
Sepanjang meeting itu berlangsung mata Abian sedikitpun tidak lepas dari memandangi Alina, yang membuat Alina merasa tidak nyaman.
Para pengusaha menunjukkan kinerjanya masing-masing, hingga sekarang adalah giliran Abian untuk menyampaikan persentasinya.
Abian mulai menunjukkan kinerjanya dengan mata yang terus menatap Alina.
Setelah semua pesaing selesai menunjukkan kinerjanya masing-masing, kini mereka hanya tinggal menunggu sebuah keputusan siapa yang akan memenangkan tender besar itu.
Dan akhirnya keputusan pun telah di ambil jika pemenang tender itu adalah Devan Yogaswara.
Semua orang bertepuk tangan sambil mengucapkan selamat pada Devan.
Abian keluar dari ruangan itu dengan amarah di dada. "Pak tungguin saya dong pak."teriak Dewi seraya berjalan menyusul Abian yang telah menghilang di balik pintu.
Sedangkan Alina justru merasa sedih karena sang suami tidak memenangkan tender besar itu.
Abian memasuki mobil dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Pak..! pak..!"teriak Dewi saat melihat Abian sudah berlalu pergi dengan mobilnya.
"Ko saya di tinggal sih."decak Dewi kesal dengan kaki yang dia hentak-hentakan ke tanah.
Devan terlihat sangat senang. "Pak saya permisi pulang duluan."pamit Alina yang kini sedang berjalan berdampingan dengan bosnya itu.
"Biar saya antar."tawar Devan.
Alina menggeleng cepat. "Tidak usah pak, saya bisa pulang sendiri."tolak Alina lembut.
"Tapi-."sergah Devan.
"Pak Devan!"seseorang memanggil Devan dari kejauhan, dan mulai menghampirinya.
Salah satu teman bisnis Devan mengajak Devan mengobrol, yang membuat Alina punya kesempatan untuk segera pergi dari sana.
"Pak Devan apa anda mendengar saya?"tanya teman bisnisnya itu karena mendapati Devan yang celikukan seperti sedang mencari seseorang.
"Oh iya."jawab Devan singkat dengan raut wajah yang mulai terlihat kesal.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Kini Alina memasuki apartemen. "Aww..!"lirih Alina yang terkejut karena mendadak tangannya di tarik seseorang.
Tubuh Alina di himpit ke dinding sedangkan Abian mulai mengungkung tubuh istrinya itu.
"A-apa yang kamu lakukan?"tanya Alina yang merasa ketakutan dengan sikap dan tatapan Abian padanya saat ini.
"Apa yang aku lakukan? seharusnya aku yang bertanya sama kamu. Apa yang kamu lakukan dengan pria itu?"Abian malah kembali melontarkan sebuah pertanyaan pada Alina.
"Pria? maksudnya pak Devan."jawab Alina dengan wajah yang menengadah ke atas untuk bisa menatap wajah sang suami yang lebih tinggi darinya.
__ADS_1
Abian menonjok keras tembok persis di samping wajah Alina yang membuat Alina cukup ketakutan.
"Jangan menyebutkan nama dia di hadapan ku."Abian memperingatkan.
Abian mengusap wajahnya kasar. "Sejak kapan kamu bekerja dengan dia?"tanya Abian yang kini berdiri membelakangi Alina.
"Emang harus ya aku jawab?"tanya Alina santai.
"Sekali lagi aku tanya sama kamu, sejak kapan kamu bekerja sama dia?"kini suara Abian sedikit meninggi.
Alina membuang nafas kasar. "Emang apa hubungannya sama kamu?mau aku kerja sama siapapun itu bukan urusan kamu."jelas Alina.
"Aku nggak suka kamu kerja sama pria seperti Devan."tutur Abian menjelaskan.
"Dan aku minta kamu resign dari kerjaan kamu."sambung Abian.
"Sejak kapan kamu campuri urusan pribadi aku? bukankah di dalam surat perjanjian tertulis jelas kalau di antara kita tidak berhak untuk mencampuri urusan pribadi masing-masing."imbuh Alina yang mengingatkan Abian tentang surat perjanjian yang dia buat sendiri.
Mendengar itu Abian hanya bisa diam tidak mampu menjawab kata-kata Alina.
Sedangkan Alina dia mulai berjalan menuju kamarnya meninggalkan Abian yang masih diam mematung di tempatnya.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
"Dasar aneh bukannya dia sendiri yang membuat surat perjanjian supaya di antara kita tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing. Tapi itu tadi apa dia malah mencoba melarang-larang aku untuk bekerja bahkan menyuruhku resign segala."gerutu Alina kesal dengan tangan melemparkan tas selempang miliknya ke atas tempat tidur.
Malam ini Alina dan Abian makan malam secara sendiri-sendri. Alina yang masih kesal dengan sikap sang suami yang mencoba melarangnya untuk bekerja.
"Ini kartu ATM, kamu bisa pakai untuk membeli semua kebutuhan kamu."ucap Abian seraya tangannya menyodorkan sebuah card warna hitam ke arah Alina yang kini sedang duduk di atas sofa sambil menonton televisi.
