Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak

Terpaksa Menikah Dengan Guru Galak
76. Aku Akan Melindunginya


__ADS_3

Ucapan dari adik iparnya itu mampu membuat Bayu tak dapat berkata-kata. Ia tampak gugup, bahkan jakunnya pun bergerak dari atas ke bawah seperti tengah menelan salivanya.


"Kenapa kamu diam saja, apa benar yang ku katakan itu?"tanya Astrid dengan tatapan seriusnya.


Dengan kedua tangan yang memegang pinggang Bayu kembali memiringkan senyumnya, lalu menjawab. "Apa aku terlihat seperti pria kasar bagimu. Jika kamu berpikiran aku seperti itu, kenapa kamu tidak tanya suamimu. Dia bahkan sudah memukuliku hari ini, kenapa kamu tidak mencurigainya. Saat itu Luna terluka karena mungkin suamimu ingin Luna kembali padanya, oleh sebab itu dia mengancamnya dengan cara melukainya."


Ucapan Bayu itu kembali membuat Janus naik pitam. Janus melangkah mendekat, dan dengan cepat ia kembali menarik kerah baju kakaknya.


"Hanya karena aku pernah memiliki hubungan dengannya, bukan berarti perasaanku masih tersisa untuknya. Sejak dia berhianat, aku mana mungkin menyisakan perasaanku kepada wanita sepertinya. Dia dan kamu sama-sama manusia yang sudah membuat hatiku sakit. Dan asal kamu tahu saja, kamu dan dia tidak ada bedanya sama-sama sampah bagiku," ucap Janus meninggikan suaranya.


Tangan Janus mulai mengepal kembali, ia pun mulai melayangkan tangannya ke arah wajah pria yang sudah membuat marahnya mendidih itu. Lalu dengan sigap Astrid dan Luna pun segera menarik suaminya masing-masing.


"Sudah cukup kamu memukuli suamiku. Apa kamu tidak lihat wajahnya sudah babak belur karena kamu," ucap Luna dengan mata yang tergenang.


Janus menghela nafasnya. "Aku tidak akan memukulinya, jika mulut kotornya itu tidak memulai."


"Jika kamu tidak lebih dulu memukulinya dia tidak akan berkata seperti itu, kamu datang ke rumah kami hanya membawa masalah. Kamu seorang adik tapi kamu berani memukuli kakakmu," ucap Luna.


Seketika Janus pun tersenyum sinis pada Luna. "Kamu pikir aku datang membawa masalah? harusnya kamu didik suamimu agar tak lebih dulu membuat masalah denganku. Asal kamu tahu saja, kesabaranku sudah di ambang batas. Aku dulu mungkin menahan untuk tidak melawannya, tapi karena kelakuannya itu, istriku juga terkena imbasnya. Gara-gara dia menyebarkan foto pernikahan kami, hampir satu sekolah mencaci istriku. Siapapun yang menyakiti istriku, aku tidak akan tinggal diam. Biarpun dia adalah kakakku sendiri," ucap Janus dengan suara tinggi.


Lalu tiba-tiba saja Adit beserta Baskara datang menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa ini? teriak Adit lalu menatap ke arah Janus. "mengapa Bayu babak belur, apa kamu memukulinya?"


"Iya aku memukulinya karena dia sudah membuat masalah denganku," jawab Janus.


"Lalu kamu Bayu, apa benar yang di katakan kakek, jika kamu sudah menyebarkan foto pernikahan Janus. Karena hal apa sampai kamu berbuat seperti itu?" tanya Adit kepada putra sulungnya.


"Dia sendiri yang lebih dulu membuat masalah denganku. Dia sudah berani menemui istriku, aku mendapati panggilan terakhir di ponsel Luna atas nama Janus," jawab Bayu dengan raut wajah kesalnya.


"Apa benar yang di katakan Bayu?" tanya Adit kepada menantu pertamanya.


"Iya benar, saya terpaksa menelpon Janus karena saat itu saya terluka sehabis jatuh dari motor dan kebetulan tempat saya terjatuh tidak jauh dari apartemen Janus," jawab Luna dengan kepala yang tertunduk.


