
Saat istirahat tiba, Astrid seorang diri pergi ke kelas yang di tempati Bintang untuk mengembalikan dompet yang tadi pagi ia temukan. Namun, belum juga ia sampai di kelas Bintang, dari jauh nampak Bintang yang tengah berjalan pergi ke arah belakang sekolah. Astrid pun terburu-buru mengikuti Bintang.
"Bintang," teriak Astrid memanggil.
Berulang kali ia berteriak, Bintang tak juga menoleh ke arahnya. Astrid pun berlari mengejar Bintang. Namun saat tiba di dekat Bintang, Astrid tersontak kaget. Langkahnya terhenti, tubuhnya bergertar, dan yang lebih membuatnya terkejut ialah. Saat Bintang yang tengah merokok bersama teman-temannya mengeluarkan suatu ucapan yang membuat Astrid berdiri mematung menatapnya.
"Jika aku berhasil meniduri Astrid maka hari ini aku menang taruhan."
Ini benar-benar hal yang menyakitkan bagi Astrid, saat ia mengetahui keyataan. Bahwa Bintang hanya menjadikan Astrid sebagai bahan taruhannya. Kepercayaanya rusak sudah, untuknya yang terus berulang kali mempercayai Bintang sebagai pria baik. Namun nyatanya ia bukanlah pria yang di pikirkannya selama ini
"Stttt di belakangmu," ucap Aldo kepada Bintang sembari menunjuk ke arah Astrid.
Bintang pun berbalik menengok Astrid. Yang seketika ia pun di buat panik saat tahu bahwa wanita yang di anggapnya hanya sebuah lelucon berdiri tepat di belakangnya.
"Apa kamu mendengar ucapanku tadi. Sebenarnya aku sedang bercanda dengan teman-temanku. Jadi jangan di anggap serius ya," ucap Bintang sambil memegang tangan Astrid.
Astrid melepas paksa tangannya dari genggaman pria yang hanya menganggapnya sebagai bahan taruhan itu. "Ini dompet kamu, tadi pagi terjatuh di depan kelasku." Kemudian terburu-buru melangkahkan kakinya.
Tak sampai di situ saja, untuk mendapatkan kembali kepercayaan dari gadis polos yang di pacarinya, Bintang terus mengikutinya. Dan dengan kasar Bintang memegang lengan Astrid.
"Berhenti sialan! kamu harus percaya denganku, bukankah aku ini pacarmu," bentaknya.
Spontan Astrid pun mendaratkan tamparan ke pipi Bintang. "Brengsek, kau pikir aku wanita polos yang mudah kau tipu begitu saja."
"Hah, dasar wanita jelek. Kau harusnya bersyukur memiliki pacar sepertiku. Memangnya aku memacarimu karena menyukaimu hah. Jangan bersikap seolah kau wanita cantik yang dengan sombongnya bisa menolaku," bentak kembali Bintang. Kemudian ia memegang kuat lengan Astrid sembari menunjuknya. "Kau ini wanita nora, yang setiap hari memakai kaus kaki panjang di bawah lutut. Semua orang yang melihatmu pasti menertawaimu, apa lagi kuncir kudamu yang tak pernah kau lepas."
Lalu tiba-tiba saja Titan datang menghampiri sembari melayangkan pukulan ke wajah Bintang.
"Brengsek, jangan pernah kau menyentuhnya lagi."
__ADS_1
Pukulan Titan berhasil membuat Bintang terjatuh dan mendapatkan luka di sudut bibirnya.
"Sialan, kenapa kau membelanya. Apa kau sangat menyukai wanita ****** seperti dia," ucap Bintang sembari menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya. Yang kemudian ia berdiri lalu membalas pukulan dari Titan, hingga menyebabkan keduanya saling baku hantam.
Astrid pun sangat syok menatap kedua pria yang tengah baku hantam di depannya. Dengan panik Astrid berusaha melerai pertengkaran tersebut.
"Berhenti!!" teriak Astrid sembari memegang lengan Titan.
Namun, keduanya tak berhenti saling melayangkan pukulan. Hingga membuat gaduh satu sekola, dan menyebabkan para murid berdatangan menyaksikan baku hantam yang di lakukan Bintang dan Titan.
Meski Astrid berusaha melerai, namun keduanya tak berhenti saling memukul. Sampai-sampai membuat Astrid terjatuh akibat dari kebruntalan mereka.
Lalu tiba-tiba saja Janus datang menghampiri kedua pria yang tengah baku hantam tersebut.
"Berhenti! apa kalian pikir ini di ring tinju." Janus melerai Titan dan Bintang. Kemudian segera membantu Astrid bangun.
