Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Hanya Teman


__ADS_3

Baru beberapa hari sejak kepergian Raffa. Alea seperti gadis tanpa semangat sama sekali. Dia mencoba menghubungi Raffa namun sekalipun tak pernah pria itu menerima teleponnya.


Alea semakin gelisah saat kehilangan komunikasi dengan pria itu.


Reihan yang menyadari perubahan dari Alea mencoba menghiburnya.


Dia mencari tahu dari Monic apa yang sedang terjadi pada Alea. Tapi kabar yang dia dapat membuat hatinya sedikit tersayat.


"Apa aku menyukainya? kenapa ada sesuatu di hatiku yang tak terima saat Alea merindukan Raffa?" batin Rei mencoba mencari tahu kenapa dengan dirinya.


"Alea?" sapa Reihan saat jam kelas sudah selesai. Alea mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Rei," balas Alea.


Rei lalu duduk di bangku depan gadis itu.


"Tumben diem banget?" tanya Reihan.Entah sejak kapan dia bisa bersikap normal pada gadis itu.


"Masak sih kelihatan banget ya?" tanya Alea.


Reihan menganggukkan kepalanya.


"Oh ya aku ada tiket nonton. Mau ikut?" ajak Reihan. Dia tak tahu bagaimana mengajak seorang gadis menonton bioskop. Mungkin terlihat aneh bagi gadis di depannya itu karena sikap Reihan yang kaku.


"Bolehlah," Alea menyetujuinya begitu saja.Membuat Rei tidak percaya.


"Serius mau?" tanya Reihan.


"Iya, mau ajak temen lagi gak biar rame?" saran Alea.


"Gimana kalau ajak Mila dan Arya?" balas Rei. Dia tahu bahwa Mila mungkin menyukai Arya. Pasti gadis itu mau di ajak sekalian.


"Boleh juga, nanti aku ajak Arya," jawab Alea antusias.Tak ada salahnya bagi Alea untuk keluar menyegarkan pikiran. Gadis itu seperti menanti tanpa ada ujung dan kejelasan dari Raffa.


"Baiklah nanti malam aku jemput di rumahmu!" ucap Reihan sebelum keduanya pulang sekolah.

__ADS_1


Hingga malam pun tiba,Reihan dan Mila sudah berada di depan rumah Alea. Dari rumah itu tampak Alea dan Arya keluar rumah menuju ke mobil milik Reihan.


Reihan memang sengaja meminta Arya dan Alea keluar rumah tanpa dia dan Mila masuk terlebih dahulu. Rei hanya tak mau membuat keributan dengan Arkan.


Setelah terakhir kali pria itu melarangnya berteman dengan Alea. Tentu saja Reihan tak semudah itu menuruti keinginan Arkan.


"Rei, udah lama ya. nunggunya?" tanya Alea pada Reihan.


"Tidak kok, ayo kalian masuk!" ajak Reihan dari balik jendela kemudi.


Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil dan Rei segera melajukan mobilnya ke tempat tujuan mereka.


Di dalam mobil hanya ada suara Mila dan Arya yang sesekali bercanda.Sedangkan Alea dan Reihan hanya menjadi pendengar saja. Mereka berdua tidak memiliki topik apapun untuk di bahas.


Lebih tepatnya Alea sedang memikirkan Raffa dan Reihan memikirkan Alea. Sesekali pria itu melirik ke arah Alea yang fokus memperhatikan lampu di jalanan. Seolah Reihan tahu apa yang sedang di pikirkan oleh gadis itu.


"Sedalam itukah Alea perasaanmu padanya? Apakah tak ada ruang sedikitpun untukku mencoba memasukinya?" batin Reihan gelisah.


Untuk kedua kalinya dia jatuh cinta. Meski baru beberapa kali saja mereka bersama.


Begitu pula hubungannya dengan kakak gadis itu yang belum membaik. Tentu saja itu adalah sebuah tembok pemisah jika Rei ingin bersama Alea.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di tempat. Reihan segera membawa mereka masuk ke dalam gedung bioskop setelah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


"Mila dan Alea kalian tunggu di sini ya, aku akan membeli snack dan minumannya," ucap Reihan.


