Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
21. Yang Baru Kutahui


__ADS_3

Dua orang koki menghidangkan beberapa makanan lezat di meja makan. Baskara sengaja mengundang koki hanya untuk menyambut cucu-cucunya dengan makanan lezat. Karena ke sibukan anak dan cucunya membuat kumpul keluarga menjadi suatu momen langka bagi keluarga Baskara Sayuda. Meja makan yang hanya di tempati oleh tujuh orang itu tampak penuh dengan makanan mewah dan lezat.


"Silahkah dimakan. Trid makan yang banyak ya," ucap Baskara tersenyum.


"Hm, iya kek," ucap Astrid membalas senyuman.


Wajah pucat tampak terlihat jelas di raut wajah Baskara Sayuda, pria paruh baya itu harus menikmati masa tuanya dengan penyakit yang mengerikan. Terlihat jelas dari raut wajah Janus yang nampak penuh dengan ke khawatiran. Hanya sesuap makanan yang di lahapnya, ia terus memainkan sendoknya dengan pikirannya yang kalut karena rasa khawatir terhadap kakeknya itu.


"Kenapa hanya memainkan sendok? apa kamu sudah kenyang?" tanya Baskara menatap Janus.


"Tidak kek, sepertinya perutku sedang tidak enak," jawab Janus.


"Mau di panggilkan dokter?"


"Tidak perlu, ini cuma sakit biasa. Sebentar lagi juga sembuh."


"Kalau gitu lanjut lagi makannya."


Janus mengangguk. "Iya."


Janus mulai kembali menyantap hidangannya, melahap sesendok demi sesendok. Memakannya namun, tak bisa menikmatinya. Walaupun makanan tersebut terasa enak, rasa takut dan khawatir membuat makanan yang di santapnya terasa hambar di lidah Janus.


Semua orang menikmati hidangan sembari membicarakan tentang perusahaan, kecuali dengan Janus yang hanya fokus pada hidangan di piringnya. Sementara Astrid yang tak mengerti mengenai obrolan mereka, hanya terpaku menatap Janus yang tampak gelisah sedari tadi. Astrid kemudian memegang tangan Janus. "Apa kamu baik-baik saja?" bisiknya ke arah telinga Janus.


Janus hanya mengangguk namun, ekspresi dari raut wajahnya tak terlihat baik-baik saja. Apa yang Janus sembunyikan selama ini, yang membuat Astrid memiliki banyak pertanyaan untuk di lontarkan kepadanya. Terlalu banyak rahasia yang di sembunyikan Janus. Hingga membuat Astrid merasa khawatir tentang apa yang tidak di ketahuinya tersebut.


Baskara menatap cucu bungsunya. "Janus," panggilnya dengan suara bergetar dan lemas.


"Iya kek."


"Kenapa kamu memilih bekerja sebagai guru. Padahal kakek ingin kamu ikut serta bekerja di perusahaan. Posisi manager pemasaran sebentar lagi kosong, karena manager pemasaran yang sekarang, satu bulan lagi bakal pensiun. Kakek ingin kamu yang menempati posisi itu."


Janus terdiam sejenak, berpikir panjang untuk menerima tawaran kakeknya itu. Tampak gugup, ketika mata dari kakak dan ibunya menatap sinis dirinya.

__ADS_1


"Saya tidak setuju jika Janus bekerja di perusahaan. Bagaimana bisa seorang anak dari wanita simpanan bisa masuk perusahaan. Gimana jika orang-orang mengetahui tentang statusnya sebagai anak dari wanita simpanan. Citra perusahaan bisa hancur, lebih baik dia tidak terlibat dalam urusan perusahaan," sela Yeni dengan raut wajahnya yang nampak kesal.


"Aku setuju sama mamah. Anak haram tidak pantas bekerja di perusahaan," sambung Bayu tersenyum miring menatap Janus.


"Brak....


Seketika Adit mengebrak meja.


"Berhenti menyebutnya anak haram. Dia bukan anak di luar pernikahan. Aku dan Kim Yuna menikah secara sah," ucap Adit meninggikan suaranya.


"Pernikahanmu memang sah tapi tersembunyi. Berarti dia memang anak dari wanita simpananmu kan," ucap Yeni yang juga meninggikan suaranya.


"Apa pernikahan kita atas kemauanku. Kita menikah karena perjodohan dan bukan karena saling mencintai. Jika saja bukan karena di jodohkan, aku tak mungkin menikah dengan Yuna secara tersembunyi."


