Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Donor


__ADS_3

Happy reading guys 😁


***


"Gimana dok?" jawab mereka bertiga serempak mengagetkan dokter tersebut.


"Gimana kandungan dan Mira dok?" ucap Anza bertanya lagi.


"Alhamdulillah kandungannya baik-baik saja, pasien hanya mengalami luka di kepala, tapi..." ucap dokter tersebut sengaja.


Ternyata dokter itu adalah salah satu sahabat Anza juga, tapi karena dia tadi habis memakai masker dan tidak sempat membuka malah langsung memeriksa Mira, jadi dia tidak di sadari oleh Anza.


"Tapi apa do, Arfa?!" ucap Anza yang tiba-tiba kaget, karena dia baru tau kalau yang di depannya adalah sahabatnya ketika Arfa membuka maskernya di depan Anza.


"Enggak, nggak ada tapi-tapian, dia cuma kekurangan darah saja, ada sedikit masalah yaitu darah yang dia butuhkan tidak ada karena itu darah langka" ucap Arfa tanpa menanggapi keterkejutan Anza.


"Tapi, mungkin ada keluarganya yang bisa mendonorkan" ucap Arfa lagi.


Anza pun tanpa ba-bi-bu langsung mencari tempat enak buat telpon dan mencari kontak Acha (mamanya Mira).


0821-xxxx-xxxx ---> calling.


Ringing.


Sembari menunggu, Anza sudah berjalan mondar-mandir gak jelas sembari menunggu dengan gelisah, karena ia melihat dengan jelas darah yang keluar dari kepala Mira sangat banyak.


Tersambung.


'Akhirnya' ucap Anza membatin ketika telpon sudah tersambung.


"Ada apa Za" ucap Acha di sebrang sana.

__ADS_1


"M,ma" ucap Anza sedikit ragu.


"Ada masalah ma" ucap Anza lagi.


"masalah apa Za, ngomong tuh jangan setengah-setengah" ucap Acha kesal.


"Ma, mama jangan marah yaa nanti. Mama bisa datang ke rumah sakit xxxxxx di ruang UGD nggak?" ucap Anza yakin.


"emang ada apa?" ucap Acha bertanya.


"penting ini ma, jadi mama ke sini dulu, kalo nggak sekalian bawa Faka" ucap Anza dan langsung menutup telpon agar tidak di tanya lagi.


Acha pun langsung berjalan ke tempat latihan, karena Faka sedang asyik latihan.


"Ka, yuk" ucap Acha yang langsung menarik tangan Faka.


Faka pun hanya mengikuti dan langsung menaruh alat latihannya dengan asal karena mamanya menariknya.


Faka duduk di kursi kemudi, karena mamanya tidak memanggil sopir itu pertanda bahwa Acha tidak ingin memakai sopir untuk saat ini.


Faka pun mulai menatap ke samping dan menatap mamanya.


"Ma, mau ke mana?" ucap Faka bertanya.


"Ke rumah sakit xxxxxx" ucap Acha.


"Rumah sakit milik papanya Anza?" ucap Faka bertanya lagi.


"Iya, udah jangan banyak tanya lagi!" ucap Acha tegas.


Faka pun diam dan mulai mengemudikan mobilnya keluar dari gerbang mension besar itu.

__ADS_1


Faka berjalan santai sesuai rata-rata, tapi akhirnya Acha buka suara dan bilang ke Faka agar mencepatkan laju mobilnya.


Dari rumah Faka memang dekat, tapi Acha tetap meminta agar lebih cepat, sehingga Faka mencepatkan laju mobilnya.


Akhirnya dua orang itu sampai dan Faka sedang mencari parkiran untuk mobilnya.


Sedangkan Acha, Acha langsung keluar di depan lobi rumah sakit sesuai permintaannya dan langsung berjalan cepat entah ke mana.


Faka akhirnya sudah memarkirkan mobilnya dan berdiri di lobi rumah sakit dengan bingung, karena mamanya tidak memberi tau mau ke ruang apa.


Faka pun memutuskan untuk menelpon mamanya.


"Ruang UGD" ucap Acha ketika telpon tersambung dan langsung mematikan telponnya, padahal Faka belum berbicara apa-apa.


Faka pun berjalan ke ruang UGD.


Sedangkan Acha langsung memberondong Anza dengan pertanyaan dan Anza menceritakan dengan singkat, padat, dan jelas.


Akhirnya Acha langsung mau mengetes darahnya.


Saat Faka sampai di depan ruang UGD.


Jeng, jeng


Faka hanya melihat satu sosok manusia yang sedang duduk.


Faka pun memutuskan untuk duduk juga dan menunggu.


'Siapa tau nanti mama balik' ucap Faka membatin.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2