Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Masih Mencari


__ADS_3

Suara pintu kamar terbuka, dari luar tampak Andrew yang baru pulang. Di pandangnya tubuh Zelia yang sedang berada di balkon kamar mereka. Andrew sudah bisa menebak apa yang sedang di pikirkan wanita itu.


Kini pria itu mulai ragu untuk memberitahukan kejadian hari ini kepada Zelia. Andrew takut akan semakin menambah pikiran istrinya, jika nantinya dia sudah berhasil menemukan Alea mungkin bisa mengubah suasana hati wanita itu.


"Zelia sayang," panggil Andrew sambil memeluk tubuh Zelia dari belakang.


"Ndrew, udah pulang ya," jawab Zelia. Andrew menciumi pundak istrinya. Harum wanita itu selalu menjadi candu baginya.


Bagaimanapun masalah yang sedang dia hadapi, jika sudah bersama Zelia maka perlahan pikirannya akan menjadi tenang kembali.


"Hem, apakah Arkan sudah tidur?" tanya Andrew.


"Ya dia kelelahan hari ini, jadi tidur lebih awal." Saat Andrew tiba di rumah masih pukul tujuh malam. Memang terlalu awal untuk Arkan tidur seperti biasanya.


"Tumben, emang habis kemana kalian tadi siang?" tanya Andrew heran.


"Arkan kan udah sekolah hari ini sayang, saking hebatnya pesona dia. Banyak anak perempuan yang mengejar-ngejarnya. Mungkin dia lelah berlari untuk menghindari mereka," cerita Zelia sambil ketawa di ujung ceritanya. Terlihat sekali dia sedang bahagia mengingat kejadian tentang Arkan hari ini.


"Dia benar-benar mirip denganmu Ndrew," lanjutnya lagi.


"Begitu mempesona untuk wanita, ya kan?" Andrew mulai menggoda Zelia.


"Ya untuk Arkan,bukan untukmu julukan itu seharusnya Ndrew," balas Zelia.


"Benarkah?" Andrew mengangkat tubuh Zelia dengan kedua tangannya.


"Hei Ndrew, kamu mau apa?", Zelia panik.


Andrew tak menjawabnya dia membawa Zelia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon mereka.


"Mau melahapmu malam ini," jawab Andrew saat meletakkan Zelia di atas ranjang. Dia segera menyusuri setiap lekuk tubuh istrinya.


"Ah Andrew," Zelia mulai masuk ke dalam permainan yang di lakukan oleh suaminya itu. Keduanya sudah lama tak melakukannya karena kesibukan masing-masing.


Malam ini adalah malam penuh gairah bagi keduanya.


Di sisi lain Raffa yang masih setia menunggu Mona di ruang perawatannya. Bahkan dia sampai tertidur bersandar pada ranjang gadis itu.

__ADS_1


Kedua orang tua Raffa melihat itu,bagaimana Raffa yang begitu bertanggung jawab sebagai kakak dari gadis kecil yang entah siapa kedua orang tuanya.


"Pa, gimana menurut papa? jika suatu saat Mona kembali ke keluarganya, apa Raffa gak akan terluka?" tanya Wina pada suaminya di balik pintu ruang perawatan Mona sambil mengamati keduanya.


"Ma jangan memikirkan hal seperti itu untuk sekarang, biarkan Raffa belajar menjadi kakak yang baik."


"Tapi pa?" tanya Wina lagi ragu dengan pendapat suaminya.


"Udah ma, kalau Mona pergi kita bisa membuatkan Raffa adik baru kan?" goda Ardan.


Wina hanya bisa tersenyum,namun di senyumnya tersimpan luka yang begitu dalam.


Bahkan sampai saat ini dia tak bisa menceritakan luka itu pada siapapun. Terlebih Ardan, pria yang sudah menemaninya selama ini. Belum waktunya untuk dia tahu.


"Tapi ma, besok kita harus segera pindah. Pekerjaan papa gak bisa di tunda lagi. Gimana dengan anak-anak?" tanya Ardan khawatir.


"Kalau begitu kita bawa keduanya juga pa, kita gak mungkin memisahkan Raffa dan Mona. Dia bisa saja terluka jika kita melakukan itu."


