
Di atas sofa apartemen milik Raffa, Alea tertidur pulas sejak pulang sekolah tadi.
Sedangkan Raffa masih sibuk memasak makan malam mereka di dapur apartemen itu.
"Ugh," Alea menggeliatkan tubuhnya, rasa sakit masih terasa di lututnya yang sedang terluka.
"Dimana aku?" tanyanya pada diri sendiri setelah kedua matanya melebar sempurna.
Alea kebingungan dan segera mendudukkan dirinya. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencoba mencermati tempat yang kini dia singgahi.
"Sudah bangun?" tanya Raffa yang membuat Alea sedikit terkejut karena kedatangan pria itu yang tak mengeluarkan suara langkah sedikitpun sebelumnya.
"Ah kak Raffa, ini jam berapa?" tanya Alea panik.
"Jam delapan malam," ucap Raffa santai.
"Hah udah jam delapan malam, ya ampun pasti kak Arkan bingung nyariin aku!" Alea segera berdiri dan mencari tas sekolahnya.
"Mau kemana?" tanya Raffa sambil memperhatikan Alea yang sedang kebingungan.
"Alea mau pulang kak," jawab Alea sambil meraih sepatunya.
"Jangan pulang dulu, mandi sana abis itu makan!" perintah Raffa.
"Aku mandi di rumah saja kak," jawab Alea.
"Nggak boleh,cepetan ke kamar mandi. Udah malam gak ada taksi,nanti aku antar kamu tapi mandi dulu!" ucap Raffa.
Akhirnya Alea hanya bisa menuruti perintah pria itu.
"Baik kak," jawab Alea sambil berjalan ke kamar mandi.
Sebelum dia benar-benar menutup pintunya,kepala Alea muncul sambil mengatakan sesuatu dengan ragu-ragu.
"Em kak Raffa," panggil Alea.
"Ya kenapa Alea?" jawab Raffa.
"Itu, Alea gak ada baju ganti, boleh pinjam bajunya?" ucap Alea sambil tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Baiklah,aku ambilkan dulu bajuku," Raffa segera ke kamarnya untuk mengambil baju.
Beberapa menit kemudian dia sudah membawa kaos miliknya.
"Alea pakai ini, kayaknya cukup buat kamu," ucap Raffa sambil memberikan bajunya kepada Alea.
"Makasih kak," Alea segera masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Setengah jam kemudian Alea sudah selesai dan berjalan ke meja makan. Di sana Raffa tengah mempersiapkan makan malam mereka.
"Kak Raffa," panggil Alea dari belakang pria itu.
"Udah sele-" ucapan Raffa terhenti saat dia menoleh ke arah Alea. Pria itu tertegun melihat Alea yang memakai bajunya.
Kaos itu terlihat kebesaran di tubuh mungil gadis itu. Tapi panjangnya hanya di atas lutut. Raffa harus menelan salivanya saat melihat bagian paha Alea yang mulus itu.
"Kak!" panggil Alea lagi, menyadarkan pria itu dari lamunannya.
"Eh iya ayo makan dulu," ajak Raffa.
Alea mengangguk dan segera duduk di kursi depan Raffa.
"Ini kakak sendiri yang masak?" tanya Alea tak percaya. Raffa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan itu.
Alea segera menyantap makanan di depannya. Dia mengakui bahwa masakan Raffa lumayan enak di lidah.
Keduanya saling diam, hanya suara sendok dan garpu yang sedang beradu dengan piring.
Tiba-tiba suara bel apartemen itu berbunyi. Raffa segera beranjak untuk membukanya.
"Kak Raffa!" teriak Monic sambil menghampiri Raffa dan memeluknya. Alea yang mendengar suara Monic segera melihat mereka berdua.
Hatinya bagai tersayat pisau saat melihat keduanya berpelukan. Bahkan Raffa hanya diam menerima begitu saja dan tak berusaha melepaskan pelukan Monic.
"Eh ada Alea disini?" ucap Monic saat melihat Alea berdiri tak jauh dari mereka berdua. Monic segera melepaskan pelukannya dan berlari ke arah Alea.
"Monic, Alea disini karena tadi aku yang membawanya, kakinya terluka jadi aku mengobatinya," ucap Raffa menjelaskan agar tak terjadi kesalahpahaman.
