
Pagi menjelang, cahaya mentari yang mulai mengintip diantara tirai jendela di kamar seorang gadis belia.
Gadis yang seharusnya sudah bangun lebih awal dari saudara-saudaranya. Tapi malah bangun paling akhir diantara mereka.
Dua laki-laki masuk ke dalam kamarnya sambil berdecak kesal. Karena melihat begitu buruknya saudara perempuan mereka saat tidur.
"Arya ayo kita kejutkan dia!" bisik Arkan pada adiknya.
Arya mengangguk sambil mengisyaratkan hitungan mundur pada jarinya.
Hingga hitungan terakhir keduanya langsung berteriak ke arah gadis yang masih tertidur itu.
"Kebakaran!" teriak keduanya bersamaan dengan suara yang di buat sepanik mungkin.
Gadis itu sontak berjingkat di atas ranjang sambil kebingungan mencari ke sana kemari dimana ada api.
"Dimana kebakarannya, cepat padamkan apinya!" teriak gadis itu.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah gadis itu kedua saudaranya malah terpingkal-pingkal.
"Hahaha kak Alea lucu banget deh!" ucap Arya sambil memegang perutnya. Arkan juga begitu dia merasa senang bisa mengerjai adiknya.
Alea yang sadar di kerjain lagi mulai mendengus kesal. Mimpi indahnya buyar begitu saja saat kedua orang di depannya itu meneriakinya.
"Awas kalian ya!" Alea bersiap mengejar keduanya, kali ini dia tak akan melepaskan mereka.
Arkan dan Arya berlari ke sana kemari karena di kejar oleh Alea, gadis itu bahkan membawa bantal sebagai senjatanya.
"Dasar kakak laknat,adik durhaka!" teriak Alea membabi buta sambil melempar keduanya dengan bantal dan apapun yang dia temukan di kamar itu.
"Singanya ganas dek, kakak gak berani ngelawan!" balas Arkan sambil berlari menjauh dari Alea.
"Awas kalian ya,aku cincang lalu ku tumis nanti!" Alea tak mau berhenti mengejar keduanya, hingga langkah ketiganya terhenti karena kelelahan.
"Udah kak, Arya nyerah deh, capek!" ucap Arya sambil bersandar di samping ranjang milik Alea dan mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Iya dek, kakak juga nyerah deh,kamu emang kuat banget larinya!" ucap Arkan juga menyerah, bahkan dia sudah telentang di atas ranjang.
"Dasar kalian cowok lemah!" ucap Alea yang juga bersandar di samping ranjangnya. Keringat membanjiri di seluruh tubuh ketiganya.
"Habisnya kak Alea gak bangun-bangun sih, kita berdua kan lapar!" keluh Arya.
"Iya bener yang di bilang Arya, masak sih anak gadis jam segini belum bangun, malu kali dek sama ayam tetangga!" ucap Arkan menimpali.
"Biarin aja, orang gak ada ayam kok di kompleks ini!" balas Alea tak peduli.
"Dasar gadis pemalas!" Arya dan Arkan berteriak bersama di telinga kanan dan kiri Alea. Membuat telinga gadis itu seketika mendengung.
"Pergi kalian!" Sebelum Alea berteriak, Arkan dan Arya sudah berlari ke luar dari kamarnya.Keduanya bahkan menjulurkan lidahnya ke arah Alea.
"Dasar dua saudara laknat semua!" teriaknya kesal.
Sudah menjadi kebiasaan di rumah itu jika Alea harus jadi korban kejahilan kedua saudaranya. Meski kadang di buat kesal oleh mereka namun Alea tak pernah menaruh dendam. Malah hal ini membuat ketiganya semakin dekat. Hanya cara mereka saja dalam menyayangi satu sama lain sedikit berbeda dari saudara-saudara lain di luar sana.
__ADS_1
Beberapa tahun ini mereka lalui bersama, hingga tanpa sadar ketiganya sudah memasuki usia remaja. Arkan dan Alea yang saat ini sudah berusia tujuh belas tahun. Sedangkan Arya yang sudah dua belas tahun. Ketiganya tumbuh begitu cepat. Bahkan paras mereka sangatlah menawan.