
Tatapan Leon terus mengarah ke arah Lea yang terus berjalan menjauh dari nya, namun Leon menepis rasa sedih nya karena sekarang ini ia lebih mementingkan urusan nya terlebih dulu.
Leon tidak ingin jika nanti ia lulus dan Lea masih terus di bully oleh teman-teman nya dan pada saat itu Leon tidak bisa lagi melindungi nya.
"duduk kalian berdua!! Kenapa harus pakai cara seperti ini?". tanya pak guru yang sangat kesal
" Devan, saya pilih kamu sebagai ketua OSIS bukan karena saya asal-asalan. tapi karena saya yakin sama kamu, tapi sekarang kamu malah mematahkan keyakinan saya, sedangkan kamu Leon! jangan mentang-mentang orang tua kamu punya kontribusi yang lebih besar di sekolah ini, jadi kamu semena-mena. saya akan hubungi orang tua kalian berdua sekarang juga! ". ujar guru itu dan langsung mengambil ponsel nya untuk menghubungi orang tua mereka satu persatu
Devan merasa cemas dan dia mendekat kepada guru tersebut
"Pak, Please jangan panggil orang tua saya ya. saya bisa menyelesaikan masalah ini sendiri". Pinta Devan mengiba
"tidak bisa, Sudah berapa kali ini terjadi dan kali ini saya tidak akan memberikan toleransi kepada kalian berdua!". hardik guru itu
Leon duduk bersandar dia menyaksikan devan yang sedang ketakutan dengan Tatapan yang datar, sedangkan diri nya tidak merasa takut sama sekali. walaupun dia tahu soal kedatangan Mama nya ke sekolah akan ada ceramah empat puluh hari berturut turut untuk diri nya.
Leon merasa jika Iya benar dan tidak bersalah sedikitpun, satu jam kemudian orang tua dari Leon dan juga Devan telah berkumpul dalam satu ruangan, orang tua mereka saling mengenal dan juga teman bisnis, akan tetapi anak nya Entah kenapa menjadi musuh bebuyutan.
"Leon, kamu berulah lagi haisshh... Mama kan sudah pernah bilang sama kamu, apa enggak cukup Lea untuk kamu berubah ya". tanya Mama indah dengan nada yang kasar
" jadi gini Bu, Pak mereka sudah berkali-kali selalu bertengkar dan saya ingin menyampaikan kepada bapak dan ibu selaku orang tua dari mereka. tingkah mereka itu tidak dapat di tolerir di sekolah dan saya juga belum mengetahui apa permasalahan yang selalu mereka ributkan. Jadi kita di sini berkumpul bersama-sama untuk mendengar kan jawaban dari mereka, lalu nanti Kepala Sekolah yang akan memutuskan mereka akan diskor atau tidak, bahkan mereka juga bisa di keluarkan dari sekolah". ujar guru itu dengan jelas
Devan tentu saja merasa terkejut saat mendengarkan hal itu, bagaimana mungkin seorang ketua OSIS akan diskor bahkan bisa di keluarkan dari sekolah.
dia sudah pasti akan malu besar sedangkan Leon masih santai dan tidak gentar sama sekali jika harus di keluarkan dari sekolah SMA Tunas Bangsa.
"Leon, kamu jujur sama mama. Kalian ada masalah apa sih? ". tanya Mama Indah
Leon angsung membisikan semua yang terjadi tentang Lea yang di hina seperti itu, membuat darah Mama Indah mendidih bahkan naik sampai ke ubun ubun. Mama Indah langsung mendukung penuh Leon dan membuat Devan serta Marsha menyesal telah berkata seperti itu kepada menantu nya.
"Pak, saya terlalu percaya sama anak saya. jika dia tidak akan melakukan kesalahan terlebih dahulu, walaupun saya tahu yang ia lakukan itu salah besar, jadi saya ingin mengetahui lebih dulu masalah yang terjadi di sini". ujar Mama Indah
"Baik bu, Devan.. Kenapa kalian bisa bertengkar seperti tadi, Apa masalah nya?".
__ADS_1
"Leon ingin memukul Marsha Pak, bahkan dia berkata kasar dan Terus membentak nya, walaupun Marsha bersalah, tapi dia enggak perlu berkata seperti itu". jelas devan menggebu
"lo tau? Apa kesalahan nya? ". tanya Leon kembali emosi
"lo tau sendiri sudah berapa siswi yang sudah selalu di bully sama Marsha, banyak kan? dan lo kenapa diam aja sebagai ketua OSIS. bahkan sekarang sasaran nya Lea, murid pindahan yang prestasi nya lebih tinggi dari pada Lo dan Marsha, Apa pantas kakak kelas berkata seperti itu? cuih, kalian terlalu gila hormat! ". Ujar Leon kesal
"Pak, Jika Bapak ingin menyelesaikan masalah ini, tolong Panggil Marsha ke sini". pinta Leon
"benar saya setuju dengan Leon kali ini, bukan karena dia anak saya, tapi kali ini dia bijak dan saya sendiri juga kaget denger nya". Timpal Mama indah
" bukan hanya Marsha Pak, tapi Lea juga". Timpal Devan
"harus di buktikan Apa benar Marsha membully Lea hari ini". lanjut Devan
"Di bully atau enggak nya, Lo sendiri pernah lihat Lea di bawa ke rooftoo kan?". Tanya Leon kali ini
entah apa yang terjadi pada diri Devan, Dia sangat menentang semua yang Leon katakan, walaupun itu kenyataan nya.
