
Pagi-pagi Zelia tampak cemberut, dia merasa tak rela harus melepas Andrew pergi ke luar negeri hari ini.
"Sayang jangan cemberut dong," ucap Andrew sambil mencubit pipi istrinya.
"Bagaimana kalau aku kangen kamu?" tanya Zelia sambil bergaya merajuk, sangat menggemaskan di mata Andrew saat ini.
Andrew malah tertawa kecil melihat aksi istrinya barusan.
"Sayang kita kan bisa video call an, aku janji sampai di sana langsung meneleponmu," janji Andrew.
Zelia hanya bisa menghela napas panjang, dia tahu tak boleh membuat suaminya khawatir.
"Baiklah tapi kamu harus berhati-hati," balas Zelia.
"Tentu saja, jaga bayi kecil kita baik-baik ya sayang."
Andrew mencium perut Zelia yang sudah sedikit membuncit.
"Sayang papa kerja dulu, jaga mama baik-baik ya," bisiknya pada perut Zelia.
Zelia tertawa geli mendengar Andrew berbicara pada anak mereka yang masih di dalam perut itu.
Akhirnya Andrew berangkat ke bandara,di sana Liera sudah menunggunya.
"Bagaimana berkas-berkasnya Liera,sudah siap semua?" tanya Andrew saat bertemu Liera di bandara.
"Sudah pak, sudah siap," balas Liera.
Dari wajahnya tampak begitu bahagia dengan keberadaan Andrew di dekatnya. Liera merasa ini sebuah keberuntungan yang sedang memihak kepadanya.
__ADS_1
"Oh ya lain kali kalau pergi karena urusan pekerjaan tolong jaga pakaianmu," Andrew mencoba memperingatkan Liera karena sebagai wanita harus menjaga apa yang dimiliki untuk suaminya kelak.
"Maaf pak, saya akan memperhatikan itu," jawab Liera.
Memang kali ini dia memakai pakaian yang sedikit terbuka, mempertontonkan sebagian kulit pahanya yang mulus. Namun itu membuat Andrew sedikit risih.
Liera pikir akan membuat bosnya itu senang, tapi sepertinya Andrew menjaga matanya demi sang istri.
Hanya ada hening di antara keduanya sampai mereka melakukan penerbangan dan tiba di tujuan beberapa jam kemudian.
"Aku sudah memesan dua kamar di hotel ini, kamu bisa urus dahulu Liera," pinta Andrew.
Liera mengangguk dan segera mengurusnya, mereka kini berada di sebuah hotel. Salah satu hotel milik keluarga Tan.
Andrew yang sudah berada di kamarnya ingin segera menelepon Zelia memberitahukan bahwa dia telah sampai dengan selamat.
"Astaga pagi tadi lupa mengisi dayanya," gerutu Andrew.
Dia memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum mengurus beberapa perusahaannya di sana.
Perjalanan jauh membuatnya sedikit lelah.
Di dalam kamar Liera, dia tampak gelisah memikirkan bagaimana bisa lebih dekat dengan bosnya. Saat ini adalah kesempatan bagus untuk merebut hati Andrew.
"Apa boleh buat nanti malam aku harus melakukan hal itu," rencana Liera penuh dengan rahasia.
Dia harus melakukan hal itu, demi posisi yang dia inginkan.
Berada di samping Andrew untuk selamanya. Pikiran wanita itu sudah di penuhi dengan cinta buta.
__ADS_1
Membutakan mata dan batinnya, bahkan sekedar membedakan yang mana benar dan salah dia tak bisa lagi.
Sore harinya Andrew dan Liera yang baru selesai mengurus pekerjaan mereka kembali ke hotel.
Andrew memutuskan untuk makan malam di hotel saja bersama Liera. Setelah selesai menghubungi Zelia. Hati Andrew yang dipenuhi rindu akhirnya sedikit terobati.
Kini keduanya sedang berada di restoran hotel itu. Liera tak berhentinya tersenyum membayangkan apa yang akan dia lakukan pada pria di depannya itu.
Setelah selesai makan malam, Andrew merasa kepalanya sedikit pusing. Liera yang mengetahui hal itu mencoba mendekati Andrew.
"Pak Andrew anda baik-baik saja?" tanya Liera.
"Em aku sedikit pusing," balas Andrew, dia tampak berjalan sempoyongan di koridor menuju kamarnya.
Liera mencoba memapah Andrew dengan alasan takut terjadi sesuatu pada bosnya itu.
"Saya bantu bapak ke kamar ya," tawar Liera pada Andrew.
"Terima kasih Liera," balas Andrew meraih pundak Liera karena keseimbangannya semakin tak beraturan.
Liera dan Andrew berjalan ke arah kamar Andrew, Liera membantu bosnya membaringkan tubuh pria itu yang sudah tak sadarkan diri.
Senyum penuh arti terukir di bibir Liera. Dia memperhatikan setiap jengkal wajah pria di hadapannya itu.
Menjelajahi dengan telunjuk jarinya. Wajah yang sempurna dengan kulit yang putih terawat.
"Kenapa kamu begitu sempurna seperti ini," gumam Liera.
Dan pertunjukan segera di mulai.Senyum jahat mulai mendominasi wajah wanita itu.
__ADS_1