"Kenapa bisa terluka Alea?" tanya Monic.
"Itu aku jatuh tadi saat piket kelas," jawab Alea pelan.
Suara seseorang memencet bel pintu membuat ketiganya saling menatap ke arah pintu apartemen itu.
Raffa bergegas membukanya, ternyata di luar pintu itu adalah Arkan.
"Dimana Alea?" tanya Arkan tanpa basa-basi lagi.
"Dia ada di dalam," jawab Raffa,Arkan langsung saja masuk ke dalam apartemen itu.Dia melihat Alea dan Monic di sana. Arkan segera menghampiri keduanya.
"Kak Arkan," panggil Alea.
"Ayo pulang,anak gadis gak baik di tempat pria semalaman," ajak Arkan. Alea mengangguk paham. Lebih baik dirinya segera pulang daripada menyaksikan Monic yang tengah bermanja-manja dengan Raffa.
Setelah mengambil tas sekolah dan seragamnya yang kotor, Alea segera mengikuti kakaknya.
__ADS_1
Arkan melihat Alea dari atas ke bawah. Dia lalu membuka jaketnya.
"Pakai ini, baju itu terlalu pendek!" ucap Arkan sambil menyerahkan jaketnya pada Alea. Gadis itu segera melingkarkan jaket kakaknya di pinggul. Menutupi sebagian pahanya yang tadi terekspos begitu saja.
"Alea tunggu," Raffa mencoba menghentikan gadis itu.
"Ada apa lagi kak," ucap Alea.
"Tentang tadi, aku dan dia tak ada hubungan apapun," jelas Raffa.
"Itu bukan menjadi urusanku kak, kamu bisa bersama siapa saja. Kita tidak ada hubungan apapun. Kenapa harus menjelaskannya?"
"Alea cepat!" Arkan sudah berteriak dari luar pintu.
"Ya kak!"
"Maaf aku harus pulang, baju ini aku kembalikan besok!" pamit Alea. Raffa hanya bisa terdiam melihat Alea melangkah pergi. Ingin sekali dia mendekap tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya. Namun apalah daya mereka seperti di batasi oleh tembok pemisah.
"Kamu suka kan sama dia kak Raffa?" tebak Monic. Raffa baru sadar masih ada Monic di sampingnya.
"Astaga, kenapa belum pulang kamu?" ucap Raffa.
"Jawab dulu! kamu suka kan sama dia?" tanya Monic sekali lagi.
"Iya," jawab Raffa pelan.
"Bagus, aku sebagai adik yang baik akan menolongmu!" ucap Monic dengan penuh percaya diri.
"Udah gak perlu, kamu cepat pulang!" ucap Raffa sambil mendorong Monic keluar dari pintu apartemennya.
"Hei-hei kenapa malah mengusirku, aku belum selesai bicara kak!" protes Monic.
Brak.
Suara pintu di tutup membuat Monic berdecak kesal.
"Dasar kakak jelek. Kalau bukan sepupuku kamu sudah aku tindas dari dulu!" gerutu Monic sambil berjalan ke apartemennya.
Niatnya mau mengajak makan bersama kakak sepupunya itu malah gagal terucapkan.
"Ah sudahlah makan sendiri saja!" tepis Monic tentang rencananya yang gagal.
Sebenarnya Monic adalah sepupu jauh dari Raffa. Hanya saja mereka seperti orang yang berpacaran jika tak tahu status keduanya. Monic terbiasa bertingkah manja pada pria itu. Sedangkan Raffa tak menolaknya. Memang sedari kecil dia sudah sering menemani Monic bermain. Hanya saat mereka sudah dewasa, keduanya menjadi sibuk belajar masing-masing.
Raffa segera mengirim pesan pada Alea. Menjelaskan bahwa dirinya dan Monic hanyalah kakak beradik saja.
"Tunggu kenapa aku harus menjelaskan ini?" gumam Raffa.
__ADS_1
Raffa kembali menghapus pesan itu sebelum dia mengirimkannya pada Alea.
Tanpa di duga sebenarnya Raffa sangat gelisah jika Alea salah paham tentangnya. Pria itu sedikit menaruh harapan bahwa suatu saat dirinya dan Alea bisa bersama. Meski mereka sering bertengkar.