"Baiklah," jawab kedua gadis itu.


"Kak Reihan aku ikut!" Arya lalu berlari mengikuti Reihan.


Setelah membeli snack dan tiket, Reihan dan ketiganya segera masuk ke dalam ruang bioskop.


Film yang mereka tonton kali ini adalah film horor. Keempatnya menikmati menonton film itu.


Di pertengahan pemutaran film, banyak penonton yang histeris karena ketakutan. Mila juga begitu, tapi tidak dengan Alea yang malah menangis. Reihan memperhatikan wajah Alea. Ingin sekali dia menghapus air mata gadis itu.

__ADS_1


Mila dan Arya yang duduk di depan Alea dan Reihan tak memperhatikan Alea. Mereka sedang asik menonton filmnya.


Tak bisa menahan lagi, Reihan mencoba menghapus bulir air mata gadis di sampingnya itu. Alea yang menyadari seseorang menyentuh pipinya pun terkejut.


Dia lalu menatap wajah Reihan. Pria itu mengangguk paham apa yang di rasakan oleh Alea. Di tinggal begitu saja tanpa kabar dari pria yang di sukai. Tapi itu lebih baik dari pada Reihan yang di tinggal selamanya saat dulu menyukai gadis pujaannya.


"Menangis lah,kalau bisa membuatmu tenang."


Reihan membimbing kepala Alea agar bersandar di pundaknya. Gadis itu terbawa suasana dan tanpa sadar menuruti perlakuan Reihan. Menangis di pundak pria itu.


"Kalau kamu butuh seseorang untuk mendengar ceritamu, aku akan selalu ada dan siap Alea. Terkadang sesuatu yang kita inginkan itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Kita perlu berusaha keras untuk mendapatkannya. Termasuk tentang sebuah perasaan."


Ucapan Reihan sebenarnya di tujukan untuk dirinya sendiri yang tak mudah mendapatkan cinta yang tulus. Sedangkan Reihan dengan tulus mencintai seseorang, jika dia sudah merasa nyaman dengan gadis pilihannya.


"Makasih Reihan, aku merasa dia tak memperdulikan ku lagi! Setelah dia menyatakan cintanya dia pergi begitu saja. Aku harus bagaimana" tanya Alea bingung.


"Tenang lah, bukankan bulan depan ada libur semester, kenapa kamu gak coba buat mengunjungi dia?" saran Reihan tapi dalam hati dia mengumpat pada dirinya sendiri kenapa memberi saran seperti itu. Sama saja dia merelakan Alea bersama Raffa.


"Wah benar juga, kenapa aku tidak memikirkan hal itu?" Alea spontan bangun dari pundak Reihan, wajahnya kini mulai bersemi.


"Jadi jangan bersedih lagi, mari kita nikmati malam ini untuk bersenang-senang!" ucap Reihan.


"Baik aku akan tersenyum, dan tak memikirkan dia dahulu!" Alea kini mulai tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.Senyum yang sangat manis bagi Reihan.


"Nah gitu Alea, kamu manis kalau senyum," tanpa sadar Reihan mengatakan hal itu.Membuat wajah Alea merona. Jika saja bukan di dalam bioskop mungkin akan terlihat dengan jelas.


"Makasih Rei, kamu memang teman yang baik."


Mendengar itu dari mulut Alea entah kenapa ada sesuatu yang terasa sakit di hatinya.


"Tentu saja Alea," kini Rei menjadi kaku. Tapi Alea tak menyadarinya.


"Yah mungkin aku hanya teman bagimu Alea. Tapi aku ingin selalu menjagamu, sampai kamu menyadari keberadaan ku nanti," batin Reihan.


Mereka lalu menikmati sisa pemutaran film itu. Bahkan Arya dan Mila tak berhenti berteriak histeris saat film horor itu menampilkan adegan menakutkannya.

__ADS_1


__ADS_2