entah karena ia menyukai Marsha atau ingin membalas dendam karena perasaan nya yang bertepuk sebelah tangan dan di tolak secara mentah-mentah.
Marsha menundukkan pandangan nya, ia merasa ketakutan, bahkan tubuh nya bergemetar. terlebih lagi Ia mendapatkan tatapan tajam Dari mama nya Leon, Mama Indah mengusap lembut Puncak kepala Lea.
Mama Indah tahu betul bagaimana rasa nya di kucilkan oleh orang-orang seperti Marsha, sebab Ia juga pernah mengalami masa sulit seperti itu.
" Ma, kenapa Mama juga di panggil ke sini dan apa sih masalah yang membuat nya sampai separah? sampai sampai Mama Harus di panggil ke sini? ". bisik Lea ke Mama Indah
"ndak ada apa-apa sayang, nanti kamu jujur aja kalau di tanyain oleh guru kamu ya, kamu jangan takut, Mama akan selalu ada di sisi kamu". ujar Mama Indah menenangkan wanita itu
Devan menatap pemandangan Lea yang sangat dekat sekali dengan mama nya Leon membuat hati nya semakin merasa sesak dan juga Kesal.
(apa Lea dan Leon sudah sedekat itu?). Batin Devan
Marsha juga ikut membuatkan mata nya saat melihat mama nya Leon sangat menyayangi Lea
__ADS_1
"Cih pasti dia pakai pelet, ilmu apa sih yang di pakai sama wanita kampungan itu, sampai semua orang tunduk sama dia). batin Marsha menatap tajam
"Lea, Marsha. kalian tahu kan kenapa kalian di panggil ke sini? ". tanya guru
"nggak Pak, orang saya belum di kasih tahu". Ucap Marsha
"Marsha, jaga bicara kamu". tegur guru perempuan yang berada di sana
"Marsha, Apa benar kamu selalu melakukan tindak bully kepada adik-adik kelas? ". tanya guru itu
"Ya enggak lah pak, bapak lihat apa saya seperti preman yang suka membully? ". tanya Marsha yang berbohong
" Lea, Apa benar tadi Marsha melakukan tindakan seperti itu kepada kamu?".
Lea langsung menatap Mama indah dengan Tatapan yang sangat sulit di artikan, mama Indah menganggukan kepala nya seolah berkata Lea untuk berkata jujur dan menjelaskan semua nya apa yang sudah teterjadi
Sedangkan di sisi lain Marsha menundukkan kepala nya karena merasa gugup dan khawatir kalau Lea akan berkata jujur di hadapan banyak orang, bisa saja semua itu akan menghancurkan reputasi nya selama ini dan lebih parah nya Mungkin ia akan di keluarkan dari sekolah.
Lea menarik nafas nya dengan panjang, lalu menatap lurus ke arah depan.
"benar Pak, dia telah berulang kali melakukan itu kepada saya. pagi ini ia menyebarkan gosip buruk di depan semua teman satu kelas saya, dan dia juga pernah membawa saya ke atas Rooftop dan membully saya habis-habisan. bahkan saya di bully oleh Marsha dan teman-teman nya, Ia melakukan tindakan yang bisa di bilang sudah termasuk tindakan kriminal juga, untung saja ada Kak Devan dan kak Leon yang datang untuk menolong saya waktu itu. saya nggak tahu apa yang akan terjadi selanjut nya jika mereka berdua tidak datang". Jelas Lea
matanya begitu tajam menatap Marsha begitu juga dengan Marsha.
sedangkan guru itu hanya bisa menggelengkan kepala nya mengarah kepada.
"Marsha bapak nggak bisa membenarkan sifat kamu hari ini, saat ini juga orang tua kamu harus tahu semua nya". ucap guru itu
" tapi Pak..". Seru Marsha memelas
Leon terus menatap ke arah Lea dengan tersenyum manis, sedangkan yang di tatap hanya mengacuhkan nya, sehingga tangan Leon melewati mama nya dan memegang tangan Lea.
Mama indah yang melihat nya langsung memukul tangan putra nya itu, sambil melotot seolah mata nya ingin keluar.
__ADS_1
"Hussstt.. ".