
setelah berteriak seperti itu tiba-tiba pikiran Mutia memutar ulang tentang Kejadian beberapa tahun lalu, saat kecil ia di selamatkan juga oleh lelaki kecil dari sebuah dahan pohon yang ingin menimpabnya juga.
semua yang berada di tempat itu berteriak dengan histeris, begitupun dengan Lea yang langsung terjatuh lemas menyaksikan kejadian itu.
Leon pun buru buru menarik dahan pohon itu di bantu oleh pak Budi dan yang lain nya.
Dengan kuat, Satria pun langsung buru-buru untuk pergi mencari bantuan.
"lo harus bertahan Put, Kalau lo nggak mau, gue akan benci lo seumur hidup gue". Ujar Satria berlari
Di rumah sakit terdekat, Putra sudah berada di ruangan UGD karena kondisi nya yang cukup parah.
Mutia sendiri menatap datar ke depan pintu dengan menggenggam foto yang selalu ia Bawa kemanapun.
"kenapa lo nolongin gue? kenapa kejadian itu berputar lagi di pikiran gue? Lo harus selamat Kak Putra, gue nggak mau punya hutang Budi sama lo". Gumam Mutia
Leon merangkul Lea dan mengusap air mata nya yang terus menetes di pipi gembul nya itu.
"sudah ya, jangan nangis lagi sayang. Putra pasti baik-baik saja, kamu tahu kan dia tuh orang nya kuat dan enggak pernah nyerah". Ucap Leon mencoba menenangkan
"Tapi dia tertimpa batang pohon yang besar itu di depan mataku Mas, aku masih syok saja". Jawab Lea
"kita do'akan aja ya untuk Putra, Semoga dia cepat sembuh dan pulih kembali". ujar Leon
Lea langsung menganggukan kepala nya Dan meletakkan kepala nya itu di dada bidang milik suami nya.
Mutia melirik ke arah Lea dan juga Leon dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan, saat Lea menyadari hal itu, ia langsung duduk tegak dan menjauh dari Leon.
"Ini semua karena Lo! emang dasar ya Lo tuhhcewek pembawa sial!! Seharus nya yang ketimpa itu lo aja bukan Kak Putra!!". ketus sisil yang geram kepada Mutia
"Sisil, gk ada yang salah. Udah ya jangan kayak gitu , kita semua berdoa aja untuk keselamatan Kak Putra". ujar Lea yang langsung berdiri dan menarik tangan Sisil, memisahkan nya dari Mutia.
"enggak, ini semua gara-gara cewek yang gk tahu diri ini! dia memang nggak punya malu, lihat aja muka nya enggak ada rasa bersalah sama sekali , rasa simpati aja? Enggak!! Kak Putra di dalam sana lagi bertaruh nyawa karena selamatin lo!!". sungut Sisil lagi
__ADS_1
"emang ya kalau udah tercemar sama Marsha, otak Lo pun juga kosong ya". Lanjut Sisil
Pllaaakkkk.....
Tamparan keras mendarat di pipi Sisil, membuat semua nya menatap ke arah Marsha yang baru saja datang, wanita itu terlihat sangat emosi dengan perkataan yang di ucapkan oleh Sisil tadi.
"Maksud lo apa hah bawa bawa nama gue?!!". tanya Marsha
"kalian berdua ini ada apa sih?! dengan kalian kayak saling menyalahkan kayak gini, Putra bakalan sembuh? bakalan selamat gitu? pikir pakai otak!!lebih baik kalian semua diam dan Lo Marsha, mending Lo pulang aja, gue enggak mau lihat lo bikin onar di sini". ujar Satria yang mendorong kuat tubuh Marsha
"mutia, nanti gue yang akan nanggung semua biaya Putra. Ayo lo ikut gue sekarang! ". ajak Marsha
Mutia pun menatap Marsha dengan Tatapan yang datar, lalu kembali melirik ke arah pintu ruangan di mana Putra berada dengan Tatapan yang sendu, namun kaki nya melangkah mengikuti arah kaki Marsha pergi.
"lihat kan Kak! dia pergi gitu aja, emang dasar enggak bisa di baikin sama sekali! ". Sungut Sisil
" Sisil udah sih ya, kita semua juga sedih dengan kejadian ini, tapi ya udah jangan buat keributan lagi , mending kita berdoa aja untuk keselamatan Kak Putra". pinta Lea dengan tegas
Tiba tiba terdengar seseorang yang datang dan berteriak dengan nada cemas.
Lelaki paruh baya itu ternyata Papa Putra
" Leon di mana Putra? Kenapa dia bisa jadi seperti ini? ". tanya nya lagi
" Om ini peduli atau cuma akting saja? ". tanya Satria menohok
" jelas saya peduli terhadap anak saya sendiri, pertanyaan macam apa itu? ". Sahut Papa Putra
"kalau gitu kenapa Om gak pernah ngunjungin dia untuk sekedar menanyakan keadaan nya?". Tanya satria lagi
"kalau tentang itu saya nggak bisa jelasin ke kalian". Jawab lelaki paruh baya itu menundukkan kepala nya
" apa Putra baik-baik saja? ". Tanya Papa Putra lagi
__ADS_1
"dia masih berjuang di ruangan itu". Jawab Satria menunjuk ke arah ruangan di mana Putra berada
Papa Putra pun langsung melangkahkan kaki nya mendekati pintu itu, ia melirik ke dalam ruangan untuk melihat Putra, hingga ia meneteskan air mata nya.
semua yang melihat pemandangan itu pun merasa aneh, kecuali dengan Lea
"ngapain dia nangis? apa dia nangis bahagia ya?". tanya Cakra berbisik
"Huusstt!!! Lo ini, nama nya juga orang tua ke anak pasti bakalan sedih. kita enggak bisa melihat seseorang dari satu sisi doang, kita juga enggak tahu apa yang sebenar nya udah di alami sama Papa nya Kak Putra". Timpal Lea
"tapi gue tau banget gimana Papa nya Itu, dia bahkan enggak pernah peduli tuh sama Putra dari kecil". jelas Satria
"mungkin sekarang dia sudah menyesal". sahut Lea lagi
"enggak mungkin". Timpal Satria
beberapa jam kemudian, Papa Putra telah kembali pulang begitu saja tanpa Meninggalkan pesan apapun, membuat Satria menatap lelaki paruh baya itu dengan kesal, Bahkan ia tidak menemui Putra terlebih dahulu.
"di mana keluarga dari pasien bernama Putra? ". Tanya Sang Dokter
" saya dok, Putra baik-baik saja kan?". Tanya Satria
"Sekarang Pasien belum sadarkan diri, di sebabkan ada sedikit benturan di kepala nya. kita tunggu saja". Jawab Sang Dokter
"tapi dia enggak akan amnesia kan dok?". Tanya Satria
Dokter tersebut pun menjelaskan semua nya dengan detail kepada Satria, membuat lelaki itu mengusap kasar rambut nya dan langsung masuk ke dalam ruangan Putra yang di susul oleh lain nya.
Di dalam ruangan mereka tidak boleh menciptakan keributan sedikitpun.
"Lo harus kuat!". Gumam Satria
beberapa menit kemudian, Putra nampak membuka mata nya, namun Ia seperti orang kebingungan dengan menatap semua orang yang ada di ruangan itu dengan Tatapan yang aneh.
__ADS_1
lalu ia memegang kepala nya karena merasa nyeri, Satria yang melihat itu pun langsung membantu Putra untuk berbaring, akan tetapi tangan Satria langsung di hempas kasar oleh Putra.
"kalian siapa? mama gue mana? ". tanya Putra seraya memegang kepala nya