Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
37. Hubungan Yang Tak di Senangi


__ADS_3

Semenjak Astrid mengakui telah memiliki tambatan hati. Esoknya Janus bersikap dingin, dan tak biasanya ia tak berucap sepatah katapun. Mereka satu meja melakukan sarapan bersama, namun terasa canggung bagi Astrid menatap pria yang sedari tadi berekspresi datar. Tiap kali Astrid memulai perbincangan, Janus hanya menjawab dengan singkat. Sekalinya Astrid bertanya, Janus hanya menjawab tetapi tak menatap Astrid sedikitpun.


Kesal, sudah jelas Astrid sangat kesal terhadap pria yang menjadi suaminya itu. Lebih baik bertengkar setiap hari di bandingkan harus di diamkan seperti ini, itulah yang di pikirkan Astrid sedari tadi. Untuk mencairkan suasana, sekali lagi Astrid mulai bertanya dengan pertanyaan yang mungkin sangat konyol.


"Apa masakanku hari enak? kalau enak apa perlu aku masak lagi."


"Tidak perlu," jawab Janus dengan mata yang hanya fokus menatap makanan di piringnya.


Tak menyerah di situ saja, Astrid pun kembali mencari perhatian Janus dengan cara menawarkan diri untuk memasak makan siangnya.


"Hm, gimana kalau aku buatkan kamu bekal. Aku tidak apa-apa, jika harus memasak lagi."


"Tidak perlu," jawab Janus yang masih saja tak menatap Astrid.


Belum sepenuhnya Janus menghabiskan sarapannya, ia langsung meletakan sendoknya di atas piring lalu beranjak dari tempat duduknya sembari membawa piring tersebut.


"Letakan piringnya, biar aku saja yang membereskannya," ucap Astrid yang juga beranjak dari tempat duduknya, lalu terburu-buru menghampiri Janus.


Saat Astrid akan hendak mengambil piring yang di bawa Janus, tanpa sengaja ia menyenggol gelas yang terletak di atas meja makan


"Prang...


Gelas pun pecah, dan pecahannya pun mengenai kaki Astrid. Hingga akhirnya salah satu kakinya berdarah. Bukannya panik mengobati luka, Astrid malah panik membersihkan pecahan kaca yang buyar di atas lantai. Kepanikannya membuat ia kembali mengulang kecerobohannya. Kini bukan hanya kaki saja yang terluka, tetapi tangannya pun juga ikut terluka. Kecerobohan Astrid membuat Janus cemas setengah mati. Janus pun terburu-buru mengambil kotak P3K, lalu segera kembali untuk mengobati luka Astrid.


"Hentikan," ucap Janus.


"Tapi ini belum beres." Dengan paniknya Astrid mengabaikan Janus dan terus saja membersihkan pecahan-pecahan kaca tersebut.


"Ku bilang hentikan, tangan dan kakimu berdarah. Kamu perlu di obati," ucap Janus meninggikan suaranya.

__ADS_1


Astrid tersentak kaget dengan Janus yang tiba-tiba membentaknya. Seketika ia pun meletakan pecahan gelas yang di pegangnya. Astrid tertunduk membisu, yang entah mengapa hatinya terasa sakit setelah di bentak oleh suaminya.


Kemudian Janus berjongkok di hadapan Astrid dan segera membalut luka yang berada di tangan dan kaki istrinya itu. Di saat Janus tengah membalut lukanya, Astrid mengalihkan pandangannya sembari menahan air yang tergenang di kedua bola matanya.


"Apa yang membuatmu bersikap dingin seperti ini. Aku tak mengerti dengan perubahan sikapmu, kemarin kamu bersikap ramah padaku, tapi mengapa hari ini kamu berbeda. Kamu sudah membuatku tampak bodoh, hingga membuatku sempat berpikir bahwa kamu pria yang lembut. Namun nyatanya tidak," ucap Astrid.


"Bukankah ini memang sikapku. Kamu tahu kan, sejak awal kita menikah, kita tak pernah akur. Seharusnya kamu sudah terbiasa" ucap Janus tanpa menatap ke arah Astrid.


Astrid menghela nafasnya. "Terbiasa katamu, aku lebih baik ribut denganmu hanya karena masalah sepele, di bandingkan harus di diamkan tanpa sebab."