"Enggak perlu aku kan kerja, aku bisa beli kebutuhan aku sendiri."tolak Alina halus.
"Aku kan sudah bilang supaya kamu resign dari pekerjaan kamu. Apa susahnya sih?"decak Abian yang kini ikut duduk di sofa di samping sang istri.
"Ya nggak bisa gitu, aku udah tandatangani sebuah kontrak jadi aku nggak bisa resign seenaknya."tutur Alina menjelaskan dengan mata yang kini menatap wajah sang suami.
"Jadi kamu nggak mau nurutin perintah aku?"tanya Abian yang menatap intens wajah Alina.
Alina tersenyum miring mendengar ucapan sang suami. "Kamu kenapa sih bukannya di antara kita tidak berhak ya, untuk mencampuri urusan pribadi satu sama lain."protes Alina.
"Aku hanya tidak ingin kamu terlalu dekat dengan pria seperti Devan."sergah Abian mencoba menjelaskan.
"Pria seperti Devan memangnya pak Devan tipe pria seperti apa? sepertinya kamu mengenal baik pak Devan?"tanya Alina yang mulai terlihat penasaran.
Abian membuang nafas kasar. "Enggak juga yang jelas kamu harus bisa menjaga jarak dengan atasanmu itu."pesan Abian sebelum beranjak pergi menuju kamarnya.
"Aku sama pak Devan, cuma sekedar atasan dan bawahan tidak lebih dari itu."gumam Alina dengan mata yang menatap punggung sang suami yang menghilang di balik pintu kamarnya.
Flash back
__ADS_1
Terlihat seorang gadis cantik sedang telponan dengan kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi tunangannya.
"Sayang kamu jadi kan Minggu ini ngajak aku untuk di kenalin sama mama dan papah kamu?"tanya gadis cantik itu seraya duduk di sebuah sofa.
"Jadi dong sayang, sekalian aku akan melamar kamu tepat di depan orang tua ku."tutur sang pria yang kini sedang duduk di depan setir mobilnya di luar rumah sang kekasih untuk memberinya sebuah kejutan.
"Makanya cepat dong kamu balik ke Jakarta supaya kita bisa secepatnya melangsungkan pertunangan kita."tutur gadis itu lagi antusias.
"Iya pasti sayang aku akan secepatnya pulang, udah dulu ya aku sedang meeting sekarang."ucap sang pria.
"Ya sudah bay.. muaach..!"balas si gadis, dan panggilan telpon pun terputus.
Pria tampan yang berada di dalam mobil itu kini tampak sedang bersiap-siap untuk menemui sang kekasih dengan sebuah bunga di tangannya.
Saat sang pria hendak membuka pintu mobilnya, tiba-tiba sebuah mobil sport mewah warna hitam terlihat berhenti tepat di depan rumah kekasihnya.
"Devan? ngapain dia kesini?"gumam sang pria yang melihat seorang pria tampan keluar dari mobil di hadapannya itu.
Tak lama kemudian sang gadis pun membuka pintu rumahnya dan mulai mencium lembut pipi sang pria sambil tersenyum.
Kini keduanya memasuki rumah sang gadis yang membuat pria yang berada di dalam mobil itu mengepalkan kedua tangannya.
Dengan amarah yang membuncah pria itu keluar dari mobilnya, dan mulai berjalan menuju rumah kekasihnya itu.
Braakk..!
Pria itu menendang pintu dengan sangat keras sehingga pintu itu terbuka, yang membuat kedua manusia yang berstatus kekasih, dan sahabatnya itu begitu terkejut dengan kedatangannya.
Tanpa ba-bi-bu pria itu langsung menonjok sahabatnya itu hingga tersungkur, sampai darah segar mengucur dari hidungnya yang mancung.
Sedangkan si gadis begitu ketakutan dengan tangan membenarkan atasan bajunya yang sudah sedikit terbuka.
Pria itu terus memukul dengan membabi buta sampai sahabatnya itu tidak sadarkan diri. Sedangkan si gadis hanya bisa menangis melihat kejadian di depannya saat ini.
"Dasar perempuan pel***r."kata-kata itu lolos dari mulut Abian yang membuat mata sang gadis terbelalak di buatnya.
Ya pria itu adalah Abian, dan Devan adalah sahabat masa kecilnya yang sudah merebut kekasihnya yang bernama Sima.
Abian keluar dari rumah sang kekasih, yang di susul oleh Sima di belakang.
"Abi aku minta maaf."ucap Sima yang terus berjalan di belakang Abian yang kini berjalan menuju mobilnya.
"Abi aku mohon maafin aku."lirih Sima sambil menangis.
"Jangan pernah tunjukkan wajahmu lagi di depan mataku. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memaafkan kamu."ancam Abian seraya memasuki mobilnya dan mulai melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi.
Menyisakan Sima yang terus menangis hingga terduduk di tanah.
Kira-kira seperti itulah masa lalu Abian dan Devan yang membuat Abian sangat membenci Devan.
__ADS_1
Dan karena alasan itu juga Abian jadi lebih sering memainkan hati banyak gadis, karena dia masih tidak percaya dengan cinta tulus seorang wanita.