Seketika Astrid berdiri dari tempat duduknya. "Maaf menyela pembicaraan kalian. Untuk bu Yeni dan kak Bayu, kalian tidak sepantasnya menghina suami saya. Kami datang kesini untuk acara makan malam bersama keluarga, bukan menerima penghinaan dari kalian.


Sembari memegang lengan Janus, astrid kemudian berpamitan. "Maaf saya dan kak Janus tidak bisa menghabiskan makanannya. Kami pamit pulang sekarang," ucapnya menarik lengan Janus dan membawanya pergi keluar dari rumah tersebut.


"Seharusnya kamu diam saja dan tidak ikut berbicara. Kita harusnya menyelesaikan makan malamnya, untuk menghargai kakekku," ucap Janus sembari mengemudikan mobilnya.


"Hentikan mobilnya! dan menepi disana," ucap Astrid menunjuk ke arah tepi jalan yang tampak sepi.


"Kenapa harus berhenti? kita belum sampai di apartemen."


"Pokoknya berhenti sekarang juga."


Janus kemudian menghentikan lajuannya, menepi di pinggir jalan yang di tunjukan oleh Astrid.


"Turun sekarang juga," ucap Astrid.


"Kenapa aku harus turun, bukannya kamu yang mau turun," ucap Janus merasa heran.


"Pokoknya kita harus turun sekarang juga. Kita perlu udara segar untuk menenangkan hati kita," ucap Astrid membuka pintu mobil yang kemudian turun dari mobil.

__ADS_1


Janus lalu turun dari mobil tersebut, menghampiri Astrid yang tengah berdiri membelakanginya. Saat Janus menghampirinya, Astrid tampak menangis sembari menahan suara dari tangisannya.


"Kamu kenapa Trid?" tanya Janus sembari memegang kedua pundak Astrid.


Tangisnya pecah, menatap suaminya dengan perasaan yang teramat terluka.


"Apa setiap kali kamu pulang ke rumah selalu di sambut dengan penghinaan. Kenapa tadi kamu tidak marah, dan hanya bersikap tenang seolah tak terjadi apa-apa. Setidaknya kamu menangis untuk menenangkan hatimu," ucap Astrid sembari menangis sesegukan.


Janus menyeka air mata yang mengalir dari kedua sudut mata Astrid. Menatapnya dengan penuh kepiluan.


"Sebenarnya aku sangat marah, tapi aku tahan untuk menghargai kakekku. Aku sudah terlalu sering menangis hingga lupa caranya untuk menangis."


Seketika Astrid memeluk erat tubuh Janus, menangis dalam dekapannya. Membasahi kembali kedua pipinya. "Kini aku tahu dengan ucapanmu saat memintaku menikah denganmu. Kamu pernah bilang kalau kakekmu adalah keluargamu satu-satunya. Karena setelah ku saksikan memang benar hanya dia yang kamu punya. Saat kamu datang, yang menyambut kedatanganmu hanya kakekmu. Baik ibumu maupun ayahmu, mereka tampak tak peduli padamu."


Janus pun juga memeluk erat tubuh Astrid, mengusap rambutnya hanya untuk menenangkan tangis istrinya. Mendekap erat tubuhnya, membuat jantung Janus berdebar cukup kencang.


"Trid jangan buat aku jatuh cinta ya, dan jangan pula jatuh cinta padaku. Ku harap pernikahan kita hanya sebatas di atas kertas saja. Karena setiap orang yang ku cintai pasti akan berakhir meninggalkanku," ucap Janus yang semakin erat mendekap tubuh Astrid.


"Hiks...hiks... mana mungkin aku jatuh cinta sama cowok paling nyebelin di muka bumi," ucap Astrid sembari memukuli dada Janus.


Janus kembali menyeka bulir air dari kedua pipi Astrid, tersenyum menatap matanya yang tampak memerah karena sedari tadi menangis.


"Jangan nangis lagi ya. Malu tau di liatin sama yang lewat, di kira aku ngapa-ngapain kamu," ucap Janus.


Lalu tiba-tiba saja dering dari ponsel Janus berbunyi.


"Tring...Tring...Tring...


"Tunggu sebentar aku angkat telepon dulu," ucap Janus mengambil ponsel dari saku celanannya.


Dan enam menit setelah mengangkat telepon, Janus kembali menghampiri Astrid.


"Ayo pulang sekarang, teman-temanku sedang menunggu di apartemen," ucap Janus lalu membukakan pintu mobil untuk Astrid.

__ADS_1


__ADS_2