Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
41. Tak Mungkin Aku Menaruh Curiga Padanya


__ADS_3

Apa yang di ucapkan Titan membuat Astrid merasa heran. Bagaimana bisa Titan mencurigai Bintang, sedangkan sikap Bintang selama ini sangat baik. Hingga membuat Astrid tak menaruh curiga sedikitpun terhadapnya. Yang di pikirkan Astrid tentang sosok pria yang memiliki status sebagai pacarnya itu, hanyalah sebuah hal positif. Dimana ia beranggapan bahwa Bintang merupakan pria yang baik hati. Terlebih lagi saat ia menyatakan perasaannya terhadap Astrid ia tampak terlihat tulus. Semua wanita pasti akan iri jika tahu bahwa Bintang rela menghabiskan uang sakunya untuk menyewa satu restoran hanya untuk menyatakan perasaannya kepada Astrid. Jika di pikirkan kembali dulu Bintang pernah memberi Astrid sebuah tumpangan, padahal dulu ia sama sekali tak dekatnya dengannya. Sudah jelas Astrid pasti akan beranggapan bahwa Bintang merupakan sosok pria yang baik hati yang memiliki sisi romantis.


Apa yang membuat Titan tampak cemas hingga membuatnya memberikan sebuah peringatan terhadap Astrid. Sampai-sampai Astrid merasa penasaran dengan peringatan keras dari pria yang tengah berdiri di sampingnya itu.


"Apa yang kamu curigakan dari Bintang, hingga membuatmu memberikan sebuah peringatan terhadapku?"


Pertanyaan yang di lontarkan Astrid seketika membuat gelagat Titan tampak gelisah. Jelas terlihat di lehernya bahwa Jakunnya bergerak naik lalu turun. Itu menandakan jika Titan tengah menelan salivanya. Dan lagi ia hanya menatap lurus ke arah depan tanpa menoleh sedikipun.


"Itu karena...


Belum sempat Titan melanjutkan ucapannya, tiba-tiba lift sudah berhenti.


"Kita harus cepat mengantar Bintang pulang, karena ini sudah sangat malam," ucap Titan terburu-buru keluar dari lift.


Karena lift telah berhenti, Astrid pun terpaksa terburu-buru mengikuti Titan dan melupakan apa yang membuatnya penasaran saat ini. Yang kemudian mereka pergi ke salah satu apartemen dengan nomor kamar yang di sebutkan Aldo lewat pesan singkatnya. Hanya satu kali Titan menekan tombol bel, Aldo langsung membuka pintu apartemennya.


"Kalian akhirnya datang juga, ayo masuk." Aldo mempersilahkan Astrid dan Titan memasuki apertemennya. Sembari berjalan sempoyongan, Aldo membawa Astrid dan Titan ke ruangan dimana Bintang beserta teman-temannya berkumpul.


Saat tiba di ruangan tersebut, nampak Bintang yang tak sadarkan diri terlentang di lantai. Astrid pun dengan panik menghampiri Bintang dan segera membangunkannya


"Bintang bangun, kita pulang yu," ucapnya sembari menepuk-nepuk pipi.


Dengan setengah tersadar Bintang pun terbangun sembari memeluk Astrid. "Kamu akhirnya datang juga, kita pulang ke rumahku yu. Kebetulan di rumahku tidak ada siapa-siapa."


"Iya kita pulang." Astrid membantu Bintang berdiri lalu berjalan sembari memapah pacarnya yang tengah mabuk itu.


Di saat Astrid memapah Bintang, entah mengapa Titan tak membantunya. Padahal tadi Titan mengajukan diri untuk mengantarkan Bintang pulang. Astrid pun terpaksa memapah Bintang keluar dari gedung apartemen seorang diri.


Namun, di saat Astrid tengah menunggu taxi. Titan pun datang menghampiri Astrid dengan nafasnya yang ngos-ngosan seperti habis berlari.

__ADS_1


"Mau apa kamu kesini. Bukankah kamu hanya membual untuk membantuku," ucap Astrid yang tengah kesal terhadap Titan.


"Maaf, tadi aku membiarkanmu pergi duluan. Karena aku harus memberikan alasan terlebih dahulu kepada teman-temanku."


"Kenapa kamu harus memberi alasan kepada mereka, bukankah membantu temanmu pulang tak perlu memberikan alasan. Bikin aku curiga saja."


Titan menarik Bintang yang tengah berdiri sembari bersandar di pundak Astrid. "Kamu pulang saja duluan, biar aku yang mengantar Bintang."


"Tidak mau, aku juga harus ikut mengatarnya."


