirkan kamu harus kembali kuliah," tegas Janus.


...****************...


Astrid dan Janus mencium tangan Johan, Maya, dan juga Pratama.


"Saya pamit pulang sekarang," ucap Janus.


"Iya hati-hati jangan sampai ngebut bawa mobilnya, dan tolong jaga Astrid sebaik mungkin," ucap Johan.


"Tentu saja, saya pasti akan menjaga putri papah sebaik mungkin," ucap Janus tersenyum.


Setelah berpamitan, Janus dan Astrid segera memasuki mobil. Di saat mobil sudah di lajukan Janus, entah mengapa hati Astrid merasa sedih menatap kedua orang tua dan kakeknya yang tengah berdiri menatapnya pergi. Astrid bersedih karena ia yang sudah menikah tak bisa setiap hari bertemu dengan keluarganya.


Ia yang setiap harinya harus di sibukan sekolah dan mengurus rumah bahkan harus pula mengurus suaminya tak ada waktu untuk menemui keluarganya. Kapan lagi ia akan menemui orang tuanya, bahkan di hari libur pun Astrid tak ada waktu untuk menemui orang tuanya. Apa lagi ini hari-hari menuju ujian di sekolah, mana ada waktu Astrid berpergian. Ia harus di sibukan belajar menjelang ujian yang akan di laksanakannya bulan depan.

__ADS_1


Tiga puluh menit sudah Janus dan Astrid pergi dari rumah Pratama. Mereka akhirnya sampai di depan gedung apartemen. Namun, saat Janus akan membawa mobilnya ke parkiran bawah tanah, dering panggilan dari ponselnya berbunyi. Untuk mengangkat panggilan di ponselnya Janus pun terpaksa harus menghentikan mobilnya terlebih dahulu.


"Siapa yang menelepon?" tanya Astrid.


"Wandi meneleponku," jawab Janus menatap layar ponsel. Lalu segera mengankat panggilan dari temannya itu.


Beberapa menit Janus berteleponan dengan Wandi. Janus meminta Astrid untuk pulang duluan ke apartemennya. Sementara ia, akan pergi menemui temannya itu. Astrid pun terpaksa harus pulang seorang diri.


Namun, di saat akan memasuki gendung apartemen, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika matanya tertuju menatap ke arah pos satpam. Ia di kejutkan dengan kedatangan Vega dan Bintang. Astrid menatap jauh Vega dan Bintang yang tengah mengobrol dengan seorang satpam yang berjaga di pos tersebut. Astrid merasa penasaran dengan apa yang di obrolkan kedua orang yang membuatnya kesal saat berada di pantai. Karena penasaran, Astrid pun menunggu mereka pergi sembari memperhatikannya dari jauh.


Dan setelah mereka pergi, Astrid pun langsung saja terburu-buru pergi ke pos satpam.


"Maaf pak, dua orang tadi membicarakan apa sama bapak?" tanya Astrid.


"Tadi mereka bertanya, apa mba Astrid sama mas Janus tinggal bersama di apartemen ini. Saya jawab iya tinggal bersama karena mba Astrid sepupunya mas Janus."


Lalu tiba-tiba saja Titan datang menghampiri Astrid. "Mereka juga tadi menelponku, untuk bertanya tentang hubunganmu dengan pak Janus," lontar Titan.


"Mengapa mereka bisa bertanya seperti itu," ucap Astrid heran.


Seketika Titan langsung saja menarik lengan Astrid dan membawanya pergi dari pos satpam. "Mereka melihat mobil pak Janus keluar dari vila yang kamu masuki bersama tunanganmu. Lalu tunanganmu yang kamu maksud siapa?" tanya Titan.


"Tadi mereka bertemu denganku dan kak Janus di pantai. Tapi aku menutupi wajah kak Janus dengan selimut. Dan aku mengaku bahwa kak Janus adalah tunanganku," jawab Astrid lalu menghela nafasnya. "Bagaimana jika mereka tahu tentang hubunganku dengan kak Janus," ucapnya gelisah.


"Tenang saja, tak akan ada yang tahu tentang hubunganmu dengan pak Janus selain aku dan kedua temanmu. Jika mereka bertanya tentang hubunganmu dengan pak Janus kepada orang-orang di apartemen, semua orang di apartemen akan menjawab bahwa kamu sepupunya pak Janus. Karena semua orang tahu bahwa kamu bukan istrinya pak Janus melainkan sepupunya," ucap Titan menenangkan Astrid yang tengah gelisah itu.

__ADS_1


__ADS_2