Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
40. Diammu Membuatku Tak Nyaman Namun Godaanmu Membuatku Berdebar


__ADS_3

Semenjak tadi Janus tak kunjung juga keluar dari kamarnya. Bahkan di saat kakeknya pamit pulang, Janus malah mengabaikan. Jangankan sekedar untuk mengantarnya ke depan, sepatah katapun tak keluar dari mulutnya. Diamnya Janus membuat Astrid merasa canggung. Ia hanya duduk diam di meja kerjanya sembari memainkan laptopnya. Astrid mengajaknya mengobrol untuk mencairkan suasana yang terasa canggung ini. Namun, Janus malah diam seribu bahasa. Sungguh kekanak bagi pria yang umurnya lebih tua dari istrinya itu. Astrid kemudian menghampiri Janus yang tengah di sibukan dengan laptopnya.


"Sepertinya tadi kamu tidak menghabiskan makananmu. Apa mau ku bawakan makanan kesini."


Janus terlalu fokus menatap layar laptopnya, hingga membuatnya tak berniat menoleh Astrid yang tengah berdiam diri di samping meja kerjanya itu. Dengan singkat ia hanya mengucapkan dua kata yang keluar dari mulutnya.


"Tidak perlu."


"Apa mau ku bawakan buah saja."


"Ku bilang tidak perlu. Aku sedang tidak nafsu makan." tegas Janus yang masih fokus menatap layar laptopnya.


Mencairkan hati Janus yang tengah di landa kekesalan itu, benar-benar sangat sulit di taklukan oleh Astrid. Hingga membuat Astrid menghela nafasnya, lalu melangkahkan kakinya menuju tempat tidur.


Hingga dua puluh menit telah berlalu, Janus masih saja diam seribu bahasa. Sungguh membosankan bagi Astrid yang sedari tadi di abaikan oleh suaminya itu. Dan sekali lagi Astrid membuat topik pembicaraan untuk mencairkan suasana yang terasa canggung ini.


"Karena beberapa bulan lagi masa sekolahku akan berakhir, tadi kakek menyuruhku untuk tak menunda momongan. Bagaimana kalau kita menuruti kemauan kakek."


Sontak Janus pun di buat terkejut mendengar ucapan yang di lontarkan oleh istrinya tersebut. Dan Janus pun akhirnya menoleh ke arah Astrid dengan ekspresi syok.


"Itu tidak mungkin. Masa sekolahmu belum berakhir, karena kamu harus melanjutkan study ke universitas."


"Jika aku hamil, aku bisa cuti kuliah atau mungkin aku tidak akan melanjutkan studyku. Bukankah pernikahan kita hanya untuk menyenangkan kakekmu. Dengan menuruti permintaan kakekmu itu akan membuatnya senang."


"Jadi, kamu berniat ingin memiliki anak dariku," ucap Janus memiringkan senyumnya.


"Kenapa tidak, kita kan sudah menikah bukankah sepantasnya harus memiliki seorang anak."


Janus seketika mematikan laptopnya, berdiri dari tempat duduknya, yang kemudian berjalan menghampiri Astrid yang tengah duduk di tempat tidur.


"Kamu benar-benar telah menggodaku. Dengan kamu yang berkata seperti itu, aku jadi tak bisa menahannya. Bagaimana kalau malam ini kamu bermain bersama oppa." Dengan tatapan tajamnya senyumanya menyeringai. Seketika Janus mendorong tubuh Astrid hingga membuatnya terlentang di atas ranjang. Yang kemudian ia mendekatkan diri dengan posisi merangkak di atas tubuh Astrid.


Astrid pun di buat berdebar takaruan dengan aksi Janus tersebut. Ia bergetar ketakutan menatap Janus yang merangkak di atas tubuhnya.


"Apa yang akan kamu lakukan padaku. Aku masih belum siap memiliki anak, lagian aku masih belum lulus sekolah."

__ADS_1


Janus pun di buat tersenyum menatap Astrid yang tampak ketakutan itu. Hingga membuatnya semakin tengil menggoda istrinya. Ia pun mendekatkan bibirnya ke arah bibir manis istrinya itu. Hingga akhirnya Astrid spontan menutup kedua matanya.


Namun, beberapa detik ia menutup matanya. Janus tak kunjung juga menempelkan bibirnya. Ia malah menertawakan Astrid yang terlalu serius menanggapi aksi tengilnya itu.


"Dasar mesum, apa yang kamu pikirkan hingga menutup kedua matamu."


Astrid pun lalu membuka kedua kelopak matanya, yang kemudian menatap Janus dengan ekspresi kesal.


"Apa kamu sedang mempermainkanku."


"Kenapa di anggap serius. Bukankah pernikahan kita hanya akan bertahan dua tahun, memiliki anak bagi kita itu tidak mungkin."


Janus benar-benar telah membuat Astrid kesal setengah mati. Ia kemudian menarik selimut lalu menutup seluruh tubuhnya termasuk wajahnya menggunakan selimut tersebut. Bukan hanya kesal saja, jantungnya pun di buat berdetak tak terkendali.


