Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Perasaan aneh Abian


__ADS_3

Terlihat Alina sudah bersiap untuk pergi bekerja, setelah dia memastikan kalau sang suami sudah lebih dulu pergi ke kantor.


Kini Alina tengah berdiri di sisi trotoar, dia sedang menunggu ojek online yang dia pesan.


Melihat jam yang melingkar di tangan dengan wajah yang terlihat kesal karena mendapati ojek online yang tidak kunjung datang.


Sebuah mobil Ferrari merah milik Abian berhenti tepat di depan Alina.


"Ayo naik,!"pinta Abian dari dalam mobil saat kaca mobilnya terbuka.


Alina menggeleng. "Enggak usah aku udah pesan ojek online ko tadi."tolak Alina dengan mata yang celikukan.


"Hari ini ojek online libur."ucap Abian asal.


Alina menautkan kedua alisnya. "Apa?serius?"tanya Alina memastikan.


"Hemm.. buruan naik nanti telat."kembali Abian menyuruh istrinya untuk menaiki mobilnya.


Alina membuang nafas kasar sebelum akhirnya dia menuruti permintaan sang suami.


Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang ada di antara mereka.


Sampai akhirnya mobil yang Alina dan Abian tumpangi telah tiba di tempat yang di tuju yaitu perusahaan Yogaswara.


"Akhirnya sampai juga."ucap Alina yang kini hendak turun dari mobil sang suami.


"Tunggu!"seru Abian yang membuat Alina menoleh ke arah suaminya itu.


"Enggak mau pamit dulu?"ucap Abian yang membuat Alina menautkan kedua alisnya.


Abian menyodorkan tangannya untuk di salami sang istri.


Alina tersenyum, dan mulai mencium punggung tangan sang suami sebelum akhirnya Alina turun dari mobil Abian.


Alina mulai berjalan memasuki perusahaan Yogaswara dengan Abian yang masih menatap punggung sang istri dari dalam mobilnya.


Abian mulai memutar kunci mobil, detik kemudian melajukan mobil itu setelah punggung Alina mulai menjauh dari pandangannya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Kini Abian juga telah tiba di kantornya. Turun dari mobil, dan mulai berjalan memasuki kantornya.


Abian masuk ke dalam ruangannya, dan mulai duduk di kursi kekuasaannya itu.


"Abi..!"panggil Seno yang kini memasuki ruang kerja sang putra.


Abian hanya menoleh sekilas lalu detik kemudian dia mulai mengeluarkan laptop di atas meja dari dalam tas yang dia bawa.


"Abi ko bisa sih kamu kalah dalam tender kemarin?"sambung Seno yang kini duduk di sebuah kursi di depan putranya itu.


Bayangan saat dirinya bertemu dengan Alina di meeting kemarin teringat jelas di ingatannya saat ini.


Abian membuang nafas panjang. "Aku juga nggak tahu pah."sergah Abian yang tidak mau jika sang ayah tahu, kalau kemarin dia tidak bisa fokus karena melihat Alina disana bahkan istrinya bekerja dengan orang yang sangat dia benci, sehingga membuatnya kalah dalam tender kemarin.


"Ya sudah mungkin belum rezeki kita."jawab Seno dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa seraya beranjak dari duduknya, dan mulai berjalan menuju pintu ruangan sang putra.


"Oh iya Abi, Devan mengundang kita ke acara pestanya besok malam. Tapi papah nggak bisa datang, papah harap kamu mau menghadiri pesta itu."tutur Seno sebelum keluar dari ruangan sang putra.

__ADS_1


Abian hanya diam tidak menjawab ucapan sang ayah.


Terlihat Alina sedang beres-beres di meja kerjanya untuk segera pulang.


"Hay..!"sapa Devan yang kini sudah berada persis di depan meja Alina.


"Pak Devan."jawab Alina yang berdiri seraya matanya menatap sekeliling karena merasa tidak enak jika di lihat banyak karyawan disana.


Untungnya meja karyawan yang lain sudah terlihat kosong sehingga membuat Alina bisa bernafas lega.


"Kenapa belum pulang?"tanya Devan sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Iya ini juga baru mau pulang pak."tutur Alina seraya tangan mengambil tasnya di atas meja.


"Saya anterin ya,!"tawar Devan.


Alina menggeleng cepat. "Tidak usah pak saya bisa pulang sendiri."lagi-lagi Alina menolak tawaran bosnya itu yang membuat wajah Devan terlihat kecewa, karena terus mendapatkan penolakan dari wanita yang dia sukai itu.


"Kalau begitu saya pulang duluan ya pak!"pamit Alina yang mulai berjalan.


"Umm..Alina tunggu!"panggil Devan yang membuat Alina seketika menghentikan langkahnya.


"Ini ada undangan untuk acara pesta kantor. Kamu datang ya,!"ucap Devan seraya tangannya menyodorkan sebuah kartu undangan pada Alina.


Alina menerima kartu itu dengan seutas senyum di bibirnya.


"Makasih pak!"jawab Alina yang kini hendak melanjutkan langkahnya lagi.


"Alina..!"lagi-lagi panggilan Devan membuat Alina kembali mengurungkan niatnya untuk melanjutkan langkahnya.


