Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Tentang Perasaan


__ADS_3

Adel menunduk lesu,sepasang matanya tak mampu menatap kedua mata Defin yang duduk di depannya.


"Maaf Def,kamu harus mendengar hal ini, tapi aku lega bisa mengatakannya padamu, sudah sangat lama aku menyimpannya sendiri."


Ucapan Adel barusan merupakan pengakuan tentang perasaannya kepada Defin, pria itu tak percaya bahwa apa yang di ucapkan di depannya itu adalah keseriusan.


"Del, kamu bercanda ya?" tanya Defin masih belum sepenuhnya yakin dengan apa yang dia dengar dari bibir wanita itu.


Adel kecewa dengan respon Defin barusan, tapi dia tersenyum menanggapinya.


"Em iya Def, aku sedang ngecandain kamu," balas Adel terpaksa menutupi hal yang sebenarnya.


"Aku pikir kamu serius, sayang sekali ya aku sudah senang tadinya," ucap Defin, seketika Adel merasa di permainkan oleh pria di depannya itu.


"Maksud kamu bilang senang?" tanya Adel bingung.


"Yah sebenarnya aku juga ada rasa sama kamu," balas Defin.


"Kamu gak lagi bercanda kan Def?" tanya Adel tak percaya bahwa sebenarnya perasaan wanita itu terbalas.


"Aku serius Del, tapi kamu hanya bercanda kan tadinya?" tanya Defin berharap bahwa Adel tak bercanda.


Adel menundukkan kepalanya, kemudian menarik nafas sedalam-dalamnya untuk kembali mengatakan apa yang sedang dia rasakan.


"Aku sebenarnya juga mencintaimu Def, aku tak bercanda dengan perasaan ini," balasnya.


Defin tersenyum lalu menyentuh dagu Adel, membuat wajah wanita itu menengadah agar pandangan mereka bertemu.


Defin lalu menyentil dahi Adel, membuatnya menahan rasa sakit itu.

__ADS_1


"Dasar bodoh, kenapa harus bilang bercanda?" tanya Defin dengan ekspresi kesal, sebenarnya dia hanya berpura-pura saja.


"Ah itu kamu juga salah gak peka sama perasaanku," Adel tak mau kalah dengan apa yang di tuduhkan oleh Defin.


Defin lalu memeluk Adel,menenggelamkan wajah cantik itu ke dada bidangnya.


"Maaf Del, aku nggak tahu jika sebenarnya perasaanmu itu untukku, bukankah kamu sendiri yang selalu mengejar-ngejar Andrew," ucap Defin.


"Setelah mendengar hal itu dari mulutmu, aku semakin yakin kamu itu bukan hanya tak peka, tapi juga sangat bodoh," ucap Adel kesal.


"Pria yang ku sukai itu hanya kamu, memang benar saat kecil aku menyukainya tapi seiring berjalannya waktu dan seringnya kita bersama, rasa itu mulai ada Def, tapi kamu gak bisa merasakan apapun tentang hatiku," jelas Adel kembali.


Defin tersentuh dengan keberanian wanita di depannya itu.


"Maaf Del kalau aku telat mengetahui semuanya, aku hanya tak ingin membuatmu kehilangan kesempatan mengejar Andrew walau sekarang dia sudah menikah," balas Defin.


"Ya aku tahu Def."


"Jadi aku sebagai pria akan meminta kepadamu Del, maukah kamu bersamaku selamanya sehidup semati?" tanya Defin, seketika Adel meneteskan air mata karena terharu.


"Iya aku mau Def," ucap Adel sambil mengangguk.


Keduanya saling memeluk satu sama lain, menyatukan keinginan mereka selama ini yang terpendam di dalam hati.


Ini bukanlah akhir dari kisah mereka namun merupakan awal dari semuanya.


"Aku tak akan melepaskanmu Del, apapun yang terjadi, sampai kita tua nanti." Batin Defin merasa bahagia telah bersama Adel.


Di tempat lain dengan waktu yang berbeda tampak seorang pria sedang mendapat teguran, lebih tepatnya sebuah interogasi dari neneknya.

__ADS_1


Dia adalah James, kakak Zelia yang saat ini berada di kediaman sang nenek karena alasan sesuatu.


Sang nenek telah meminta James untuk mengurus perusahaan mereka, meski awalnya James enggan namun dia tak punya pilihan lain selain mengiyakannya, karena hanya dirinya yang saat ini bisa di andalkan.


Tapi ada syarat yang gila dari sang nenek yang membuatnya tertekan, wanita tua itu ingin James segera menikah, maka perusahaan akan menjadi miliknya, sama seperti Zelia yang sudah menikah, James di harapkan segera menyusul adiknya ke pelaminan.


James hanya bisa mendesah kesal karena perintah itu.


"Nek aku gak mau dijodohin!" bantah James saat sang nenek, Oliv selesai menjelaskan perjodohan James dengan seorang wanita yang merupakan anak salah satu keluarga terkaya di kota itu dan juga berpengaruh.


"Apa alasanmu James, jangan katakan jika karena gadis itu?" tanya sang nenek.


"Aku mencintainya nek,"balas James.


"Tapi nenek tak setuju kamu bersamanya,dia anak dari perempuan yang tak baik, itu akan membuatmu menyesal."


James tersentak sesaat mendengar ucapan sang nenek, dia sudah tahu jika wanita itu tak menyukai Liana, tapi hatinya tak bisa jika harus berpisah dari wanita itu.


"Aku tak butuh persetujuan nenek untuk urusan pribadiku," ucap James lalu pergi meninggalkan neneknya begitu saja.


"James! jangan pergi!" teriak Oliv kesal mencegah James namun dia tak memperdulikan hal itu dia muak mendengar ucapan sang nenek.


"Dasar nenek tua, ini bukan lagi jaman perjodohan seperti dulu,ah sial!" gerutu James saat berjalan ke arah mobilnya.


Setelah perdebatannya dengan sang nenek, pria itu memilih pergi ke rumah Liana, melihat wanita itu untuk menenangkan dirinya saat ini.


Tapi belum sempat dia sampai di rumah wanita itu,James melihat sosoknya di jalanan bersama seseorang yang James tak kenal, seorang pria yang mungkin Liana kenal.


"Siapa pria itu?" gumam James sambil memperhatikan keduanya, kini mobil James berhenti tak jauh dari Liana dan pria itu berada.

__ADS_1


Tampak Liana tertawa senang saat keduanya bersenda gurau, membuat rasa panas menjalar di hati James, sambil memukul kemudi mobil dia melajukan mobilnya dengan kecepatan melebihi rata-rata membelah jalan di malam itu.


__ADS_2