Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Sampai Kapan?


__ADS_3

Pagi ini Defin pulang dari kampus dengan langkah tanpa semangat,sedari pagi pun juga begitu, biasanya dia begitu antusias saat kuliah, tapi karena beberapa hari ini dia sengaja menghindari Adel, membuatnya malas untuk ke kampus.


Setelah mengingat kejadian di apartemen wanita itu, Defin kembali kesal, entah motif apa yang membuatnya begitu kesal.


"Def!" teriak Adel dari jauh ke arah Defin.


Tapi pria itu sengaja tak mendengarkannya,dia berjalan melewatinya, Adel menghela nafas panjang karena sikap pria itu, lalu dia mengejar Defin dan meraih lengannya.


"Tunggu aku!" ucap Adel saat keduanya sampai di depan mobil milik Defin, Adel segera masuk ke dalam mobil itu tanpa Defin mengetahui maksud darinya.


"Kamu ngapain di mobil aku?" tanya Defin ketus di luar mobil.


"Udah cepetan masuk, nanti kita bicara di tempat lain!" perintah Adel, Defin terpaksa mengikuti ucapan wanita itu.


Defin lalu masuk dan segera melajukan mobilnya membelah jalanan sore itu, hanya ada diam di antara keduanya di dalam mobil, hingga Adel terpaksa harus memulai obrolan mereka.


"Def, kenapa sih kamu akhir-akhir ini selalu menghindariku?" tanya Adel langsung ke intinya.


"Bukan urusanmu!" jawab Defin dingin dengan masih fokus ke jalanan di depannya.


Hingga di persimpangan jalan masuk ke arah kawasan apartemen Adel, mobil itu terpaksa harus berhenti setelah apa yang di lakukan oleh Adel.


Wanita itu mencium salah satu pipi Defin, membuat pria itu harus menginjak rem secara mendadak.


"Kamu!" Defin tampak terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Adel.


"Kenapa? kurang?" tanya Adel,hal itu membuat pipi Defin memerah seketika.

__ADS_1


"Defin udahan kenapa sih cemburunya?" ucap Adel lagi.


"Siapa yang kamu maksud cemburu? atas dasar apa juga harus cemburu?" ucap Defin sambil sedikit menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah dari tadi.


"Kamu yakin gak cemburu sama kak Aro waktu ke apartemenku?" selidik Adel.


"Kak Aro?" kening Defin berkerut.


"Ya kak Aro, pria yang pernah kamu temui di apartemen milikku, dia itu kakak kandungku yang dulu pernah aku ceritakan ke kamu,cuma dia tak pernah pulang, jadi kamu baru kemarin melihatnya," jelas Adel seketika membuat Defin malu karena telah berprasangka buruk pada wanita di depannya itu.


"Jadi dia bukan kekasihmu?" tanya Defin pelan.


"Kekasih?" Adel tertawa mengucapkan hal itu.


"Defin Defin, bukankah kamu sudah lama mengenalku?" tanya Adel sambil menatap kedua iris mata Defin yang gelap itu.


"Benar juga yang kamu bicarakan, aku memang akan menjadikan seorang pria sebagai kekasihku, sayangnya dia masih belum sadar tentang perasaanku!" ucap Adel membuat Defin sedikit mengkerutkan keningnya sekaligus sedikit kecewa.


"Jadi dia benar-benar sudah memiliki pria yang spesial," batin Defin.


"Def," panggil Adel padanya, pria itu yang sedari tadi fokus melihat ke arah depan, secara reflek menoleh ke arah Adel, tapi kedua matanya melotot sempurna, saat bibir miliknya tak sengaja menyatu dengan bibir mungil milik Adel, jantung keduanya berpacu begitu kencang.


Wanita itu sengaja melakukannya,namun Defin segera menjauhkan wajahnya dari Adel.


"Maaf aku nggak sengaja Del," Defin menjadi canggung karena kejadian tak terduga itu.


"Def sebenarnya aku," Adel tampak malu-malu saat mengatakan hal itu.

__ADS_1


"Sebaiknya aku antar kamu pulang Del," rasa canggung benar-benar menguasai keduanya, di sisi Adel ingin mengatakan hal yang seharusnya Defin katakan, sedangkan di sisi Defin sedang berfikir keras bagaimana mengurangi kecanggungan karena ciuman tak sengaja tadi.


Walau sebenarnya Adel sengaja melakukan hal itu, tapi tanpa Defin sadari apa yang terjadi.


"Baiklah," ucap Adel akhirnya, masih ada sesuatu yang mengganjal hati wanita itu, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Defin.


"Sampai kapan Def?" tanya Adel di dalam hati sambil sesekali menatap wajah tampan pria di sampingnya itu, dia terlihat sempurna di mata Adel.


Sayangnya pria itu bahkan tak peka dengan apa yang ada di dekatnya, dengan kehadiran dirinya.


Mobil Defin sampai di depan apartemen milik Adel, wanita itu membuka pintu mobil untuk segera keluar, namun tangan kekar Defin memegang lengan Adel yang satunya.


"Del," panggil Defin.


"Ya Def kenapa?"


"Em, selamat malam," ucap Defin kikuk, baru kali ini dia merasa secanggung itu di depan sahabatnya itu.


Adel tersenyum, senyum manis yang sekilas membuat jantung Defin berdegup lebih kencang lagi saat menatapnya.


"Selamat malam juga Def," balas Adel lalu melangkah keluar dari mobil Defin, dia juga akhirnya pergi meninggalkan Adel setelah memastikan wanita itu sudah masuk ke area apartemen.


Namun dalam perjalanan pulang, Defin tak bisa berhenti menyentuh bibirnya sembari tersenyum mengingat kejadian tadi.


Ciuman itu masih terasa di bibir Defin, begitu lembutnya bibir milik Adel, meski hanya bersentuhan sesaat.


"Ah aku ini kenapa?" batin Defin menyadari ada hal yang salah dalam pikirannya.

__ADS_1


Dia segera menancapkan kakinya di pedal gas mobil, agar segera sampai di apartemennya,bisa bahaya jika dia berada di dalam mobil namun pikirannya tak berada di sana.


__ADS_2