"Kalian ikuti saya ke ruang BK. Dan Astrid kamu juga ikut ke ruang BK untuk memberikan saksi tentang pertengkaran ini," tegas Janus.
Saat di ruang BK, baik Titan maupun Bintang menjelaskan apa yang membuat keduanya bertengkar. Namun, apa yang di sebutkan keduanya bertolak belakang. Bintang yang menjelaskan bahwa dirinya hanya membalas Titan karena Titanlah yang melayangkan pukulan pertama terhadapnya. Sementara Titan dengan tegas ia menyebutkan semua perbuatan Bintang terhadap Astrid, baik saat bersikap kasar terhadap Astrid maupun semua niat dan rencana buruknya untuk meniduri Astrid.
"Apa benar begitu, gimana menurut keterangan dari Astrid?" tanya guru BK.
"Yang di ucapkan Bintang dan Titan benar. Terutama pernyataan dari Titan, bahwa Bintang menjadikan saya sebagai taruhan. Dan untungnya tadi saya mengetahui itu, jadi saya bisa langsung menghindari niat buruk dari Bintang," ucap Astrid sembari menunduk.
"Sialan, apa yang kau dengar tadi itu hanya bercanda," ucap Bintang membentak.
"Berheti berteriak seperti itu." Guru BK mengebrak meja. "Apa kamu tidak punya kesopanan, berkata kasar di depan saya."
"Iya pak maaf," ucap Bintang.
__ADS_1
"Saya ingin keterangan lebih lanjut lagi, bawa semua teman-teman kamu kemari," ucap guru BK kepada Bintang dan Titan.
Semua teman Bintang dan Titan berdatangan ke ruang BK untuk di introgasi. Mereka di desak untuk berkata jujur mengenai perbuatan buruk mereka terhadap Astrid.
Satu persatu memberikan keterangan, sampai semua rencana busuk dari Bintang terbongkar. Dan menyebabkan Bintang, Titan, beserta teman-temannya di beri surat skorsing dari sekolah.
"Berikan surat ini kepada orang tua kalian. Dan kalian semua di skorsing satu minggu."
Selesai di introgasi, semuanya keluar dari ruang BK termasuk Astrid. Saat Astrid keluar dari ruang BK, tak di sangka bahwa setelah istirahat. Ia hanya menghabiskan waktunya di ruang BK tanpa belajar. Hilda dan Alula yang sedari tadi menunggunya di luar, terburu-buru menghampiri sembari membawakan tas miliknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu bisa di bawa ke ruang BK?" tanya Hilda cemas.
"Maaf, saat ini aku tidak ingin membahas hal itu dulu." Astrid meraih tas yang di bawakan Hilda.
Tak hanya kedua temannya saja yang datang menghampiri. Akan tetapi Janus juga datang menghampiri istrinya tersebut.
"Sikutmu terluka, pulanglah cepat aku akan mengobatimu di rumah. Maaf tidak bisa mengantarmu pulang, karena aku takut orang-orang akan menaruh curiga jika aku mengantarmu pulang." Janus kemudian mengeluarkan dompet di saku celananya. "Pulanglah naik taxi, aku tunggu kamu di rumah," ucapnya sembari memberikan uang pecahan seratus ribu kepada Astrid.
Astrid mengangguk lalu meraih uang yang di berikan suaminya itu.
Perbuatan Bintang sudah membuat hati Astrid terlampau sakit. Bukan karena patah hati yang membuat hatinya sakit. Melainkan ucapan kasar dan juga niat buruk Bintang terhadap Astrid. Memang dari awal Astrid hanyalah sebatas suka terhadap Bintang. Karena lelaki sesungguhnya yang ia simpan di lubuk hatinya yang terdalam adalah Janus yang merupakan suaminya.
Astrid pun berjalan pergi sembari menahan tangisnya. Namun, di saat ia akan hendak menaiki taxi tiba-tiba Titan datang.
"Tunggu!" ucapnya sembari memegang lengan Astrid. "Maafkan aku ya Trid."
Astrid melepaskan tangan Titan dari lengannya. "Sebenarnya kamu sudah tahu dari awal tentang rencana Bintang dan teman-temanmu. Oleh sebab itu, kamu selalu saja menentangku pergi berdua dengan Bintang."
"Karena posisiku yang sebagai teman Bintang, membuatku ragu untuk bilang dari awal tentang Bintang. Aku sungguh-sungguh minta maaf Trid."
__ADS_1
"Makasih tadi sudah membelaku dari Bintang. Tapi aku tidak bisa memaafkan apa yang telah kalian perbuat terhadapku," ucap Astrid lalu segera memasuki taxi yang sedari tadi menunggunya.