"Dasar brengsek." gerutu Astrid.


Lalu tiba-tiba suara dering dari ponsel Astrid berbunyi. Janus pun menatap layar ponsel yang tengah berdering itu.


"Sepertinya ada nomor asing yang sedang menelponmu."


"Aku tidak sembarangan mengecek ponselmu, hanya saja layarmu yang menyala itu terlihat olehku."


Astrid kemudian terburu-buru mengangkat telepon dari nomor asing yang tidak ia save di ponselnya itu.


"Hallo," ucap Astrid saat panggilan tersebut ia angkat.


"Ini Aldo temannya Bintang, bisakah kamu mengatar pulang Bintang. Sepertinya dia sedang mabuk berat," jawab si penelpon tersebut.


"Tapi ini sudah larut malam."


"Bukankah kamu pacarnya, seharusnya kamu peduli sama dia. Masa harus aku yang mengantarnya pulang, kita semua sedang mabuk dan tak bisa mengantar Bintang pulang."


"Hm baiklah kamu kirimkan alamatnya, aku akan kesana menjemputnya." Astrid menutup panggilan tersebut. Lalu terburu-buru mengambil jaket di lemarinya.


"Siapa yang akan kamu jemput. Ini sudah malam, biar aku saja yang menjemputnya," ucap Janus.

__ADS_1


"Aku akan menjemput Bintang dan mengantar pulang ke rumahnya. Jika kamu yang mengantarnya pulang, teman-temannya termasuk Bintang pasti akan menaruh curiga sama kita. Jadi lebih baik, biar aku saja yang sendiri mengantarnya."


Janus kemudian memegang lengan Astrid, menghentikan langkahnya yang akan pergi keluar dari kamarnya itu. "Ini sudah malam, kamu ini perempuan. Bagaimana jika terjadi hal buruk denganmu."


"Percaya saja padaku, aku yakin tidak akan ada hal buruk yang akan menimpaku. Aku akan pulang dengan cepat menggunakan taxi." Astrid melepaskan tangan Janus dari lengannya. Kemudian terburu-buru pergi keluar dari apartemennya.


Janus tak tinggal diam melihat istrinya yang pergi seorang diri di malam hari. Ia kemudian segera mengambil kunci mobilnya, lalu diam-diam mengikuti Astrid dari belakang.


**


Astrid pergi ke alamat yang di kirimkan Aldo lewat pesan. Menggunakan taxi merupakan cara Astrid agar ia cepat sampai ke tempat tujuan. Saat berada di dalam taxi, ia di buat cemas ketika menatap jam di ponselnya sudah menunjukan pukul sebelas malam.


"Pak, bisa sedikit lebih cepat ga." seru Astrid kepada sopir taxi.


"Iya neng."


Lima belas menit kemudian taxi yang di tumpangi Astrid telah sampai di tempat tujuan. Astrid pun segera membayar ongkos taxi lalu terburu-buru keluar dari taxi tersebut.


Sebuah gedung apartemen dengan lima belas lantai merupakan alamat yang di sebutkan oleh Aldo. Astrid melangkahkan kakinya memasuki apartemen tersebut. Namun, ketika langkahnya akan memasuki pintu dari gedung yang bertingkat itu. Tiba-tiba saja Titan datang sembari menarik lengan Astrid.


"Apa yang kamu lakukan di sini," ucapnya dengan raut wajah yang nampak cemas.


"Titan, ternyata kamu di sini juga. Aku akan pergi ke apartemennya Aldo untuk menjemput Bintang, katanya Bintang sedang mabuk berat. Dan aku perlu mengantarnya pulang."


"Apa kamu gila, akan mengantar pria yang sedang mabuk di malam hari. Lebih baik kamu pulang, biar aku saja yang mengantarnya."


"Tidak perlu, lagian aku kan pacarnya. Bukankah lebih baik jika aku saja yang mengantarnya pulang," ucap Astrid melangkah pergi menuju lift.


Lagi-lagi Bintang mengejar Astrid sembari menarik lengannya. "Kalau kamu ingin mengantarnya pulang, aku akan menemanimu," ucapnya sembari menarik Astrid memasuki lift.


Titan kemudian menekan tombol lift ke lantai dimana Bintang dan teman-temannya berada. Saat lift melaju, tangan Titan mengepal dengan raut wajahnya yang seakan-seakan nampak kesal.


"Kini kamu sudah berpacaran dengan Bintang. Jika Bintang mengajak kamu ke rumahnya, jangan pernah kamu pergi sendiri. Setidaknya kamu harus ajak aku atau pun mengajak teman-temanmu."


"Memangnya kenapa?" tanya Astrid menatap heran wajah Titan.

__ADS_1


"Pokoknya kalau Bintang mengajakmu pergi ke sebuah tempat seperti ruangan. Kamu jangan pergi berdua dengannya."


__ADS_2