Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Ditinggal Sendiri


__ADS_3

Bram, Mona dan Liera berjalan cepat ke sebuah rumah yang terletak jauh dari perkotaan. Rumah yang pernah menjadi singgahan Bram ketika dirinya terluka dahulu.


Rumah bambu pinggir hutan itu menjadi tujuan utama Bram kali ini. Dia harus bersembunyi dulu untuk beberapa saat.


Setelah melihat Zelia di toko bunga tempatnya bekerja,Bram langsung saja membawa Mona pergi dari sana. Bersama Liera dia mengajak keduanya ke rumah itu.


"Bram sebenarnya ada apa sih kamu ngajak pindah mendadak seperti ini?" tanya Liera setelah ketiganya sampai di rumah itu.


Pemilik rumah yang dahulu bernama pak Alvan telah pindah mengikuti anaknya di kota. Bram tahu bahwa rumah itu tak di huni, jadi Bram memilih ke sana.


"Tunggu sebentar aku akan menjelaskan setelah menidurkan Mona terlebih dahulu," balas Bram sambil menaruh tubuh Mona ke atas ranjang di salah satu kamar rumah itu.


Setelah selesai,Bram menarik Liera keluar dari kamar.


"Liera,Zelia tadi melihat Mona, dan sepertinya mereka akan segera mencari keberadaan kita. Untuk sementara kita tinggal di sini saja," jelas Bram.


"Bagaimana kalian bisa bertemu?" tanya Liera.


"Aku tak bertemu dengannya, tapi Mona yang bertemu, dia belum tahu jika Mona bersamaku di toko bunga. Pemilik toko itu ternyata teman Zelia."


Liera mulai paham dengan apa yang di jelaskan oleh Bram. Tapi dia tak mengerti kenapa Bram harus bersembunyi. Jika ingin balas dendam seharusnya Bram malah mengancam Zelia dan Andrew untuk bisa mendapatkan anak mereka, Tapi itu tak dilakukan oleh pria itu.


Liera hanya terdiam tak merespon apapun. Dia terpaksa menuruti ucapan Bram tapi jika semua diluar rencana keduanya. Maka Liera akan segera bertindak.


Dia bukan wanita yang punya kesabaran yang lebih. Sudah lama dia ingin menghancurkan hidup Zelia dan Andrew.


Malam yang dingin mereka lalui di dalam rumah yang tak lebar itu. Angin dari luar bisa masuk begitu saja ke dalam rumah. Menambah dinginnya tubuh mereka. Tapi mereka harus tidur untuk melewati malam ini.

__ADS_1


Di pagi harinya, Bram lebih awal bangun untuk pergi ke perkotaan. Dia harus mencari bahan makanan untuk mereka hidup sementara waktu.


Dengan keahlian menyamarnya Bram meminta Liera untuk menjaga Mona selama dia pergi.


Setelah matahari mulai meninggi, Mona yang tidur pulas dari semalam mencari papanya yang tak berada di rumah itu. Sedangkan di dapur tampak Liera sedang membuat sesuatu.


"Ma, papa dimana?" tanya Mona.


"Dia pergi ke hutan mencari makanan," ucap Liera berbohong.


"Kenapa papa nggak ngajak Mona?" gumam Mona.


Liera tiba-tiba tersenyum kecil. Sebuah ide muncul di kepalanya. Senyuman yang penuh makna tersirat di bibir wanita itu.


"Tadi dia bilang kita harus menyusulnya, ayo kita ke sana," ajak Liera.


Setelah sampai cukup jauh dari hutan, Liera dan Mona berhenti di sana.


"Kamu tunggu di sini dulu, nanti papamu ke sini," ucap Liera.


"Mama mau kemana?" tanya Mona sedikit takut.


"Aku mau buang air dulu, kamu tunggu aja disini!" Liera melepas pagutan tangan Mona yang memegangi bajunya.


"Tapi ma?" Mona khawatir jika dirinya akan ditinggalkan oleh Liera.


"Gak ada tapi-tapian, kamu tunggu aja disini!" Liera lalu meninggalkan Mona yang berdiri di bawah sebuah pohon besar.

__ADS_1


Liera yang kembali ke rumah itu hanya tertawa senang bisa melampiaskan dendamnya pada anak Zelia dan Andrew.


"Huh siapa suruh kedua orang tuamu menyakitiku!" batin Liera penuh dengan kebencian.


Mona yang menunggu sendiri dalam hutan mulai ketakutan. Dia memanggil papa dan mamanya. Namun berjam-jam keduanya tak muncul juga untuk menjemput Mona. Hingga gadis kecil itu memutuskan untuk mencari jalan ke rumah kembali.


Meski hutan itu tak jauh dari rumah, namun jalan setapak yang bercabang membuat Mona bingung memilih jalan mana yang sebelumnya dia lalui.


"Papa, Mona takut disini sendirian, Mona nggak tahu jalan pulang," gumam Mona yang mulai tersesat.


Hingga siang berlalu, Bram yang membeli kebutuhan dari perkotaan akhirnya tiba di rumah. Di kedua tangannya ada makanan pokok yang cukup untuk ketiganya selama sebulan.


"Liera dimana Mona?" tanya Bram yang tak mendengar suara Mona setibanya di rumah itu.


"Mana kutahu!" ucap Liera masa bodo. Dengan santainya dia duduk di sebuah kursi dengan mengangkat kakinya.


"Liera, dimana dia!" teriak Bram sambil menyentuh dagu wanita itu.


"Aku bilang kamu pergi ke hutan, mungkin dia menyusulmu ke sana!" Liera kesal dengan cara Bram memperlakukan Mona.


Dia hanya gadis yang akan menerima pembalasan dendamnya. Tapi kenapa pria yang jelas-jelas mencintainya itu rela memperlakukan Mona seistimewa itu.


"Aku gak akan memaafkanmu jika hal buruk sampai terjadi padanya!" bentak Bram yang langsung meninggalkan Liera. Pria itu segera menuju ke dalam hutan untuk mencari dimana putrinya.


"Mona!" panggil Bram beberapa kali, namun belum ada jawaban.


Hingga sore tiba, matahari yang mulai perlahan tenggelam membuat pencahayaan di hutan semakin kurang. Bram mulai dilanda kekhawatiran yang lebih besar lagi.

__ADS_1


"Mona dimana kamu nak!" Bram berjalan ke sana kemari mencari keberadaan Mona. Namun tak segera Bram temukan.


__ADS_2