
Dua hari kemudian, sepulang sekolah Alea hendak ke toko buku. Dia sengaja berjalan kaki menyusuri gang karena toko itu tak jauh dari sekolahnya.
Dengan langkah semangat dia berjalan. Sambil bersenandung lagu kesukaannya.Gang yang dia lalui adalah jalan tikus menuju toko buku itu.
Bugh. Bugh. Bugh.
Terdengar suara tendangan dan pukulan dari arah depan gang itu. Alea mengendap-endap dan bersembunyi di balik tong sampah untuk melihatnya.
Alea memperhatikan mereka. Ada empat remaja pria yang memakai seragam sekolah. Tapi bukan seragam sekolah dari sekolah yang sama dengannya.Sedangkan seorang remaja pria berada di tengah sedang di keroyok oleh ke empat remaja yang lain.
Alea mengenali pria itu,dia tak lain adalah Reihan. Alea bingung harus bagaimana untuk bisa membantunya. Reihan masih bisa menahan keempat remaja yang mengeroyoknya itu untuk sementara waktu.
Demi membantu sesama teman, Alea segera memakai masker di mulutnya dan mencari suara sirine mobil polisi yang selalu dia simpan di ponselnya.
Saat suara itu dia bunyikan, Alea segera berlari ke arah mereka.
"Pak polisi, mereka di sini sedang mengeroyok seseorang!" teriak Alea.
Mendengar sirine mobil polisi. Keempat remaja pria itu ketakutan. Akhirnya mereka berhenti mengeroyok Reihan.
"Kali ini kamu selamat! Lain kali aku pastikan kepalamu akan hancur di tanganku," teriak salah satu dari mereka lalu berlari menjauh.
Alea menghela napas lega pasalnya mereka ternyata mudah untuk di tipu.
" Kamu baik-baik saja?" tanya Alea mendekati Reihan sambil melepas maskernya. Pria itu membersihkan baju dan mengambil tas punggungnya.
"Makasih, tapi lain kali jangan menolong lagi!" ucap Reihan angkuh.
"Kamu ini sombong banget sih!" ucap Alea, dia kesal dan menendang kaleng yang berada di depannya.
Reihan tak memperdulikan gadis itu.
Guk guk guk.
Suara anjing menggonggong begitu dekat dengan mereka. Rupanya kaleng yang tadi telah di tendang Alea mengenai kepala anjing itu.
"Astaga sial sekali hari ini baru bebas dari mereka, malah ada bahaya lagi di depan!" ucap Reihan kesal.
Anjing itu terlihat begitu garang,dia mulai berlari mendekati Alea dan Reihan. Dengan cepat Reihan menarik lengan Alea dan membawanya berlari.
Huh huh huh.
__ADS_1
Keduanya terengah-engah karena lelah berlari. Hingga ke ujung jalan akhirnya anjing itu tak lagi mengejar mereka.
"Akhirnya anjing itu menyerah juga," ucap Alea.
"Iya akhirnya!" imbuh Reihan. Pria itu masih memegang lengan Alea,meski keduanya sudah berhenti berlari.
Saat Alea melihat lengannya baru Reihan melepaskan lengan itu. Keduanya lalu saling menatap dan beberapa menit kemudian mereka tertawa bersama.
"Baru kali ini hidupku seru banget!" ucap Alea setelah lelah tertawa.
"Memangnya kamu tak pernah melihat dunia luar?" tanya Reihan. Alea menggelengkan kepalanya.
"Kedua saudaraku selalu melarangku bergaul dengan pria. Jadi aku hanya sering menghabiskan waktu di dalam rumah atau di tempat latihan saja," jawab Alea. Keduanya kini berjalan beriringan.
"Sungguh kasihan!" ucap Reihan mengejek Alea.
"Sialan!" Alea hendak memukul pria itu. Namun Reihan segera memundurkan diri dan sedikit berlari kecil.
Alea mengejarnya namun saat berlari dia tak berhati-hati dan tersandung oleh sebuah batu.
Reihan yang melihat Alea hendak jatuh segera berusaha menopangnya. Namun karena terlalu dekat malah keduanya jatuh bersama.
"Ka-mu be-rat seka-li!" ucap Reihan.
Alea segera bangkit dari tubuh pria itu dan merapikan bajunya.
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Alea menyesal.
Reihan mencoba berdiri meski punggungnya terasa sakit.
"Udah ayo kita pulang," ucap Reihan. Alea mengangguk paham. Dia akhirnya tak jadi ke toko buku.
Di perjalanan pulang, Reihan membelikan es cream untuk dirinya dan juga Alea. Keduanya menikmati es cream itu sambil bercerita tentang masing-masing. Meski Reihan tak terbiasa dekat dengan perempuan selama ini. Dia mudah berbicara dengan Alea. Itulah yang dia rasakan.
"Ngomong-ngomong kenapa mereka mengeroyokmu?" tanya Alea teringat tentang keempat remaja tadi.
"Mereka hanya musuhku di sekolah sebelumnya," jawab Reihan santai.
"Dasar pria sukanya berantem saja,apa sih hebatnya?" gumam Alea sambil menikmati es cream di tangannya. Mereka kini tengah duduk di kursi dekat tempat parkir.
"Perempuan tidak perlu tahu tentang itu!" jawab Reihan yang mendengar gumaman Alea.
__ADS_1
Hingga sore mereka baru sampai di rumah Alea. Reihan mengantarnya dengan motor sport kesayangannya.
"Makasih udah mengantarku lagi," ucap Alea.
"Ya, ngomong-ngomong gak minta aku buat mampir?" tanya Reihan.
"Nggak, nanti kakakku marah!" jawab Alea.
"Tega!" Reihan pura-pura kesal.
"Udah pulang sana," dorong Alea agar Reihan segera pulang. Alea segera berlari ke rumahnya. Meninggalkan Reihan sendirian.
Pria itu menatap punggung Alea, sejenak dia tersenyum senang. Entah karena apa. Mungkin karena dia bisa memiliki teman baru.
Arkan yang kebetulan sedang berada di balkon kamarnya memperhatikan Alea dan juga Reihan.
"Siapa pria itu?" gumam Arkan sambil memikirkan beberapa teman pria yang dekat dengan adik perempuannya itu.
Reihan yang merasa di perhatikan mencoba mendongak ke atas. Menatap Arkan di balkon itu.
Hanya tatapan tajam diantara keduanya. Setelah itu Reihan memutuskan untuk segera pulang.
Arkan menunggu Alea di depan kamarnya.
"Siapa dia tadi?" tanya Arkan pada Alea saat gadis itu sudah tiba di depan kamar.
"Siapa yang kakak maksud?" tanya Alea.
"Pria yang mengantarmu tadi, siapa dia?" tanya Arkan.
"Oh dia Reihan, teman sekelas ku," jawab Alea.
"Reihan?" gumam Arkan memikirkan nama itu. Nama yang tak asing baginya.
"Iya, udah ya kak, aku mau istirahat. Capek!" Alea meninggalkan kakaknya begitu saja. Dia segera masuk ke dalam kamarnya.
"Reihan," gumam Arkan sambil memegang dagunya.
"Jangan bilang kalau dia Reihan Alzandera? Kalau sampai dia aku tidak akan tinggal diam!" ucap Arkan dengan menahan amarahnya.
Nama yang baginya tidak akan pernah masuk dalam daftar teman bagi saudara perempuannya. Tidak akan pernah dia izinkan.
__ADS_1