Ardan mengangguk setuju, kedatangannya dengan Wina ke tempat ini sebenarnya adalah untuk menjemput Raffa. Keduanya menitipkan Raffa pada nenek angkat mereka.


Dan tepat seminggu yang lalu sang nenek angkat telah meninggal. Keduanya datang untuk membawa Raffa ikut bersama mereka.


Dan yang sebelumnya Raffa bersikukuh untuk bersama sang nenek angkat. Nenek yang memperlakukan Raffa seperti cucunya sendiri.


Tapi sekarang Raffa tak punya alasan untuk tetap tinggal sendirian di kota ini. Maka Ardan dan Wina memutuskan untuk membawanya.


Keesokan harinya Raffa yang berada di luar ruangan Mona tengah berbicara dengan kedua orang tuanya.


"Tapi ma, Mona belum sembuh?" ucap Raffa menolak.


"Raffa, nanti di sana Mona bisa melakukan perawatan yang lebih baik lagi. Papa dan mama janji."


Wina dan Ardan mencoba membujuk putranya, Raffa yang tadinya bersikukuh akhirnya mau menerima keputusan orang tuanya.


"Baiklah,asal papa dan mama tidak memisahkan aku dengannya saja," jawab Raffa.


Wina dan Ardan tersenyum senang. Meski kaki Mona masih belum sembuh.Dia bisa menggunakan kursi roda untuk sementara waktu.

__ADS_1


Persiapan telah di lakukan oleh Ardan, termasuk izin keluar dari rumah sakit. Tiket pesawat pun telah di beli. Besok pagi keempatnya akan pergi ke luar negeri.


Mona yang masih kecil hanya menurut saja tentang apa yang di ucapkan oleh kakaknya. Bagi Mona dimana pun itu selama masih bersama kakaknya semua akan baik-baik saja.


Mona yang tak mengingat siapa keluarganya sebelumnya telah menerima keluarga Raffa dengan baik.


Di waktu yang sama, Han tergopoh-gopoh menuju ke ruang kerja Andrew.


"Tuan muda," panggilnya sambil menata nafasnya kembali.


"Han ada apa?" tanya Andrew.


"Tuan, ada kabar baru tentang nona Alea."


"Bagaimana? dimana sekarang Alea?" Andrew langsung berdiri saat mendengar nama putrinya disebut.


"Itu tuan muda, ada yang melihat seorang anak lelaki di hari itu menggendong anak perempuan yang terjatuh ke jurang. Mereka seharusnya ada di rumah sakit terdekat di daerah itu." Penjelasan Han mengingatkan Andrew pada suatu hal,dimana dia melihat anak laki-laki itu yang tengah menggendong gadis kecil.


"Cepat kita ke rumah sakit itu!" Andrew segera bergegas ke rumah sakit itu. Dia berharap memang anak gadis yang dia lihat hari itu adalah Alea.


Andrew dan Han segera melajukan mobil mereka ke rumah sakit.


Tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai di rumah sakit. Hanya sekitar satu jam perjalanan saja mereka telah sampai.


Andrew langsung saja menanyakan keberadaan Alea kepada salah seorang suster di sana. Tapi tak ada yang mengetahui nama itu.


Dia lalu menjelaskan tentang gadis kecil yang jatuh ke jurang beberapa hari yang lalu.


Dari cerita tersebut sang suster akhirnya mengetahui anak yang di maksud oleh Andrew.


"Oh anak itu bernama Mona tuan, tapi tadi pagi dia sudah keluar dari rumah sakit," jawab suster itu.


"Bisakah kalian memberitahu alamat rumah mereka?" tanya Andrew.


"Maaf tuan, kami tidak bisa memberikan informasi seseorang begitu saja dari rumah sakit ini," ucapnya lagi.


"Han," panggil Andrew.

__ADS_1


"Iya tuan mengerti."


Han sudah tahu apa yang harus dilakukan jika tuan mudanya sudah memanggil. Tak ada kata tak bisa di dalam kamus kehidupan pria itu. Han harus mencari alamat itu sampai dapat atau dia akan menerima kemarahan dari Andrew.


__ADS_2