Adit lalu kembali menatap ke arah putra pertamanya itu. "Seharusnya kamu bertanya dulu kepada Janus dan selesaikan kesalah pahaman ini dengan baik-baik. Bukan langsung membalas dendam. Asal kamu tahu, bukan adikmu saja yang di buat kesal oleh tingkah lakumu itu, tapi ayah juga sudah sangat kesal denganmu. Kamu sering kelabing bersama teman-temanmu, padahal kamu sudah memiliki istri. Tiap kali kamu kelabing besoknya kamu tidak pergi bekerja. Bahkan gara-gara hari ini kamu tidak pergi ke kantor, satu klien membatalkan kerja sama dengan perusahaan."


"Dari sekertarismu. Jika kamu tidak serius dalam bekerja, lebih baik posisimu sebagai direktur utama serahkan kepada adikmu. Ayah akan menurunkanmu jabatanmu menjadi manajer pemasaran, karena sekarang posisi itu sedang kosong," ancam Adit.


"Bukankah kita tidak dekat, kenapa ayah harus menyerahkan jabatan anak kesayangan ayah kepadaku. Aku hanya seorang anak dari wanita simpanan, aku tidak pantas ikut andil mengurus perusahaan," lontar Janus yang kemudian terburu-buru pergi sembari menarik lengan istrinya.


Janus kembali menancap gas mobilnya, ia pergi membawa istrinya untuk segera pulang. Fisiknya sudah lelah akibat dari menghajar kakaknya. Tak hanya fisiknya saja yang lelah tapi batinnya pun ikut lelah setelah beradu argumen dengan pria yang selalu merasa benar itu. Janus terlalu lelah dengan batin dan fisiknya, tiap kali masalah yang menimpanya selalu saja berkaitan dengan Bayu. Sudah lelah ia bertanya akan letak kesalahannya.


Sembari menyetir raut wajahnya tampak bersedih, ia yang fokus menyetir seakan mau menangis. Melihat suaminya seperti itu, membuat hati Astrid terasa sakit.

__ADS_1


**


Sesampainya di apartemen, Janus duduk di sofa dengan kepala yang tertunduk. Astrid kemudian menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya. Lalu ia pun meraih tangan suaminya.


"Kak tanganmu terluka," ucap Astrid sembari mengusap luka di punggung tangan Janus.


"Maaf," ucap Janus dengan suara rendah.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Astrid heran.


"Maaf karena kamu sudah memiliki suami seburuk diriku." Janus menatap ke arah Astrid, lalu menundukan kepalanya di pundak istrinya tersebut. "Tak hanya aku saja yang buruk, tapi keluargaku juga sangat buruk. Kamu menjadi kena sial karena menikah dengan pria buruk sepertiku." seketika air mata yang di tahan Janus sedari tadi mulai menetes.


"Aku tak pernah menganggapmu pria yang buruk. Dan sudah ku katakan berulang kali bahwa aku beruntung memiliki suami sebaik dirimu," ucap Astrid.


"Seharusnya kamu tinggalkan saja diriku, aku bukan pria baik seperti yang kau pikirkan. Karena aku, kamu ikut menderita."


Astrid pun ikut meneteskan air matanya, ia mengangkat kepala suaminya yang tengah tertunduk itu. "Aku tak akan pernah meninggalkanmu. Baik senang maupun sedih, baik susah atau pun tidak, dan apapun yang terjadi aku akan selalu berada di sampingmu. Menggenggam erat tanganmu dan selalu menjadi wanita yang akan selalu membuatmu tersenyum," ucap Astrid sembari menyeka bulir air di pipi Janus.


Janus pun langsung saja mendekap erat tubuh istrinya. Sembari memejamkan kedua matanya ia pun berkata. "Terima kasih wahai bidadariku, yang telah rela singgah di hati seorang pria yang sangat buruk ini."


Hatinya pun tenang, ia sangat berterima kasih kepada wanita yang setiap saat selalu menemaninya itu. Janus jadi semakin mencintai Astrid. Ia sangat-sangat mencintai istrinya itu, hingga dalam benaknya pun ia berjanji tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita sebaik Astrid.

__ADS_1


Ia juga sangat berterima kasih kepada tuhan yang telah mentakdirkan dirinya untuk di pertemukan dengan wanita yang cantik parasnya dan juga baik hatinya.


__ADS_2