
Seno, dan Lisa memilih pulang ke apartemen sang putra untuk memastikan jika putra, dan menantunya itu akan pergi ke acara pesta malam ini.
Terlihat Abian sudah siap dengan baju jas warna putih, karena memang tema dari pesta ini adalah menggunakan baju serba putih.
Sedangkan Alina dia masih di dalam kamarnya bersama Lisa yang sedang membantunya merias wajahnya.
"Kamu cantik sekali Alina."puji Lisa seraya tangannya menyentuh bahu sang menantu dari belakang dengan Alina yang sedang duduk di sebuah kursi di depan cermin.
Alina hanya bisa tersenyum mendengar pujian dari sang Mama mertuanya itu.
Alina tengah siap dengan sebuah baju dress brokat selutut warna putih.
Dengan rambut panjang yang dia biarkan terurai membuatnya semakin cantik, dan terlihat memesona.
Alina mulai berjalan keluar dari kamar dengan Lisa di sampingnya. "Cewek kalau dandan pasti lama."ujar Abian dengan mata menatap sebuah jam yang melingkar di tangan kanannya.
"Lama juga kalau hasilnya cantik nggak apa-apa."sahut Lisa yang kini tengah berjalan bersama Alina mendekati Abian, dan Seno yang tengah berdiri menunggu kedatangan mereka berdua.
Mata Abian langsung terpaku saat melihat penampilan sang istri yang begitu cantik, dan memesona malam ini.
"Tuh lihat, suami kamu saja sampai nggak berkedip lihat kamu Al."goda Lisa dengan kekehan kecil.
Kata-kata sang Mama membuat Abian langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah. "Mama emang jago bisa buat menantu kita cantik seperti ini, bahkan sangat cantik."kini giliran Seno yang memuji Alina.
Yang membuat Alina tersipu malu. "Tanpa di rias pun Alina sudah sangat cantik pah, ini Mama cuma rias Alina tipis-tipis aja sih. Tapi ya karena aslinya Alina cantik ya pasti kalau di kasih riasan wajah sedikit saja hasilnya memang sangat cantik."tutur Lisa sambil tersenyum.
"Mama benar memang menantu kita sangat cantik."balas Seno sambil tersenyum juga.
Sedangkan Alina, dan Abian hanya bisa menyimak pembicaraan antara kedua orangtuanya itu.
"Ya sudah, sekarang kalian cepat pergi. Tapi ingat jangan pulang terlalu malam ok."pesan Lisa dengan seutas senyum di bibirnya.
Alina mengangguk sambil tersenyum, sebelum pergi Alina pamit sama Lisa dan juga Seno dengan mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.
Abian juga melakukan hal yang sama seperti Alina yang membuat Lisa, dan Seno tertegun seketika karena semenjak Abian dewasa Lisa, dan Seno sudah merasa lupa dengan rasanya di cium punggung tangan oleh anak semata wayangnya itu.
Karena bila ingin pergi kemanapun Abian tidak pernah sekalipun pamit sama Lisa, dan Seno dengan cara mencium punggung tangan mereka berdua.
__ADS_1
Tapi hari ini mereka melihat sebuah perubahan di dalam anak semata wayangnya itu, yang membuat Lisa, dan Seno begitu bahagia tidak terkira.
🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼
Terlihat Devan sedang menyambut semua tamu undangan, sambil menunggu seseorang yang sudah sedari tadi dia tunggu-tunggu kedatangannya.
Kini mobil yang Abian, dan Alina tumpangi telah sampai di tempat yang mereka tuju.
Abian, dan Alina turun dari mobil. "Alina terlihat menunggu sang suami untuk masuk bersama ke dalam sebuah gedung tinggi di hadapannya saat ini.
"Kamu bisa masuk duluan, nanti aku nyusul."ucap Abian yang berjalan pergi entah mau kemana yang membuat Alina mengurungkan niatnya untuk bicara sesuatu pada sang suami.
Alina membuang nafas kasar. "Kalau nggak mau bareng masuk bilang aja nggak usah ngehindar gitu juga kali."gerutu Alina yang melihat punggung sang suami yang kian menjauh dari pandangannya.
