
James mengajak Liana ke sebuah rumah sederhana namun masih terlihat besar dengan beberapa perabot yang tak terlihat murah.
"Kenapa kita ke sini James?" tanya Liana saat keduanya sudah masuk ke dalam rumah itu.
"Kita akan tinggal di sini Liana," jawab James yakin.
"Benarkah?"
"Ya apakah kamu tak menyukai rumah ini?" James melihat ke arah wajah Liana.
"Aku suka, tapi ini rumah siapa?" tanya Liana lagi.
"Ini rumah yang ku beli dengan tabunganku sendiri selama ini, ya meski tak sebesar rumah orang tuaku atau nenek, semoga kamu betah di sini," jelasnya.
Liana tersenyum mendengar penjelasan dari James.
"Tentu saja, aku tak masalah tinggal di rumah seperti apa pun jika kita bisa bersama."
"Terima kasih sayang," James mencium kening istrinya dan mengajak wanita itu melihat-lihat isi rumah itu.
Setelah puas melihat-lihat James mengajak istrinya makan di sebuah restoran tak jauh dari rumah mereka.
"Bagaimana kamu suka makanan di sini?" tanya James setelah mereka selesai makan siang.
"Ya makanan disini lumayan enak, tapi sepertinya kamu sering ke mari ya James, bahkan para pelayan di sini begitu mengenalmu?" ucap Liana.
__ADS_1
"Ya tentu saja mereka mengenalku, restoran ini milikku,"ucap James seketika membuat Liana tak sengaja tersedak air yang di minumnya.
"Kamu gak apa-apa Liana?" James membantu Liana yang tersedak.
"Aku tidak apa-apa, tadi yang kamu bilang itu?"
"Restoran ini salah satu cabang milikku, dan dari sini lah aku yakin menikahimu, aku telah siap menghidupi istri dan anakku kelak," ucap James yakin.
Liana terharu, perlahan dia menyeka air yang mulai menggenang di pelupuk mata wanita itu.
Bagaimana dia bisa meninggalkan pria yang begitu tulus padanya, bagaimana dulu bisa ada pemikiran seperti itu. Liana kini menyadari semua pemikirannya dahulu benar-benar salah. Dan beruntungnya dia masih bisa memilih jalan terbaiknya.
Sekarang dia yakin bahwa pria di depannya itu adalah pilihan tepat dalam hidupnya.
"Makasih James untuk semuanya."
Keduanya hanya menaiki motor sport milik James, karena pria itu belum membeli mobil sendiri, setelah memutuskan keluar dari rumah dan semua fasilitas yang di berikan sang nenek dia tinggalkan di rumah sang mommy.
James akhirnya membawa apa yang telah dia beli sendiri dengan uang hasil usahanya selama tiga tahun bersekolah di sekolah menengah atas sebelumnya.
Tak ada yang mengetahui bisnis yang di geluti olehnya, sampai Liana lah orang yang pertama kali dia beritahu.
Sebelum sampai di rumah keduanya di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang menghadang jalan mereka.
Orang itu adalah sang nenek, James hanya bisa menelan kasar ludahnya, Liana yang menyadari kekhawatiran James hanya bisa memberikan dukungan lewat pegangan tangannya.
__ADS_1
Liana memegang erat tangan suaminya itu,seolah memberitahu James semua akan baik-baik saja.
James merasakan itu, dia kembali tenang dan mencoba memberanikan diri menyapa sang nenek.
"Nenek?" sapa James di ikuti Liana.
Wanita itu memasang wajah dingin, dia tak menghiraukan sapaan cucu lelakinya itu.
Perlahan James dan Liana mendekat ke arahnya, mereka harus berani menghadapi sang nenek yang saat ini benar-benar siap menyemburkan amarahnya.
Tapi siapa sangka bahwa reaksi Oliv berbeda dari apa yang di bayangkan oleh kedua orang di hadapannya itu.
"Kemarilah!" pinta Oliv.
Oliv tersenyum sambil merenggangkan kedua tangannya, Liana dan James saling memandang. Mereka tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan sang nenek kali ini.
Tapi James dan Liana menyambut baik sang nenek, keduanya memeluk Oliv dengan erat.
"Maafkan nenek James," ucap Oliv saat sudah melepas pelukan mereka.
"James juga minta maaf nek, tapi James mohon jangan pisahkan kami," balas James.
"Nenek salah James, nenek gak akan memaksakan kembali keinginan nenek, sekarang kalian bisa bersama dengan restu dariku," ucap Oliv sambil memegang tangan Liana dan James, menyatukan keduanya.
Liana menangis begitu juga James yang ikut terharu, entah apa yang membuat nenek merubah pikirannya, tapi itu merupakan sesuatu yang baik untuk keduanya.
__ADS_1
"Makasih nek," ucap James dan Liana bersamaan.
Oliv tersenyum dan kembali memeluk keduanya, dia telah menyesali keputusannya yang gila beberapa minggu yang lalu, cukup Zelia saja yang menjadi korban perjodohan yang dia terapkan pada cucunya. Jangan lagi ada keputusan itu untuk cucu prianya.