"Bodoh, kenapa kamu ingin ribut denganku. Bukankah seperti ini lebih baik di bandingkan harus bertengkar setiap hari karena hal sepele," ucap Janus tersenyum menyeringai.


"Iya aku memang bodoh, bisa-bisanya aku sempat berpikir bahwa kamu adalah pria baik. Dan satu hal lagi yang ingin ku tanyakan padamu. Apa kamu tak sedikitpun menaruh hati padaku?"


Janus menelan salivanya di buat gugup seketika dengan pertanyaan yang di lontarkan Astrid tersebut.


"Tak bisakah kamu melupakan luka di masa lalumu dan berhenti bersikap egois dengan perasaanmu. Aku bisa merasakan jika kamu memang memiliki perasaan terhadapku."


"Memangnya kamu pikir semudah itu aku bisa melupakan apa yang ku alami. Aku ini pria lemah yang penuh ketakutan, yang ku inginkan saat ini adalah tidak jatuh cinta padamu. Agar suatu saat jika kamu meninggalkanku, aku tak terjatuh terlalu dalam ke dalam luka seperti dulu."


Astrid mengabaikan Janus, membawa tasnya dan terburu-buru pergi keluar dari apartemennya. Saat pintu tertutup Astrid kemudian menyeka air mata yang sedari tadi di tahannya. Hatinya teramat sakit menghadapi pria keras kepala yang tak mau mengakui perasaannya itu.


...****************...


Sesampainya ia di sekolah, tiba-tiba dari arah belakang Titan datang sembari memegang lengan Astrid.


"Ada apa sih Titan?" tanya Astrid heran.


"Benarkah kamu berpacaran dengan Bintang?" tanya balik Titan.

__ADS_1


"Iya aku berpacaran dengan Bintang."


"Dia bukan pria yang baik, putuskan dia sekarang juga," ucap Titan sembari memegangi kedua pundak Astrid dengan tatapan seriusnya.


Astrid pun tampak kebingungan dengan Titan yang tiba-tiba menyuruhnya putus. Astrid kemudian melepaskan kedua tangan Titan dari pundaknya.


"Aku tak mengerti denganmu, kenapa kamu menyuruhku putus dengan Bintang. Bukankah Bintang temanmu, seharusnya kamu senang jika temanmu mendapatkan seorang pacar."


"Aku tidak akan pernah senang jika Bintang menjalin hubungan denganmu. Karena dia temanku, oleh sebab itu aku tahu dia pria brengsek."


Astrid pun sangat geram dengan ucapan yang di lontarkan Titan terhadap pacarnya. Cukup hari ini saja ia di buat kesal oleh Janus, bukan berarti Titan harus menambah kekesalannya. Tanpa berucap sepatah katapun, Astrid pun langsung saja pergi dari hadapan Titan.


"Kamu perempuan baik, tak seharusnya kamu mendapatkan pria brengsek," teriak Titan.


Teriakan Titan di abaikan Astrid, terus berjalan berpura-pura tak mendengar dan tak memperdulikan apa yang di ucapkan Titan padanya. Karena saat ini Astrid akan sepenuh percaya, bahwa Bintang bukanlah tipe pria yang di ucapkan oleh Titan. Karena di lihat dari perlakuan Bintang selama ini, membuat Astrid tak sedikitpun menaruh curiga kepada pria yang saat ini telah resmi berstatus sebagai pacarnya itu.


Di saat Astrid akan memasuki kelas, tiba-tiba saja dari arah belakang Bintang datang sembari merangkul pundaknya. Astrid pun terkejut menatap Bintang yang tiba-tiba datang.


"Jangan dulu masuk ke kelas," ucap Bintang tersenyum.


"Bentar lagi bel bunyi loh, aku kelas sekarang ya," ucap Astrid melepaskan tangan Bintang dari pundaknya.


Bintang kemudian menghentikan langkah Astrid dengan cara menarik lengannya.


"Tunggu! ada sesuatu yang ingin ku katakan."


"Sesuatu apa yang ingin kamu katakan, hingga membuatmu tampak serius seperti itu."


"Hm, apa hari ini kamu ada waktu? aku ingin mengajakmu datang ke rumahku untuk makan," ucap Bintang tersenyum lebar menatap Astrid.

__ADS_1


__ADS_2