Lalu tiba-tiba saja Janus datang menghampiri Astrid. "Ayo pulang, biar dia saja yang mengantar pacarmu pulang ke rumahnya."


"Aku tidak akan pulang sebelum mengantar Bintang pulang ke rumah."


Dengan paksa Janus pun menarik lengan Astrid dan membawanya pergi ke tempat mobilnya di parkirkan.


"Bukan dia yang memintaku mengantarnya pulang, tapi temannya yang memintaku mengantarnya."


"Jika dia mabuk kenapa tidak menginap saja di rumah temannya. Bintang dan teman-temannya pria brengsek, yang meminta seorang perempuan datang malam-malam hanya sekedar untuk menjemput pria mabuk."


Tak ingin panjang lebar beradu argumen. Dengan paksa Janus kembali menarik Astrid dan memasukannya ke dalam mobil. Lalu di ikuti Janus yang juga masuk ke dalam mobil.


Janus tampak terlihat marah, hingga membuatnya menancap gas sekuat tenaga. Sampai-sampai ia membawa mobilnya dalam keadaan ngebut.


"Bintang bukan pria brengsek. Jadi tak perlu berpikir buruk terhadapnya," pekik Astrid.


"Berhenti membelanya. Apa kamu tahu dari tadi aku menunggumu di luar. Kamu sudah membuatku cemas setengah mati," ucap Janus meninggikan suaranya.


"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk mengikutiku," ucap Astrid yang juga meninggikan suara.

__ADS_1


"Ingat baik-baik, kamu adalah istriku dan aku memiliki tanggung jawab penuh di bandingkan si Bintang yang hanya sekedar pacarmu. Aku memiliki peran penting untuk menjagamu. Jika teman-temannya pria baik, mereka tidak akan menyuruh seorang wanita untuk datang menjemput pria yang sedang mabuk. Terlebih lagi ini sudah hampir tengah malam," tegas Janus.


Ucapan Janus membuat Astrid tak bisa berkata-kata. Astrid pun terdiam sembari mengalihkan pandangan menghadap ke arah kaca mobil di sebelahnya. Sedikit kesal karena Janus telah memarahinya. Namun, Astrid tak bisa membalas ucapan Janus. Karena yang di katakan Janus memang benar. Akan tetapi Astrid juga tak bisa berpikiran buruk terhadap Bintang yang selaku pacarnya. Terlebih lagi karena Bintang dan teman-temannya dalam kondisi mabuk . Pria yang dalam kondisi mabuk mana mungkin bisa berpikiran jernih.


Sesampainya di apartemen, Janus masih memasang tampang marahnya. Hal tersebut membuat Astrid semakin merasa bersalah terhadap suaminya tersebut.


"Aku minta maaf, karena sudah membuatmu khawatir," ucap Astrid.


Janus mengabaikan Astrid, pergi begitu saja memasuki kamarnya tanpa terlebih dahulu membalas permintaan maaf dari istrinya. Astrid tak menyerah begitu saja untuk mendapatkan permintaan maaf dari Janus. Ia mengikuti Janus dan berulang kali mengucapkan kata maaf.


"Aku minta maaf... maafkan aku... aku benar-benar minta maaf."


Dan lagi Janus mengabaikan Astrid, ia langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Lalu menyelimuti seluruh tubuhnya termasuk wajahnya menggunakan selimut. Tak sampai di situ saja Astrid berusaha untuk mendapatkan permintaan maaf dari Janus. Ia pun mengikuti Janus, duduk di sampingnya sembari mengucapkan kata maaf secara berulang.


Hingga akhirnya suara berisik dari istrinya membuat Janus terganggu. Janus pun membuka selimutnya lalu terbangun. Namun, tiba-tiba saja Janus spontan mengecup bibir Astrid.


"Apa yang kamu lakukan." Astrid di buat kaget dengan apa yang telah di lakukan Janus tersebut.


"Makannya berhenti menggangguku."


"Tidak perlu mengecupku seperti itu. Cukup menerima permintaan maaf dariku itu sudah cukup membuatku berhenti mengganggumu."


"Jika ingin maaf dariku. Kita hanya perlu melanjutkan apa yang belum kita selesaikan."


"Melanjutkan apa?" tanya Astrid heran.


Janus mendekatkan diri ke arah telinga Astrid. "Sebelum kamu pergi menjemput Bintang, kita belum sempat menyelesaikan tugas dari kakek. Bukankah kamu ingin memiliki seorang anak dariku."


Seketika wajah Astrid memerah, ia pun terburu-buru menjauh dari Janus. "Lebih baik kamu tidak memaafkanku saja." Astrid mematikan lampu dan segera berbaring di tempat tidurnya. Lalu menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2