
Sejak mengetahui perbuatan Andrew, Zelia semakin bersikap dingin kepada pria itu. Rumah yang biasanya penuh dengan canda tawa keduanya kini begitu sunyi.
Zelia hanya melakukan aktifitasnya seperti biasa, kuliah dan menyiapkan keperluan Andrew tanpa banyak berbicara.
Bahkan senyuman yang biasanya hadir di bibir wanita itu perlahan mulai hilang. Andrew merasa tersiksa dengan sikap Zelia, tapi dia tak bisa melakukan apapun saat ini.
Andrew tak tahu harus bagaimana agar Zelia mempercayainya.
Saat di perusahaan dia juga sudah memecat Liera, namun belum ada titik terang sikap Zelia yang hangat akan kembali.
Tanpa di ketahui oleh Andrew, dua minggu setelah perselisihan itu. Liera diam-diam menemui Zelia di rumah mereka.
Suara pintu membuat Zelia terpaksa harus berjalan menyusuri anak tangga untuk membuka pintu itu.
"Siapa sih pagi-pagi udah datang kesini?" tanya Zelia pada diri sendiri.
Baru saja membuka pintu,Zelia di kejutkan oleh seorang wanita yang begitu familiar baginya. Wanita yang beberapa minggu lalu telah menghancurkan rumah tangganya.
"Kamu," Zelia mendelik sekaligus muak melihat wanita di depannya itu.
Wanita itu tak mengatakan apapun, namun sedetik kemudian dia berlutut di depan Zelia.
Zelia tak mengerti kenapa wanita yang dia ketahui bernama Liera itu bisa melakukan hal seperti ini.
"Zelia kamu pasti masih ingat aku kan? Aku tak bermaksud apapun padamu, atau merusak rumah tangga kalian. Aku juga korban di sini," jelasnya.
"Mau kamu apa datang ke sini?" tanya Zelia mulai geram, dia telah menahan agar air matanya tak menetes. Melihat wanita itu sama saja mengingat luka yang telah mereka buat untuk Zelia.
"Tolong beri keadilan, aku saat ini mengandung anak dari pak Andrew," ucap Liera.
Deg.
__ADS_1
Bagaikan hantaman palu besar di hati Zelia ketika mendengar berita itu. Air mata yang tadinya masih terbendung akhirnya jatuh meleleh di pipinya.
Zelia tak mampu menatap mata Liera, jelas sekali dia sekarang terlihat begitu lemah di hadapan pesaingnya.
"Benarkah itu anak Andrew?" tanya Zelia tak percaya.
Liera menangis tersedu-sedu dari tadi, bahkan matanya begitu merah. Tapi Zelia tak mau tertipu dengan begitu mudahnya.
"Benar ini anak pak Andrew, saya juga sudah ke rumah sakit, ini hasil cek kehamilannya," Liera bangkit lalu menyerahkan sebuah kertas kepada Zelia.
Zelia terpaksa menerimanya, lalu membuka kertas itu. Benar saja tertulis bahwa Liera telah positif hamil.
Zelia tak tahu lagi harus bagaimana, hantaman bertubi-tubi telah mengoyak hatinya saat ini.
"Maaf bisakah kamu pergi dahulu," ucap Zelia merasa lelah batin dan juga raganya.
"Maaf Zelia jika ini mengejutkanmu, aku harap kamu bisa menerimanya."
Setelah mengucapkan itu Liera pergi meninggalkan Zelia yang masih terdiam. Zelia terguncang namun secara sadar dia harus bertahan demi sang buah hati.
Perlahan Andrew mulai mencoba mendekati Zelia, namun baru selangkah hendak memeluk wanita itu.
Zelia telah melemparkan sebuah kertas yang dia dapat dari Liera.
"Apa ini?" tanya Andrew.
"Apa lagi, itu hasil kerja kerasmu kemarin di luar negeri," sindir Zelia.
Andrew hendak kehilangan kesabarannya menghadapi sikap Zelia, tapi begitu melihat isi dari kertas itu dia hanya bisa terdiam dan perlahan melemas.
"Cobaan apa lagi ini! Wanita itu benar-benar tak menghiraukan peringatanku!" batin Andrew kesal dengan Liera.
__ADS_1
"Zelia aku bisa jelasin, ini pasti salah paham, aku benar-benar tak melakukan apapun kepada dia."
Zelia tak mendengarkan apapun, kedua tangan Zelia menutup telinganya.
"Cukup! Aku tidak mau mendengar apapun!" teriak histeris Zelia.
Zelia berlari ke kamar dan memasukkan beberapa bajunya ke koper, dia sudah tak tahan lagi dengan semua yang terjadi akhir-akhir ini di keluarga kecilnya.
Semakin bertahan dia semakin merasakan hatinya sakit luar biasa.
"Zelia kamu mau kemana?" tanya Andrew yang menyusul Zelia ke kamar dan melihat wanita itu mengemasi bajunya.
"Jangan halangi aku," tekad Zelia sudah bulat, dia lalu berjalan keluar kamar dan rumah mereka dengan tergesa-gesa.
"Zelia dengerin aku dulu, tolong jangan kayak gini!"
Andrew mencoba mengejar Zelia, namun wanita itu tetap bersikeras meninggalkan Andrew.
Hingga lengan kekar Andrew mampu menggapai tubuh Zelia dan memeluknya erat dari belakang.
"Tolong Zelia, jangan tinggalin aku, aku sangat mencintaimu," ucap Andrew.
"Heh cinta yang kamu bicarakan cinta yang mana?" Zelia berucap sinis.
"Cinta yang ingin kamu bagi, jangan harap aku akan menerimanya."
Setelah mengucapkan hal itu, Zelia mencoba melepaskan diri dengan menginjak kaki Andrew dan menendang bagian vital milik pria itu.
Membuat Andrew tak berkutik, rasa sakitnya begitu menyiksa pria itu. Akhirnya Zelia bisa lolos dari Andrew dan pergi dengan menggunakan taksi yang kebetulan lewat di depan rumah mereka.
Dari jauh tampak Liera tengah menikmati pemandangan yang indah baginya. Perlahan dia merasa menjadi pemenang setelah melihat Andrew dan Zelia bertengkar hebat.
__ADS_1
Hanya tinggal mencari celah baginya agar bisa masuk ke dalam kehidupan keduanya dan mendapat tempat yang seharusnya.
Demi bayi yang tengah dia kandung, Liera tak akan melepaskan Andrew kali ini. Dia harus mendapatkan pria itu.