"Sial.. apa se gugup, dan se nervous gini gue duduk sama Alina sampai kebelet pipis segala."gerutu Abian yang kini terlihat keluar dari sebuah toilet.
"Padahal biasanya gue biasa-biasa aja kalau deket sama cewek cantik, tapi kenapa sama Alina beda ya," sambung Abian yang kini tengah berjalan untuk menuju tempat acara pesta itu di adakan.
Mata elang Devan langsung menatap sosok wanita yang sedari tadi dia tunggu kedatangannya.
Terlukis sebuah senyuman dari bibir Devan, tanpa menunggu lagi Devan langsung berjalan untuk menghampiri wanita yang sudah mengganggu tidur nyenyak nya beberapa Minggu ini.
"Hay..!"sapa Devan saat sudah berada di hadapan Alina.
"Pak Devan."balas Alina mengangguk sambil tersenyum manis.
"Akhirnya kamu datang juga Alina, saya sudah menunggu kamu dari tadi."tutur Devan mengatakan isi hatinya.
"Maksud saya, saya pikir kamu tidak akan datang."sambung Devan lagi.
Alina hanya bisa tersenyum. "Ya sudah ayo kita kesana!"ajak Devan yang di jawab anggukan oleh Alina.
Sebelum Alina mengikuti langkah bosnya itu, Alina sempat menatap ke arah luar untuk mencari sosok sang suami yang masih belum terlihat datang juga.
"Alina ayo!"kembali Devan mengajak Alina yang membuat Alina mau tidak mau mengikuti langkah bosnya itu.
Terlihat Abian sudah berjalan sampai di ambang pintu tempat pesta itu di rayakan.
__ADS_1
Matanya awas menatap semua para tamu yang sudah terlihat memasuki gedung mewah nan besar itu.
Siapa lagi yang Abian cari jika bukan Alina sang istri.
Mata Abian langsung bisa menemukan sosok yang di carinya meski di sebuah kerumunan, karena Alina terlihat begitu menonjol dari setiap para wanita yang hadir di pesta itu.
Abian hendak berjalan untuk menghampiri sang istri, namun tiba-tiba saja teman bisnisnya datang secara tiba-tiba ke arahnya.
"Hay.. Abian!"sapa seseorang yang membuat Abian mengurungkan niatnya untuk menghampiri Alina.
"Hay..!"jawab Abian dengan mata yang terus fokus menatap ke arah Alina yang berada cukup jauh di depan sana.
"Kamu datang kesini sendiri?"kembali teman Abian itu bertanya.
"Aku kesini-."kata-kata Abian terhenti saat melihat Alina di samperin Devan di depan sana.
"Iya aku datang kesini sendiri."ralat Abian dengan wajah yang mulai terlihat kesal.
"Saya pikir kamu akan membawa seorang kekasih ke acara pesta seperti ini."goda teman Abian lagi yang membuat Abian hanya tersenyum masam.
Abian duduk di sebuah kursi sendiri dengan mata yang terus menatap sang istri dari kejauhan.
Terlihat Alina, dan Devan sedang berbincang dengan beberapa tamu undangan yang lain.
Yang membuat Abian tambah kesal di buatnya apalagi terlihat Alina sesekali tertawa kecil.
"Sama orang lain aja bisa ketawa kaya gitu, tapi kenapa kalau sama gue nggak pernah dia tertawa seperti itu."decak Abian kesal.
Dari kejauhan Abian terus mengintai sang istri, hingga Alina terlihat berjalan menjauh dari sana.
"Mau kemana dia?"nanya sama angin dengan mata terus melihat ke arah sang istri pergi.
Saat Alina sedang berjalan tiba-tiba saja..
Bruussh...! Alina terjatuh ke dalam sebuah kolam renang yang berada di acara pesta itu.
Abian langsung berlari untuk menolong sang istri, namun ternyata Abian kalah cepat dengan Devan yang sudah lebih dulu menolong Alina dengan menceburkan dirinya ke dalam kolam itu.
__ADS_1