"Ada yang lain pak?"tanya Alina lembut.


"Ini saya mau menelpon Mama saya cuma ponsel saya mati, apa boleh saya meminjam ponsel kamu?"alasan Devan.


"Oh, bisa pak. Sebentar!"jawab Alina seraya tangan merogoh isi tasnya.


Melihat itu Devan hanya bisa tersenyum sumringah dalam hati.


"Ini pak."Alina menyodorkan ponselnya, yang langsung di terima Devan dengan senang hati.


Setelah beberapa detik. "Sepertinya ponsel Mama saya juga tidak aktif, nggak apa-apa lah bisa saya hubungi lagi Mama saya nanti."tutur Devan sambil mengembalikan ponsel Alina, yang membuat Alina sedikit kebingungan.


"Oh, ya sudah kalau begitu."jawab Alina seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Kalau begitu saya pamit pulang dulu ya, pak!"izin Alina yang di jawab anggukan oleh Devan.


Alina mulai berjalan meninggalkan Devan yang kini masih diam di tempatnya.


"Yes..!"gumam Devan kesenangan seraya mata menatap punggung Alina yang kini mulai menjauh dari pandangannya.


Saat Alina keluar dari perusahaan Yogaswara, terlihat dari kejauhan mobil milik sang suami sudah terparkir di depan sana yang membuat Alina berjalan menghampirinya.


"Buruan naik,!"pinta Abian saat Alina sudah berada di samping mobilnya.


Dengan bergegas Alina memasuki mobil itu.


Detik kemudian Abian memutar kunci mobil, dan mulai melajukan mobilnya saat Alina sudah duduk nyaman di dalam mobilnya.

__ADS_1


Klunting!


Tanda ada pesan masuk ke ponsel Alina.


Alina mulai mengambil ponsel dari dalam tasnya untuk melihat siapa yang sudah mengiriminya sebuah pesan.


Alina menautkan kedua alisnya setelah membaca pesan masuk itu.


( Al ini nomor ponselku kamu simpan ya,!" ) Devan.


"Pesan dari siapa?"tanya Abian dengan mata yang fokus menyetir.


"Umm.. bukan dari siapa-siapa."sergah Alina seraya tangannya hendak memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


Namun sejurus kemudian tangan Abian langsung merebut ponsel Alina dari tangannya.


Kening Abian berkerut setelah membaca pesan masuk itu.


"Kamu apaan sih main rebut-rebut aja."protes Alina seraya tangan merebut kembali ponselnya dari tangan sang suami.


Tanpa menjawab ucapan Alina, Abian langsung menginjak pedal gas yang membuat Alina terkejut hingga ketakutan.


Mobil yang Abian dan Alina tumpangi kini telah sampai di basemen apartemen.


Abian turun lebih dulu dari mobil yang di susul oleh Alina.


Tanpa mengatakan apapun Abian kembali berjalan lebih dulu menuju apartemennya, meninggalkan Alina yang terlihat kebingungan dengan sikap sang suami.


"Dia itu kenapa sih? aneh banget deh."gumam Alina yang berjalan di belakang Abian yang kini mulai menjauh dari pandangannya.


Alina memasuki apartemen, dan terlihat Abian sudah duduk di atas sofa.


"Tunggu!"ucap Abian yang melihat Alina berjalan hendak menuju kamarnya.


Alina menghentikan langkahnya, dan Abian bangkit dari duduknya lalu berjalan sedikit untuk menghampiri sang istri.


"A-apa?"tanya Alina yang sedikit gugup karena Abian menatap tajam ke arahnya saat ini.


Abian tidak menjawab ucapan Alina dia malah terus berjalan dengan mata yang menatap sang istri yang membuat Alina semakin gugup di buatnya.


Alina berjalan mundur perlahan-lahan sedangkan Abian terus mendekati Alina hingga tubuh Alina terpentok ke dinding.


"Se-sebenarnya a-apa yang kamu lakukan?"tanya Alina dengan wajah yang menengadah ke atas untuk bisa menatap wajah sang suami yang kini masih menatap tajam ke arahnya itu.


"Kenapa nomor ponsel kamu bisa ada pada Devan?"tanya Abian dengan mata yang tidak lepas dari menatap wajah sang istri.


"A-aku juga nggak tahu."jawab Alina yang memang tidak tahu kenapa Devan bisa punya nomor ponselnya.


Drtt.. drtt..drtt..ponsel Alina berbunyi nyaring yang kini berada di tangannya.


Alina, dan Abian sama-sama melihat panggilan masuk itu, dan tertera nama pak Devan di layar ponsel Alina yang membuat Abian kesal di buatnya.


"A-aku jawab telpon dulu."ucap Alina yang hendak menggeser icon warna hijau.


"Jangan di angkat!"perintah Abian.


"Takutnya ini penting."sergah Alina dengan tangan yang mulai menggeser icon warna hijau itu.

__ADS_1


Tanpa ba-bi-bu Abian langsung mencium bibir Alina, dan mulai mel***t nya lembut yang membuat Alina terkesiap di buatnya.


Sedangkan di sebrang sana Devan terlihat kebingungan karena Alina mengangkat panggilan telponnya, tapi tidak bicara.


__ADS_2